Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 31


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Hari demi hari berlalu, sejak kejadian malam panjang nan panas itu. Kini, hubungan Khalifa dan Hilal pun semakin membaik.


Keceriaan dan keharmonisan semakin terpampang jelas di depan semua keluarga nya, tentu saja hal itu membuat para orang tua senang dan bersyukur.


Hari ini, tepat di adakan nya haul kelima mendiang Kirana. Orang tua Kirana sengaja mengadakan nya di Pondok pesantren, agar bisa sekaligus berbagi kepada para santri.


Dan seharian ini, Hilal cukup di sibukkan untuk acara yang akan di adakan malam nanti. Sedangkan Khalifa, ia memilih untuk berada di rumah orang tua nya, untuk menghindari kakak ipar nya.


Benar! Sejak kejadian beberapa bulan yang lalu. Khalifa memilih untuk menghindari Milla, demi kewarasan hati dan jiwa nya. Ia tidak mau sakit hati atau terpancing emosi lagi dengan perkataan nya.


Meskipun, bagi Mila itu hanyalah sebuah kata yang simpel dan bisa di anggap bercanda. Tapi tidak bagi Khalifa, ia merasa sangat sensitif setiap kali mendapatkan perbandingan dan pertanyaan tentang kapan dirinya akan hamil, yang mengapa tidak bisa secepat Kirana dulu.


"Dek, kamu kok disini? Bukan di sebelah bantuin suami kamu?" Eleena mendudukkan dirinya di sofa samping Khalifa.


"Gapapa Kak, lagi pengen nonton dulu. Lagian, kemarin Khalifa sudah bantuin Umi kok, biar lah sekarang gantian!" jawab nya sambil mata nya menatap fokus pada layar televisi di depan nya.

__ADS_1


"Aca dimana?"


"Tadi main sama Abi di atas. Makanya Khalifa bisa santai," Khalifa menyudahi acara ngemil nya, ia mengubah posisi menghadap sang kakak ipar, "Kak, menurut Kakak aku salah gak kalau disini?"


"Salah kenapa?"


"Karena aku gak mau bantu di sana lagi?"


"Alasan nya?"


Khalifa menggelengkan kepala nya pelan, "Hati Khalifa sakit setiap kali melihat Keantusiasan gus Hilal untuk mengurus semua acara yang bersangkutan dengan Ning Kirana."


"Kak, ingat gak yang haul tahun lalu? Bahkan, gus Hilal sampai gak nemuin Aca sama sekali, satu harian penuh. Dan sekarang, Khalifa pengen mastiin, apakah dia akan menjemput Khalifa dan Aca disini atau gak."


Eleena terdiam, mendengar curhatan hati adik ipar nya. Mencoba memposisikan diri, ia tahu bahwa saat ini Khalifa sedang cemburu.


Bagi Eleena pun wajar. Karena memang sejak dulu, dari haul pertama mendiang istrinya. Hilal memang seperti meluangkan waktu satu hari full untuk Kirana.

__ADS_1


Mungkin, dulu wajar Hilal melakukan itu karena dulu belum ada Khalifa di samping nya. Tapi saat ini, sudah ada Khalifa, dan memang benar, hingga siang seperti ini belum ada tanda tanda Hilal memanggil Khalifa maupun Aca.


Pagi tadi Eleena sempat bertemu dengan Aca. Dimana ia melihat raut wajah berbeda dari anak itu, dan mungkin itu juga yang membuat putra nya, Abidzar mengajak Aca untuk bermain dan menghibur nya.


"Khal, ada baik nya hal ini kamu bicarakan sama gus Hilal. Sebenarnya, jika kamu bisa ikhlas maka pahala berlimpah akan menghampirimu Dek. Tapi—"


"Sulit Kak!" Khalifa menundukkan kepala nya, "Khalifa sudah mencoba. Tapi rasanya sangat sulit, bahkan—"


'Bahkan saat foto ning Kirana menjadi hiasan di dinding kamar mereka, Hilal masih diam dan membiarkan nya.' imbuh Khalifa namun dalam hati.


"Bahkan apa?" tanya Eleena mengerutkan dahi nya menunggu lanjutan kata yang akan di ucapkan oleh Khalifa.


"Tidak Kak! Sudahlah, Khalifa akan ke atas dulu melihat Aca dan Abi," Khalifa bangkit dan tempat duduk nya, tapi baru saja ia hendak berdiri tiba tiba ia terdiam.


"Auwwhh!" Khalifa langsung menggigit bibir bawah nya sambil tangan nya mencengkram erat sofa di sebelah nya.


"Khal, kamu kenapa?" Eleena panik dan segera membantu Khalifa untuk duduk kembali.

__ADS_1


...~To be continue... ...


__ADS_2