
Sederet kata yang dikatakan membuat telinga seseorang menjadi membeku, bahkan tubuhnya hanya diam menerima satu kata tegas dari seorang gadis cantik penuh keyakinan di depannya.
"Tidak."
Tanpa ragu ia menjawab ungkapan suka dari seorang laki-laki tampan di depannya, ia tersenyum pahit menangkap respon dingin dari Misako. Gadis yang sudah lama ditaksir itu ternyata tidak pernah memperhatikan hubungan yang serius, tembok besar seakan terpasang membatasi perasaan mereka. Mulut Tanaka membeku, ia tak dapat mengatakan apapun lagi.
"Maaf Tanaka-san, aku bukan tipe yang mau hubungan main-main seperti pacaran. Aku juga punya banyak alasan mengapa aku tidak ingin." Ucapan Misako langsung disela oleh Tanaka.
"Aku berjanji akan membahagiakanmu bahkan untuk menikahimu adalah hal yang mudah, setelah kuliah! Setidaknya tunggu aku setelah kuliah, nanti aku akan berjuang untuk bisa menjadi seorang dokter. Kumohon.." Pinta Tanaka menatap dengan wajah memelas.
Misako masih tidak bergeming, ia terdiam sejenak lalu mengucapkan kalimat penolakan dengan lembut. "Maafkan aku Tanaka-san, aku tidak bisa. Lagipula aku tidak bisa menikah dengan seseorang yang berbeda keyakinan denganku, kak aku tidak ingin terlibat hubungan romantis."
Tanaka hanya tersenyum pasrah, ia mundur perlahan lalu duduk di dekat pohon bunga sakura. Misako melihatnya tanpa ekspresi, meskipun tampak tidak peduli namun hatinya khawatir pada Tanaka. Misako menundukkan kepalanya agar sejajar dengan tatapan Tanaka.
"Aku tidak sesempurna itu Tanaka-san, kuyakin kamu pasti bisa mencari yang lebih sempurna dari aku. Setelah ini aku tidak masalah dengan perlakuanmu asal tidak membahayakanku, tolong anggap semuannya seperti mau mu Tanaka-san. Dah, aku harus pulang." Ucap Misako meninggalkan Tanaka yang masih diam membatu.
Misako berjalan menuruni beberapa anak tangga, pada pijakan terakhir ia berhenti lalu duduk. Kedua tangannya menutupi wajahnya, ia mengigit bawah bibirnya dengan kaki yang gelisah. Misako tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan dari kakak senior yang sudah banyak membantunya, ia merasa hubungan mereka akan merenggang karena hal ini.
"Padahal aku lagi kesepian..." Gumam Misako, raut wajahnya sedih.
Misako mengontrol nafasnya yang memburu karena gugup, sebenarnya menolak seseorang bukanlah hal yang mudah. Terlebih saat engkau ingin dia tak sakit hati dengan perkataanmu. Misako bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Semoga aku tidak berlebihan..."
Sementara itu Tanaka yang masih membeku pun menundukkan kepalanya menghadap tanah, bunga sakura yang indah itu benar-benar berbeda dengan suasana hatinya saat ini. Ia merasakan sakit yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, padahal dirinya pernah menolak gadis tetapi hatinya tidak terima dengan penolakan Misako. Membayangkan wajah Misako membuatnya sedih, betapa tegasnya Misako saat menolak perasaannya, meskipun kata-katanya tertata rapih tetapi nadanya penuh keyakinan.
"Hanya kau perempuan yang kuinginkan, tapi kalau itu keinginanmu maka aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Tanaka memandang pohon sakura yang mulai menjatuhkan bungannya dengan tatapan lemah, ia merasa putus asa dengan cinta pertamanya. Tanaka yang tidak pernah jatuh cinta kepada orang lain pada akhirnya jatuh cinta namun ternyata mereka bukan takdir yang terikat, meskipun demikian hati Tanaka masih terpaku dengan beberapa harapan.
__ADS_1
...__________...
Hotel Shindong's adalah salah satu hotel terbaik di Tokyo, banyak orang-orang kaya yang berlabuh satu-dua malam di tempat itu karena tempatnya yang mahal. Berbagai pelayanan tersedia, bahkan tempat rahasia di bawah tanah pun tersedia. Malam ini Liam berniat untuk menginap beberapa hari sebelum berangkat ke Seoul, ia ingin mengawasi adiknya dari jauh karena matanya masih ragu memandang wajah adiknya. Ia membayangkan adiknya menangis atau kecewa dengannya yang masih tidak bisa menceritakan keadaannya kepada orang lain.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 19.00 PM, Liam sudah merebahkan dirinya di atas kasur. Selama beberapa waktu ia tidak tidur ditambah ia harus mengunjungi tempat adiknya, meskipun ia sempat tidur di rumah sang adik tetapi ia berpikir untuk tidur lebih lama di hotel. Akhir-akhir ini mimpi buruk menerpanya serta menelan pikirannya, ia tidak sanggup pergi tidur dan akhirnya menghabiskan waktunya untuk bekerja. Mengetahui di sekitar Tokyo ia bisa tidur membuatnya lega dan ingin tidur lebih banyak.
"Aku mengantuk..."
Mata Liam terpejam, sesaat semuannya terasa gelap dan sunyi. Sesuatu layaknya jarum berjalan kearahnya, menusuk pandangannya meskipun rasanya tidak sakit pada fisik namun matanya terasa berat.
"T-tidak..."
Liam memandangi sesosok mahluk yang hendak menghancurkan ayahnya dari belakang , kakinya ingin berlari menghalangi mahluk itu namun tubuhnya tertahan. Mata Liam bergelimang air mata, pipinya yang basah dengan ekspresi putus asa.
"T-tidak ayah..."
"TIDAK!"
Liam melepas genggaman hitam yang melekat pada kakinya lalu menuju kearah ayahnya berada, ia memeluknya.
"Tidak ayah, Amanda masih membutuhkanmu..."
Dia menangis tersedu-sedu, namun saat itu juga latar menjadi gelap dan ayahnya menghilang dari tangannya. Hanya darah yang berceceran di tangannya, ia melihat kesana-kemari dengan wajah kebingungan.
["Aku membencimu! "]
Terdengar suara dari luar yang tidak diketahui asal-usulnya. Tapi ia yakin itu suara perempuan.
[" Anak ini membuat kita terkena sial! Aku tidak ingin melahirkannya."]
__ADS_1
["Sayang, kumohon lahirkan anak kita."]
"Ayah..."
Beberapa kali suara-suara pertengkaran yang ada membuat Liam merasa pening dan akhirnya memilih kabur dari mimpi itu. Ia merasa hampa dan tidak percaya pada mimpi itu, ia pikir semuannya salah ayahnya, ia pikir hanya ibunya yang memerhatikannya, ia pikir semuannya akan baik-baik saja ketika ayahnya meninggal dunia.
"Kenapa ini terjadi padaku hiks.. aku tersiksa.."
Tiba-tiba latar berubah lagi menjadi lebih nyata, tempat itu menjadi hamparan bunga sakura. Liam masih tidak berani menatap apapun karena perasaan takut yang menyulut hatinya, saat itu seorang wanita meraih pundaknya lembut. Ia menuturkan beberapa kata dengan lemah lembut layaknya seorang ibu.
"Liam... Tolong jaga anakku ya, jangan sakiti dia dan peluklah dia jika kesepian. Dia anak yang baik, dia bisa menjadi jahat pada dirinya sendiri. Kumohon jangan biarkan dia kesakitan lagi, Liam..."
Meskipun wanita itu sudah mengungkapkannya, Liam masih ragu menatap wajah itu.
"Peluklah dia di waktu kamu ketakutan, jelaskan apa masalah yang kamu alami. Kuyakin dia akan mengerti dan menemanimu hingga tenang... Apa kamu akan terus menunduk? Apa kamu tidak penasaran siapa anak itu?"
Perlahan Liam mengangkat kepalanya menghadap wanita itu, ia melihat wajahnya yang bersinar namun masih berbentuk paras cantik dengan senyuman indah ditambah latar bunga sakura. Ia seperti bidadari surga.
"... Siapa nama anak itu?" Liam berwajah serius meskipun masih terdapat rasa ragu.
"Amanda..."
Mendengar jawaban itu membuat Liam menitikkan air mata, tanpa sadar ia telah menyakiti adiknya dengan menyembunyikan perasaannya. Ia merasa buruk karena terus menyakiti adiknya dari kecil.
"Baiklah... Aku akan menjaganya..."
"Terimakasih Liam.."
Bersambung...
__ADS_1