Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
3¹ Kenangan Berlinang Air Mata II


__ADS_3

..."Kamu bilang nanti saja, besok saja, lima menit sampai sepuluh menit lagi. Apakah kamu bisa mengatur waktu bahkan satu detik sebelumnya?"...


Ramalan cuaca menyatakan jika hari ini cerah, namun awan gelap menyatakan hal yang bertentangan. Amanda tengah menyikat lantai kamar mandi sebagai rutinitas dua hari sekali setelah pulang sekolah pun mengutuk dirinya yang dengan bodohnya memasukan bajunya ke mesin cuci.


"Duh, aku kok bisa-bisanya masukin baju ke mesin cuci sih?" Gumam Amanda kesal.


Karena terlalu marah, ia tidak sengaja menggosok bagian WC terlalu kencang hingga tangannya tergores pinggiran pintu duduknya.


"Aduh.."


Amanda refleks menekan luka lalu mencucinya dengan air mengalir, lalu meninggalkan pekerjaannya. Bibi yang melihatnya terluka pun berusaha untuk mengobatinya, seharusnya itu adalah tugasnya yang malah dikerjakan oleh Amanda. Amanda meringis kesakitan sesaat saat diberi alkohol, dan ia pun menuruti bibi yang bersikeras menyuruhnya untuk istirahat saja.


Amanda termenung di depan pintu halaman belakang rumahnya, ia memandang langit-langit gelap yang menyelimuti senja. Seharusnya hari ini ia bisa melihat langit jingga kesukaannya, tetapi malah terhalang langit gelap yang sepertinya akan menyebabkan banyak petir di malam hari.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja.." Gumam Amanda penuh harap, karena ia merasa ada yang aneh dengannya hari ini.


(Ting~)


Suara pesanan dari luar pun membuatnya terkejut padahal ia dan bibi tidak memesan apapun, pamannya Jeon juga tidak pernah mengirimkan apapun setelah dinas di Amerika selain pesan lewat KakaoTalk. Amanda menyuruh bibinya untuk tetap diam, pada saat ia membuka pintu terlihat kotak paket dari Jeon dan Alan yang datang secara bersamaan.


"Apa ini kebetulan?"


Terdapat tulisan dari siapa paket ini dikirimkan. Setelah sekian lama tak mendapatkan apapun kecuali hari ulang tahunnya, akhirnya..


'Tunggu dulu..'


"Aku? Ulang tahun? Masa! Gak percaya!" Ucap Amanda kegirangan mendapatkan pesan selamat ulang tahun dari dalam kadonya.


Ia dengan bahagia membuka satu persatu bungkusan yang berlapis-lapis, seperti biasa untuk Tuan Jeon yang akan memberikan hadiah dengan bungkusan berlapis demi keamanan.


"Wah.. ini kalung berbentuk kerang, lucunya.."


Setelah sekian lama Amanda yang selalu mendapatkan hadiah uang akhirnya mendapatkan barang yang dapat dipakai dengan sepucuk surat di sampingnya. Amanda yang penasaran pun membacanya dengan suara pelan.


"..dari Jeon untuk putri Amanda, ini hadiah dari aku meskipun si Liam kakakmu ikut campur. Tapi aku hanya menulis namaku, minta uang saja pada kakakmu huh! Jadilah pribadi yang lebih kuat ya..."


'Wah paman benar-benar keren! Aku terharu... Tunggu dulu, tulisan kecil ini..'


".. ermm, Jangan lupa hasilkan banyak uang..??"

__ADS_1


Amanda yang semula terharu akhirnya menyingkirkan kado Jeon dari hadapannya dan beralih pada kado Alan. Berbeda dengan kakaknya, ia terlihat lebih simpel dan rapih. Mungkin karena jarak yang masih satu negara, tetapi Amanda tidak peduli. Ia membuka dua lapis kertas kado dan satu bungkus kardus, akhirnya ia melihat satu hadiah yaitu jam tangan.


"Wahhhh.. tau aja kalau aku lagi perlu jam tangan setelah memecahkan sepuluh jam tangan akhir-akhir ini." Ucap Amanda tersenyum bahagia saat mencoba jam tangannya.


Amanda yang tidak sabaran pun memberikan pesan kepada Alan dan pamannya untuk ucapan terimakasih.


("Alan, terimakasih banyak atas hadiahnya! Aku akan menjaganya dengan baik. Tapi kalau jam tangan sepertinya aku akan menghancurkannya dengan cepat hehe~ ayo cepat pulang ke rumahku dan ucapkan selamat ulang tahun padaku.")


Amanda tersenyum senang saat mendapatkan balasan singkat dari Alan.


"Kalau rusak aku beli lagi, katanya? Hehe, seenaknya saja, eh tapi aku juga sih hehe.. pokoknya ini harus kujaga baik-baik."


Amanda mulai merapihkan sampah yang berserakan, dan menyapu lantai. Bibi yang melihatnya membereskan lantai pun berusaha menghentikannya karena tangan yang terluka, Amanda yang keras kepala menolak karena ia akan membereskan kekacauan yang ia buat. Bibi yang melihatnya akhirnya menyerah tetapi tetap mengawasi setiap pergerakan Amanda, ia takut akan terjadi sesuatu pada nona kecilnya.


Di sisi lain di tempat Alan berada, ia tengah menikmati olahraga sebelum jam lima sore.


"Masih ada waktu tiga jam lagi sebelum mengambil kue dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk sahabatku hehe... Harusnya kita bisa berkumpul dengan anak-anak tapi mereka malah sibuk di belahan dunia lain huh.." Ucap Alan sembari menghela nafas panjang.


Ia melakukan push up, sit up beberapa kali dan berlari-lari mengelilingi taman di dekat perumahannya. Banyak mata yang memandang keindahan sesaat itu, tinggi Alan yang hampir mencapai 185 tak heran membuat orang-orang terpaku. Jiwa muda yang tidak kenal lelah terlukis di wajah tampan penuh kharisma itu, berapa kali ia menolak wanita yang meminta kontaknya. Sampai sepasang kekasih tak tenang karena pacarnya menganggumi orang lain melebihi pacar mereka sendiri.


"Malaikat dari mana tuch.."


"Dia nolak tapi tetep sopan.."


"Kenapa ada orang baik seperti dia sih?.."


Beberapa bisikan-bisikan yang terdengar jelas itu sudah biasa Alan dengar, tetapi ia selalu merasa lebih baik jika Amanda menemaninya karena ia selalu dilindungi bahkan tidak ada yang mendekat jika ada Amanda.


'Kalau dipikir-pikir ia bahkan pernah menjadi juara karate tingkat internasional, ia petarung sejati karena ia pertama kali bertengkar dengan anak jalanan huhu~' Batin Alan sedikit tersenyum.


"Pftt.. aku jadi tidak sabar bertemu dengannya meskipun hujan badai menerpa tubuhku, semoga hari ini dia tidak terkena badai."


Disaat ia tengah menikmati udara segar, matanya terpaku pada nenek tua yang sedang berjualan pernak-pernik. Ia tertarik, dengan cepat mendatanginya dan membeli gelang yang bertuliskan AA.


"Terimakasih nek, saya akan menghadiahkannya pada teman saya~" Tulus Alan yang direspon senyuman dari nenek itu.


"Tolong jangan terlalu berharap, doakan saja temanmu supaya bahagia." Ucap nenek itu disela senyumannya.


"Apa maksudnya nek?" Tanya Alan yang sedikit bingung.

__ADS_1


"Maksudnya jangan terlalu banyak menaruh beban pada harapanmu karena kamu bahkan tidak tahu kapan kamu akan mati, jadi lakukan seadanya saja dan pilih mana yang dapat kamu nikmati tanpa membuat janji yang pada akhirnya terbengkalai.."


Biasanya jika ada orang aneh yang berucap demikian terutama kepada anak-anak muda, tentunya mereka akan menghindari atau meninggalkannya karena tidak percaya. Tapi Alan yang mendapatkan penuturan seperti itu membalasnya dengan senyuman.


"Iya, saya tahu. Tapi saya sudah terlanjur membuat janji, jadi jika saya tidak bisa menempatinya mungkin jiwa yang tidak tenang ini akan menunggu dirinya ikhlas dan melepaskannya. Tapi aku akan berusaha kok nek.." Ucap Alan yang dibalas anggukan kecil dari nenek itu.


"Baiklah, itu pilihanmu. Jangan lupa kalau manusia itu kalau hancur bisa sangat hancur hingga menjadi debu begitupun sebaliknya, jika mereka berjaya bisa sangat berjaya sampai-sampai hilang akalnya. Buat wasiat sebelum janji besarmu nak, jangan lupa bersyukur." Ucap nenek itu yang dibalas anggukan kecil dari Alan.


Alan menghabiskan waktunya lalu izin pergi sebelum matahari benar-benar tenggelam. Di rumah Amanda menunggu dengan ponsel di depannya, tampilannya sudah rapih di ruangan yang nyaman. Disaat ia tengah bermain game, tiba-tiba ponselnya berdering pertanda pesan masuk.


"Waw, kenapa Alan kirim pesan."


'Untuk temanku Enna alias kak Nikle, jangan marah kalau aku terlambat ya. Nanti kalau sewaktu-waktu aku ada problem tolong dimaklumi ya, kan sudah kukasih hadiah. Jangan terlalu menunggu aku okey.'


"Dih apaan sih, tumben banget gini. Biasanya tengkar... Enaknya jawab apa ya?" Gumam Amanda setelah membaca pesan aneh dari sahabatnya itu.


("Oke, kan kamu gak janji. Tapi kalau bisa datang ya.")


Tanpa Amanda ketahui, jawabannya membuat Alan tenang dan tersenyum.


__________


Nama : Matler Andrew


Umur : 16 tahun


Status : Pelajar


Orang tua : (Meninggal)


Wali : Jeon Victoria (Kakak jauh)


Kematian : 11 Juli 2xxx


Akibat : Kecelakaan lampu merah


Pukul : 19.38


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2