
..."Cinta itu buta, istilah yang sering kudengar itu memang nyata. Karena cinta bisa merangkap seseorang hingga menjadi gila."...
Misako tengah menikmati kopi hangat di cafe tempat temannya bersantai, sebelum sampai di tempat itu sebenarnya ia sempat bingung dengan tujuannya. Tetapi ia teringat satu-satunya teman yang dapat diajak bicara, dan ternyata temannya itu hari ini tidak mengurus anak.
"Kenapa kamu menelponku? Katanya ada acara." Ungkap Ryu terfokus pada layar laptopnya.
Misako menghela nafas panjang. "Aku sudah ceritakan semuanya padamu kan?"
"Lalu apa pendapatmu tentang Tanaka-san?" Ryu mengalihkan pandangan dari laptopnya, memandang Misako serius.
"Aku menolaknya, tapi aku merasa hubungan pertemanan kami akan renggang. Aku tidak mau itu terjadi Ryu.."
Mendengar keluhan dari temannya membuat Ryu sedikit sedih, ia kembali mengetik keyboardnya dengan jari-jari lentiknya.
"Memangnya kamu tidak ingin berada di hubungan percintaan? Bagiku pacaran tidak buruk."
Misako menatap luar jendela dengan pandangan tajam. "Tidak. Pacaran bukan hal yang tepat untukku, bagi siapapun yang hanya ingin berada dalam hubungan yang tak pasti denganku. Lebih baik mundur, karena aku tau ingin.. (slurpt)."
Ryu tertawa kecil mendengarnya. "Memangnya apa seperti apa tipe yang kamu mau hm? Pria tampan? Berotot? Anime?"
"Hah? Bukankah hmph."
"Hahahaha! Lagian memangnya kau suka yang seperti apa?"
Misako memandang langit-langit cafe, tangan kanannya menyentuh bibirnya. Matanya berkedip-kedip, ekspresinya yang aneh membuat Ryu sedikit terhibur.
"Tipe ya.. tidak sulit kok, aku hanya suka orang yang benar-benar serius dan satu keyakinan denganku. Berbeda memanglah suatu kewajaran dalam hubungan, tetapi aku tidak suka berbeda agama dengan kekasihku. Intinya dia tidak memaksakan cintanya padaku, bersedia menungguku, dan siap mengoreksi keputusanku lalu mendukungnya. Yang paling terakhir, dia harus menungguku hingga lulus universitas hehe. Apakah sulit?"
Ryu tersebut lebar, ia melepas kacamatanya, memandang luar jendela dengan tangan menopang dagunya. "Itu syarat yang mudah, setidaknya bagiku."
Misako tertawa terbahak-bahak. "Memangnya kau akan menikahiku hah? Dasar bocah besar!"
"Bisa."
"H-hah?"
__ADS_1
Ryu memakai kembali kacamatanya. "Aku bi-sa me-ni-ka-hi-mu Misako-chan.."
"A-apa maksudnya itu?" Tanya Misako sedikit gugup.
"Aku bukan tipe yang memaksa pendapatku pada orang lain, aku juga bisa menunggumu lulus universitas. Aku bukan orang yang sembrono kau tahu?" Ungkap jujur Ryu membingungkan Misako.
Misako meneguk minumannya, ia berusaha mencerna kembali perkataan Ryu. "Apa maksudnya itu? Kau kan tidak satu keyakinan denganku Ryu. Jadi jangan mimpi deh."
"Salah. Keluargaku yang lain memang tidak, tapi aku berbeda dan aku tidak berniat bermain-main dengan seseorang yang berhasil mencuri hatiku." Ungkap Ryu, sesaat ia terdiam lalu bangkit membereskan mejanya.
"Kau mau main bersama? Hari ini Hikari sedang pergi."
Misako masih membatu, berbeda di waktu Tanaka mengakui perasaannya, kali ini hatinya berdebar. Aku kenapa sih?, batinnya.
"A-aku... (Drrtt!)"
Belum sempat menjawab teleponnya berdering, Misako langsung mengangkat telepon saat melihat nama kakaknya. "Ada apa? Kakak kenapa?... Kenapa kakak menangis..."
Raut wajah khawatir terpatri di wajahnya, sesekali ia melirik Ryu seakan mengatakan 'Aku tidak bisa mengikutimu.'
"... Oke kak, aku kesana sekarang."
Misako menunduk penuh maaf. "Maafkan aku, kapan-kapan kita habiskan waktu bersama ya.."
"Iya hati-hati!" Ryu melambaikan tangannya, Misako membalasnya dengan senyuman lalu pergi.
Setelah bayangannya menghilang, Ryu membereskan barang-barangnya lalu pergi meninggalkan cafe. Ia berjalan dengan ekspresi wajah sedih, banyak pasang mata yang memerhatikan langkahnya terutama para wanita. Tubuh tinggi dengan tatapan tegas miliknya memikat gadis-gadis di sekitarnya, sesekali ia menghela nafas namun tetap terlihat keren di mata orang banyak.
'Padahal aku baru mempublikasikan diriku di sekolah, tapi... Aku harus berpisah dengannya... Lagi?' Batin Ryu meringis, mengetahui keadaan dimana ia harus meninggalkan Jepang.
Di sisi lain, tepatnya di hotel Shindong's. Misako baru saja tiba setelah satu setengah jam perjalanan dengan bus kota. Ia harus berlari seperempat jalannya karena tidak ada kendaraan selain taxi, sedangkan ia tidak membawa uang lebih. Ia menyesal meninggalkan dompetnya di rumah dan hanya membawa uang kecil, pikirannya kacau tetapi ia tetap menghawatirkan kakaknya.
"Kak, aku datang."
Setelah bertanya pada karyawan dan mengisi buku tamu, aku berlari menaiki lift melewati lima lantai. Kenapa Liam memilih lantai yang tinggi sih? Mau bunuh diri?
__ADS_1
(Click!) Misako membuka pintu dengan kartu yang diberikan karyawan hotel, Liam memang sudah memberi arahan kepada karyawan hotel.
"Assalamualaikum.."
Kakinya menginjak lantai ruangan itu, hal pertama yang ia rasakan adalah ruangan itu gelap. Matanya memandang sekeliling, hatinya ragu-ragu karena ia tahu kakaknya tidak menyukai ruangan gelap. Saat ia mendapati obat-obatan di atas meja, matanya membelalak lebar. Obat penenang? Sebenarnya apa yang terjadi pada kakak?
"Kak! Kamu diman-- (pluk!)"
Liam memeluk erat tubuh adiknya dari belakang, Misako yang terkejut berniat menolak pelukan itu namun merasakan tubuh mengigil kakaknya membuat ia mengurungkan niatnya. Tangan Misako menepuk lembut tangan lengan Liam, mulutnya berkata untuk tetap tenang.
"Apa yang terjadi kak?" Tanya Misako khawatir.
Perlahan Liam melepaskan pelukannya, lalu terduduk di atas kasur. "Aku..."
Misako mendekati Liam dan mengelus lembut kepalanya. "Tenangkan dirimu kak, katakan padaku apapun yang mau kau katakan..."
Liam mengangguk pelan, Misako duduk di samping Liam sembari memeluknya guna menenangkan Liam yang masih bergetar. "Ceritakan saja padaku... Percayalah aku akan membantu semaksimal mungkin..."
Pada akhirnya Liam menceritakan kisahnya di hari dimana ayah mereka meninggal, Havard meninggal karena stroke setelah kecelakaan. Kecelakaan akibat Liam yang didorong setelah mengamuk.
"Kenapa kakak mengamuk kepada ayah?" Tanya Misako.
"Saat itu aku marah padanya karena dia ingin aku pergi ke luar negeri, jaraknya sangat jauh rumah. Aku tidak ingin meninggalkan rintisan yang aku tinggalkan di negara itu, hingga akhirnya aku kabur. Saat itu jalanan sepi, aku berhenti sejenak. Lalu tubuhku tiba-tiba terlempar karena dorongan dari ayah, dan di hadapanku persis kulihat darah mengalir kemana-mana. R-roda itu..."
Tubuh Liam bergetar, Misako yang melihat itu hanya dapat menyimpulkan Liam mengalaminya trauma. Kakak selama ini hanya diam, bagaimana aku bisa tahu semua itu? Kau kira aku dukun?
"Itu trauma masa lalu, tapi melihat kakak seperti ini membuatku yakin ada hal lain. Apa aku salah?"
Liam menggelengkan kepalanya, ia memegang tangan adiknya erat-erat. "Aku memimpikan ayah, ada sosok yang mengejarnya dan membunuhnya. Lalu kukatakan jika kau masih membutuhkannya, dan tiba-tiba aku mendengar suara-suara aneh... Lalu aku bertemu seorang wanita baru-baru ini, aku tidak mengerti kenapa ayah masih mengganguku..."
"Apa kakak tidak membutuhkan ayah?"
Liam memandang wajah Misako bingung. "Hah?"
Misako tersenyum lebar, ia mengelus tangan kakaknya yang sebelumnya terlalu erat memegang tangannya hingga berbekas. "Kak, coba tidur dan katakan pada ayah kalau kakak sebenarnya membutuhkannya. Bilang juga padanya untuk beristirahat dengan tenang karena kakak sudah ikhlas melepaskannya... Cobalah sekarang, kakak pasti mengantuk kan? Aku akan menemanimu..."
__ADS_1
Mendengar penuturan lembut dari Misako membuat Liam merasa damai, ia berbaring di samping Misako. Perlahan Liam memejamkan matanya lalu tertidur.
Bersambung...