Bukan Ustadz I (Unrevised)

Bukan Ustadz I (Unrevised)
17. Hari Terakhirku


__ADS_3

Hari ini diadakan acara wisuda di sekolah menengah atas (SMP Tusain/Sekolah Internasional Permata Indah), sehingga banyak tempat yang penuh karena urusan para siswa. Banyak yang mempersiapkan segalanya untuk dapat tampil cantik menawan di hari terakhir mereka menjadi siswa, tidak jarang yang malah tampak seperti pengantin daripada siswa wisuda.


"Huh, hari ini adalah wisudaku?" Ungkapku tetap santai, mataku terus terpejam.


Aku yang selama ini mendambakan kehidupan sekolah dengan banyak teman dan kehidupan yang normal, malah lebih banyak melakukan home schooling. Lagi-lagi home schooling, rasanya membosankan tetapi aku harus memiliki banyak pengetahuan untuk ujian masuk SMA.


"Amanda~ apa kamu sudah siap?" Tanya seseorang yang menyebalkan, mungkin sekarang dia sedang berada di depan sambil menyenderkan tubuhnya di samping pintu.


"Kenapa sih om?" Candaku padanya yang pasti membuat dirinya merasa kesal.


"Hah? Aku masih muda Tante.." Balasnya sedikit menekan kata-katanya.


"Hahahah, kamu ini anak yang tua ya Alan?" Ungkapku membuatnya menggaruk tengkuknya.


Kami sekarang sedekat ini, hanya mengetahui latar belakangnya yang ternyata dulu merupakan anak bernama Matler Andrew (chapter bagian 1). Ternyata dia bersembunyi dibalik nama samarannya, aku sebenarnya tidak mengerti bagaimana bisa seperti ini. Tapi memang inilah yang disebut dengan perlindungan organisasi, dunia ini terlalu membingungkan terlebih saat mengetahui jika ini bukan dunia dalam novel atau reinkarnasi.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan kucing-kucing di depan? Apa kamu gila mau membawa semua kucingmu ke sekolah?" Ungkap Alan seraya menyilang kedua tangannya.


"Kata paman tidak apa-apa kok, aku sudah izin beliau~" Balasku sambil tersenyum lebar.


"U-uhh.. baiklahh terserah." Ucapnya meninggalkanku.


Aku berfikir jika wajahku memang aneh saat diberi makeup, dia pasti ketakutan.


"Nona bisa tutup mata anda sebentar?" Tanya seorang pelayan wanita yang kuturuti.


Selang beberapa menit, akhirnya sesi makeup pun selesai begitupun gaunku. Aku keluar dari ruangan tata busana dengan mengikuti panduan sekertaris Kim, dia adalah sekertaris ayah Alan yang ditugaskan untuk menjagaku.


"Nona~ anda sangat cantik~" Pujinya membuatku sedikit malu.


"Ah, aku tidak secantik itu. Sebenarnya ini hanya karena aku tidak pernah menggunakan makeup, kamu sudah sering melihat wajahku yang tanpa makeup. Makanya aku terlihat berbeda, hanya itu~ tapi terimakasih~" Balasku malu-malu.


"HALO AMANDA~!"


"Amanda, kamu cantik.."


"Hmm, boleh juga.."

__ADS_1


Alan, Ryan, Sehun. Merekalah orang-orang yang ada disaat-saat terburuk dimana mentalku terguncang oleh keadaan, posisiku sebagai anak salah satu ketua organisasi tidak mudah. Kakakku Liam harus mengurus segalanya mulai sekarang dengan menjadi ketua, ini bukanlah hal yang mudah dimana kami sebagai agen terkuat di negara kami harus menjadi tameng yang melindungi keamanan dan kenyamanan warga negaranya.


"Akhirnya hari ini datang juga, kita harus ke sekolah hari ini. Ayo cepat." Ajak Sehun dengan nada yang dingin, dia mulai menjadi dingin dan perhatian padaku sejak hari dimana kami tidak berkomunikasi dalam waktu yang lama.


Kamu akhirnya berangkat diantar oleh sekertaris Kim.


"Eh, kalian tahu tidak kalau ada beberapa penindasan di London? Beberapa tahun terakhir negara ini dibongkar oleh organisasi internasional, ini membuat organisasi di negara sekitarnya kerepotan." Ungkap Alan sedikit marah.


"Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa harus terbongkar?" Celetuk Ryan melihat serius kearah Alan yang mengangguk setuju.


"Ayo kita hancurkan tameng perlindungannya dan dapatkan makanan serta bangunan dengan harta karun!" Teriak Alan dibalas anggukan kecil dari Sehun dan Ryan.


"Hei, kita hampir sampai. Jangan bicarakan game aneh itu atau kurobek mulut kalian semua." Ucap sekertaris Kim menekankan kalimatnya.


"Hahaha! Akui saja kalau tuan Kim yang berkuasa ini lemah, dasar beban." Timpal Alan mengejek sekertaris Kim yang tersulut emosi.


"Hmph!"


"Ehehehe~ kumohon berdamai ya." Pada akhirnya aku hanya mendapatkan tatapan mata yang menyebalkan dari mereka, layaknya anak kecil yang marah dikatai anak kecil padahal dia memang anak kecil.


__________


Tibalah mobil yang selalu menarik perhatian, mobil itu terhenti di tempat parkir khusus dimana hanya ada mobil itu. Tempatnya adalah di depan toserba yang ada di depan sekolah, tentunya itu membuat siapapun terkejut. Padahal tempat itu milik pak tua galak yang selalu mengusir kasar orang-orang yang parkir di depan pintu masuk.


"Oy kalian!" Teriak seorang pak tua yang berniat melihat isi mobil.


Akhirnya sekertaris Kim pun keluar dari mobilnya, ia tersenyum kearah pak tua yang terkejut.


"Oh, Kim! Lama tidak berjumpa!" Ucap pak tua itu seakan senang menyambut sekertaris Kim.


"Ayah~ aku kembali~" Balas sekertaris Kim memeluk ayahnya senang.


"Mau mampir dulu?" Tanya pak tua itu dibalas gelengan kepala dari sekertaris Kim.


"Aku mau mengantar anak-anak ke sekolah, aku parkir sementara ya. Nanti aku keluar secepatnya, aku buru-buru." Ucap sekertaris Kim tetap sopan pada ayahnya.


"Tidak apa-apa, antar dulu anak-anak. Aku masuk dulu ya, ada pelanggan yang masuk." Ucap pak tua itu meninggalkan sekertaris Kim.

__ADS_1


"Baiklah ayah." Balas sekertaris Kim sedikit menunduk.


Setelah itu sekertaris Kim menghampiri mobil dan membuka pintu belakang, anak-anak dengan santai keluar dari dalam. Sekertaris Kim yang merasa anak-anak harus menunggu karenanya pun sedikit menunduk.


"Maafkan aku anak-anak, aku harus membuang waktu kalian." Ucap sekertaris Kim yang dibalas tatapan lembut dari Amanda.


"Tidak, anda memang harus melakukan itu untuk menghormati orang tua anda. Lagipula kita tidak terlambat dan mereka masih menikmati game mereka." Ucap Amanda sembari memamerkan senyumnya.


"Duh, kami harus berhenti main game gara-gara kau mengobrol terlalu cepat." Ungkap Ryan sedikit menghela nafasnya.


"Harusnya kau mengobrol lebih lama, ini tidak akan menguras waktu kami." Tambah Alan sedikit menggaruk kepalanya.


"Aku setuju, waktu kami masih satu jam lagi.." Ucap Sehun dengan ekspresi wajah datarnya.


"Anak-anak.."


"Sudah ayo kita masuk~! Aku ingin makanan yang disiapkan~!" Ucap Amanda mengubah suasana mengharukan itu menjadi sedikit lebih ceria.


"Hmm.. aku penasaran~" Ucap Ryan.


"Aku tidak ingin makan, tapi aku lapar." Ucap Alan.


"Ada ramen gak?" Tanya Sehun membuat teman-teman heran.


"Kau gila? Mana ada ramen?!" Tanya Alan sedikit membentak.


"Sudah-sudah, kita nanti menjadi anak aneh seperti Alan. Coba berjalan lebih anggun~" Ungkap Ryan dengan ekspresi wajah bangga setelah mengungkapkan omong kosong itu.


Mereka membicarakan banyak topik di jalan tanpa sadar akan perhatian seluruh siswa yang tertuju pada mereka, bahkan guru-guru memandang anak dengan peringkat pertama di ujian nasional kali ini.


"Hei, bukannya itu Amanda? Anak jenius yang menduduki peringkat pertama meskipun jarang masuk?" Bisik seorang siswa.


"Syut! Itukan mantan ketua OSIS yang paling disegani karena ketegasannya! Lihat wajah itu, Steven si ketua kelas dan ketua OSIS kelas A."


"Sehun dan Ryan juga.. mereka kan seksi keamanan yang paling ditakuti siswa-siswi bahkan sampai general sekarang ini."


Sekertaris Kim hanya memandang anak-anak yang bahkan tidak peduli pada pandangan anak-anak di sekelilingnya.

__ADS_1


'Ternyata mereka mempunyai citra yang bagus.' batin sekertaris Kim tidak heran.


Bersambung.


__ADS_2