
Kesibukan pada minggu-minggu awal Maret dimana acara pelepasan siswa sekolah dilakukan, biasanya mereka melakukannya pada minggu ketiga. Sehari sebelum harinya Misako disibukkan dengan berbagai persiapan karena masukannya yang diterima membuatnya harus ekstra aktif, Misako menghabiskan waktu hingga malam hari.
Ia pulang sekitar pukul tujuh malam, dengan mata penuh kantung ditambah raut wajah lelah. Meskipun lelah ia masih tersenyum kepada senior-senior yang berpapasan dengannya, itulah ciri khusus dirinya yang membuat banyak senior jatuh cinta. Saat hampir sampai gerbang, Misako sekilas melihat Ryu yang menunggu sembari memainkan ponselnya.
Misako tersenyum lalu menghampiri temannya itu. "Sedang apa pak? Menunggu anaknya ya?" Goda Misako, Ryu hanya melirik lalu tertawa kecil.
"Memangnya anda mau jadi anak saya?"
"Tidak hehe.."
Ryu hanya menghela nafas melihat Misako yang tampak kelelahan. "Ayo pulang, wajahmu kelihatan lesu. Pasti capek." Ajak Ryu berjalan meninggalkan pagar tempatnya bersandar.
Misako membuntuti Ryu dari belakang. "Katanya mau main game setelah aku pulang, jadi apa gak mainnya?"
"Gak, aku malas main dengan zombi. Nanti speaker headset ku isinya suara ngorok lagi hahaha.."
"Apa? Kamu bilang apa bocah beban?"
Sepanjang perjalanan pulang mereka bersenda gurau dengan berbagai topik obrolan yang tidak pernah habis, meski mereka sering bertemu. Di perjalanan tiba-tiba mata Misako tertuju pada toko ramen di dekat gedung tua, ia tampak menginginkannya tapi mengingat harus menghemat uang membuatnya mengurungkan niatnya. Ryu yang melihat hanya tersenyum, ia merasa temannya sudah terlalu banyak menghemat.
"Kau mau beli ramen?" Tanya Ryu yang langsung dijawab tegas Misako.
"Tidak. Aku lagi hemat."
Ryu tertawa renyah, ia sudah menduga akan mendapatkan jawaban seperti itu. Misako adalah tipe orang yang memiliki jadwal jajan meskipun uangnya banyak sekalipun, meskipun Misako berkecukupan ia masih menghitung pengeluarannya di dalam buku kecil yang hanya diketahui oleh Ryu.
"Kamu ini, yasudah aku traktir ya.." Ucap Ryu yang dibalas gelengan kepala Misako.
"Aku sudah banyak merepotkanmu Ryu. Kali ini aku benar-benar tidak ingin jajan."
__ADS_1
"Bukan jajan, hari ini aku gak belanja jadi ayo makan malam ramen. Bahan-bahanmu juga sudah habis kan? Jadi ayo!" Ajak Ryu meninggalkan Misako yang hanya bisa menuruti perkataannya.
Ryu tersenyum, kebenarannya memang seperti itu. Ia tahu ini adalah waktu Misako membeli bahan makanan, Ryu melihat catatan Misako yang menjadwalkan untuk membeli bahan makanan. Ryu juga masih belum sempat membeli apapun karena waktunya yang habis karena dikejar deadline.
"Saya pesan dua porsi ramen, satu porsi besar gorengan, dua susu stroberi hangat." Ucap Ryu kepada pelayan yang menghampiri meja mereka.
"Wah kau sangat paham tentangku ya."
"Kan ini tempat langgananmu, katanya tempatnya nyaman karena ada kursi dan bersih. Makanya jadi tau dan Hikari terkadang suka makan siang di sini, lagipula ramen di sini enak.."
"Yakan~ aku juga suka karena rasanya enak.."
Ryu terkadang bingung dengan sikap Misako, meskipun ia merasa mereka dekat tetapi ada kalanya Misako memasang pagar tinggi yang tidak bisa digapai. Ingin rasanya ia bertanya namun hatinya juga takut Misako merasa tak nyaman dan akhirnya menjauhinya, Ryu tidak ingin hal yang berharga baginya pergi untuk selamanya.
"Misako.. apa akhir pekan di akhir bulan kamu ada waktu luang? Kan semuannya tidak sesibuk sekarang, aku juga tidak dikejar deadline lagi."
Misako langsung memasang wajah aneh seakan ada sesuatu yang lain. "Aku ada urusan hari itu, sangat penting pokoknya. Tapi hari itu kan Hikari sudah pulang jadi bisa main denganmu dong."
"Hahahaha baiklah~"
"Akhir-akhir ini sepertinya kau sering melihat ponselmu dengan mode landscape, apa ada sesuatu yang menarik seperti game baru mungkin?" Tanya Ryu disela-sela obrolan random mereka.
"Kamu tau film yang baru-baru ini buming? Kudengar itu adaptasi novel, penulisnya misterius bernama Ahn Siwon itu membuatku berdebar. Aku jadi semangat meskipun harus maraton dan kurang tidur." Balas Misako yang membuat Ryu tersentak malu.
"J-jangan berlebihan saat memuji karya orang lain, dan jangan kurang tidur hanya karena hal itu. Tidak baik untuk kesehatan, nanti kamu mimisan atau pingsan atau mungkin flu." Ungkap Ryu, disamping rasa gugupnya masih menyimpan rasa peduli yang besar.
"Uh bawel, aku hanya menonton sedikit. Lagipula episodenya pasti menggantung, kan jadi ingin melihat bagian selanjutnya~ apa kamu hatersnya Ahn Siwon? Kasian deh Ryu yang punya saingan hebat kayak Ahn Siwon~ iri ya?"
Bukannya kesal, Ryu malah semakin malu. Wajahnya memerah seperti tomat, tetapi Misako yang tidak peka hanya melihatnya yang seakan-akan marah karena ledekannya.
__ADS_1
"Kenapa diam? Yakan~ penulis Ahn Siwon terlalu keren sampai-sampai kau ikut terpukau dengan kharismanya. Aku sudah merasakannya yang dipenuhi kharismatik melihat goresan pena penuh penghayatan itu~ ditambah karya yang berjudul berani mengungkap rasa benar-benar mendebarkan huh!"
'K-kharismatik d-dia bilang, seriusan dia bilang k-kharismatik?'
Ryu yang tidak kuat dengan ungkapan kejujuran itu hanya menepuk jidatnya. "Bisa jangan bicarakan hal-hal itu lagi?"
Misako tersenyum nakal melihat ekspresi kesal temannya tanpa tau yang sebenarnya Ryu rasakan. "Huhuhuh~ benar iri ya~ bilang dong."
"Aku gak iri~!" Ucap Ryu setengah mati menahan rasa gugup yang membuat jantungnya berpacu begitu cepat.
"Terus kenapa ekspresi mukanya aneh begitu? Jelaskan dong kak."
"T-tidak.. huh bukan apa-apa.."
"Mwehehe~ kamu iri ya? Jujur deh, lagipula tidak ada yang bisa menandingi penulis Ahn Siwon sekalipun itu kamu. Ingat itu baik-baik ya, jangan harap bisa menandinginya.~~"
'Aku malu! Tapi kalau kukasih tau, takutnya dia nanti tidak tertarik lagi dan menjadi bosan. Lagipula yang membuatnya bersemangat kan karena identitas penulis yang rahasia. Aku harus sabar, berjuanglah jantungku, jangan terlalu bersemangat anggap saja dia tidak mendukungmu tapi Ahn Siwon. Meskipun dia adalah aku sekalipun.' Batin Ryu, tangannya memegang dada yang terus berdegup kencang.
"Sudah lanjutkan makanmu.." Ucap Ryu yang hampir mati menepis peluh di dahinya.
"Hahahaha baiklah."
Pada akhirnya Ryu mendapatkan suatu pelajaran, yaitu jangan terburu-buru memilih topik karena itu bisa saja membunuhmu.
'Aku harus konsultasi dokter lagi, sepertinya dia salah cek. Bagaimana bisa kejutan jantung ini adalah hal biasa? Ini aneh!' Batin Ryu yang merasa jantungnya masih belum tenang.
"Aku bisa gila.." Gumam Ryu yang tangkap oleh Misako.
"Makanya jangan jadi hatersnya Ahn Siwon supaya gak jadi gila, siapa tau kamu bisa berkharisma sepertinya." Ungkap jujur Misako yang mengejutkan Ryu.
__ADS_1
'U-uhh.. aku seharusnya tidak memulai obrolan ini.'
Bersambung...