Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
6. Surat dari Ayah


__ADS_3

For Nickle Amanda


...Putriku tercinta__Ayah mengaku tulus jika ayah sangat mencintaimu melebihi siapapun di dunia ini. Tetapi permintaanmu kali ini benar-benar mengejutkanku, jadi aku memutuskan untuk mengirimkanmu ke Indonesia. Ayah memiliki rekan yang baik, tapi dia sepertinya menolak untuk bertemu langsung denganmu. Tenang karena dia bersedia membantu dari jauh. Berbahagialah anakku dan jadilah wanita kuat seperti yang kau inginkan. ...


^^^From Your Father^^^


^^^ [Nikle Havard Sharga] ^^^


-Amanda POV-


Aku tidak menyangka jika ayah memiliki niat untuk mengabulkan permintaanku, terkadang rasanya aneh menerima semua pemberian ayah. Dia orang yang sangat berhati-hati berbeda dengan novel yang kubuat, aku sebenarnya masih merasa bingung dengan kehidupan kedua ini. Tubuhku sungguh berbeda dengan yang sebelumnya, sedangkan aku tidak pernah mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan reinkarnasi.


"Nona muda? Anda baik-baik saja?" Tanya Liana tampak khawatir padaku.


"Tidak apa-apa Liana, aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak terlalu penting." Ungkapku sedikit memijat keningku.


"Tidak perlu memikirkan apapun lagi dan nona harus terbiasa berbicara dengan saya menggunakan bahasa Indonesia." Liana tampak bahagia mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Inggris, aku jadi ikut senang.


"Iya Liana, tapi coba kamu ngomong langsung Amanda jangan pakai embel-embel nona muda, bisa?"


"Tentu saja, tapi bila kita sudah sampai di tempat tujuan saja ya, nona muda." Balas Liana santai.


Aku merasa sudah lama meninggalkan kediaman keluarga Nikle, tak terasa tinggal sehari perjalananku menuju wilayah menyejukkan itu. Wilayah yang penuh dengan penduduk berkulit sawo matang, aku tidak sabar untuk berteman dengan orang-orang itu karena sebelum aku hidup sebagai Amanda, aku punya mimpi untuk tinggal di negara tropis.


___


"Hallo, perkenalkan saya N. Amanda. Saya berasal dari Kanada, sebenarnya saya hanya melewatkan beberapa tahun di Kanada. Sebelumnya saya tinggal di Busan, Korea Selatan. Mohon bantuannya semua." Jantungku berdegup kencang ketika mengucapkan perkenalkan di depan anak banyak, padahal aku sudah biasa di depan banyak orang dewasa.


"Baiklah, selamat belajar. Silahkan duduk di bangku pojok ya." Ucap guru memberikan petunjuk untuk segera duduk.


Aku heran dengan sikap anak-anak yang tampak seperti baru pertama kali melihat orang luar, dan anehnya aku langsung duduk di depan. Biasanya anak baru akan duduk di bangku belakang karena bangku depan penuh, tetapi kali ini bangku depan yang kosong.


'Mungkin aku terlalu banyak lihat film drama. Tapi ada kok yang kaya gini, kayaknya memang tergantung sekolah.'


Sebenarnya standar pendidikan di negari ini tidak sebagus standar pendidikan di Amerika, tetapi karena kenalan ayah tinggal di negeri ini jadi aku hanya mengikutinya. Padahal aku membayangkan sekolah di dekat kediaman Nikle pasti menyenangkan, tetapi seharusnya aku bersyukur karena permintaan rumitku diterima. Semoga saja ini adalah hal yang baik untukku.


"Kau sudah ada buku catatan?" Tanya teman di sampingku, itu sedikit mengejutkanku yang masing diam mencoba beradaptasi.


"Oh, iya aku sudah menyiapkannya dari malam. Terimakasih sudah mengingatkanku. Pelajaran kan sudah mau dimulai, harusnya cepat-cepat aku keluarkan buku-buku ini. Aku malah bengong kayak orang bodoh." Ucapku sedikit kaku karena melakukan kesalahan.

__ADS_1


*kata bercetak miring menggunakan bahasa Inggris.


"Sama-sama, kau tidak melakukan kesalahan jadi tenang saja." Ungkapnya membuatku sedikit terkejut.


'Sepertinya ia bisa berbahasa asing?' Batinku sedikit meragukannya.


"Baiklah aku harus semangat karena ini hari pertamaku." Gumamku penuh semangat.


"Ini tidak sesulit pelajaran luar negeri jadi kau pasti bisa." Ungkap bocah laki-laki di sampingku seraya menulis di buku catatannya.


'Dia benar-benar bisa bahasa asing.' Batinku tersenyum.


Nyatanya ini tidak semudah itu karena kemampuan bahasaku masih belum mantap, disaat murid-murid lain mendapatkan nilai diatas (9+) aku hanya mendapatkan nilai (8-). Ini benar-benar memalukan bagiku meskipun hanya pada mata pelajaran bahasa daerah.


'ARHGGH PAYAH! PADAHAL KEMARIN AKU BELAJAR BANYAK KOSA KATA DAN AKSARA!' Batinku sedikit sedih.


"Baik, sekarang waktunya istirahat." Ucap guru bahasa daerahku.


"Terimakasih Bu." Ucap seluruh siswa-siswi kelas.


Aku masih merasa sedih dengan nilaiku. Tetapi tiba-tiba banyak anak perempuan yang mengelilingiku.


"H-halo, hehe-" Balasku sedikit gugup karena ini pertama kalinya aku mendapatkan sapaan yang begitu antusias.


Sapaan biasanya...


Orang : Selamat malam Nikle Amanda, anda tampak menawan malam ini. Saya (nama+marga).


Amanda : Terimakasih, anda juga terlihat menawan malam ini nona (marga). (Tuan/Nyonya+marga)


Orang : Hoho~ ini pertama kali kita bertemu secara langsung, saya merasa beruntung mendatangi pesta malam ini. Oh bagaimana acara malam ini, apa anda menikmatinya?


Amanda : Tentu saja, pestanya sangat meriah. Saya merasa terhormat dapat menghadiri acara yang digelar oleh nona (marga), anda pasti bekerja keras.


Dan obrolan membosankan lainnya terus berlanjut hingga pesta berakhir...


"Amanda kulihat kamu pintar banget ya! Tadi kulihat matematika hingga pelajaran sejarah kau dapat nilai tertinggi padahal orang luar loh.. keren." Puji salah seorang anak yang membuatku sedikit malu.


"Terimakasih, tapi aku lemah dalam pelajaran bahasa daerah. Kalian lebih keren, karena bisa mempelajari aksara yang rumit juga bahasa daerah yang berbeda dengan bahasa yang kupelajari." Balasku berusaha mengikuti alur obrolan mereka.

__ADS_1


"WUAHH, baru kali ini aku melihat mata biru seperti itu. Rambutmu juga! Apa ini pakai cat rambut?" Tanya salah satu dari mereka yang membuatku sedikit terkejut.


"Oh ini asli, kakakku bahkan memiliki warna rambut seputih salju." Balasku membuat mata mereka berbinar.


Aku merespon pertanyaan mereka satu persatu, tanpa sadar aku kehilangan banyak masa istirahatku. Sebenarnya aku ingin memakan bekal milikku tetapi tidak enak jika harus meninggalkan obrolan dengan tiba-tiba.


(Brak!)


"Oh- Ketua kelas?"


Suara pukulan meja itu terdengar penuh kemarahan, anak pertama yang mengajakku berbicara ternyata adalah ketua kelas. Dia mengarah ke arahku lalu memegang tanganku.


"Dia ini butuh istirahat dan kemampuan bahasanya juga masih belum baik jadi biarkan dia belajar dan makan dengan baik, jangan biarkan anak orang mati karena kalian mengajaknya bicara terus dong.. paham?" Ungkap anak itu yang langsung dibalas anggukan kecil dari anak-anak perempuan.


"Ayo pergi, ambil apa yang perlu kau bawa." Ajaknya melepas genggaman tangannya.


Aku yang lelah pun mengikuti petunjuknya, bagaimanapun dia menyelamatkanku dari para gadis yang menyeramkan. Meskipun ia juga menyeramkan.


"Aku hanya bawa bekal saja." Ungkapku berharap petunjuk selanjutnya.


"Yaiyalah, istirahat pasti bawa bekal. Kalau bawa tas, mau bolos?" Balasnya dingin membuatku sedikit heran dengan sikapnya.


"Sudahlah ayo."


Sekali lagi tangannya meraih tanganku, dengan perasaan bingung aku mengikutinya. Mataku sedikit melirik wajahnya yang memiliki mata tajam dan wajah bersih yang tampan, batinku pun bertanya-tanya kenapa anak tampan seperti ini memiliki sikap yang buruk? Terlebih ia adalah ketua kelas?


"Kita hampir sampai, oh jika nanti membuka pintu pastikan untuk mengikat tali sepatumu karena pintunya suka sekali menarik tali sepatu yang terlepas." Ungkapnya membuatku mengangguk paham meskipun kurang mengerti.


Kami akhirnya sampai di tempat horor (?) Ini terlihat seperti tangga menuju lantai yang lebih tinggi, padahal jelas-jelas disitu menunjukkan tali larangan masuk tetapi anak ini masih saja menerobos masuk.


"Apakah ini baik-baik saja?" Tanyaku yang tidak mendapatkan respon darinya.


(Crekk!)


Pintu tua berkarat itu terbuka, aku yang takut hanya bisa menutup mata.


Bersambung


・⁠ω⁠・☞ "Please Vote and Coment🌟"

__ADS_1


^^^-Thx^^^


__ADS_2