
...~Happy Reading~...
Malam harinya, semua keluarga berkumpul di meja makan. Tidak seperti biasanya, Ilona kini nampak begitu anteng dan begitu fokus untuk cepat menghabiskan makanan nya. Sedangkan Aca, sejak tadi melirik heran pada adik nya, namun seolah tak berani menegur nya.
“Kalian kenapa?” tanya Hilal pada akhirnya membuka suara, “Ilona? Aca?”
“Tanya aja sama bunda!” jawab Ilona tanpa berani menatap sama sang ayah.
“Kok Bunda?” Seketika itu, Khalifa langsung menunjuk dirinya sendiri dan menatap heran pada putri keduanya.
“Emang Bunda ngapain Ilo?” tanya Hilal semakin mengerutkan dahi nya.
“Bunda gak ngapa ngapain, astagfirullah Ilona …. “ Khalifa sampai mengelus dada nya.
“Ihh maksud na Ilo, tadi kan Ilona sudah celita sama Bunda, kunapa Ilo kesel. Bukan nyalahin Bunda kok,” jelas Ilona sedikit melirik ke arah sang kakak lalu kembali foikus pada makanan nya.
Khalifa menghela napas nya lega, begitu pun dengan Hilal. Kini tatapan nya kembali berubah semakin bingung, “Sayang, ada apa?”
__ADS_1
Kini, Khalifa terdiam. Menggigit bibir bawah nya sabil melirik ke arah Aca dengan sedikit ragu. Ia ingin menjelaskan akan tetapi takut membuat anak nya tersinggung, mengingat beberapa hari ini Aca memang sedikit sensitif. Khalifa tidak mau membuat nya semakin sensitif.
“Gapapa Mas, biasa dia kesel sama temen di sekolah nya.” Jawab Khalifa terpaksa berbohong.
“Bundaaaa!” seru Ilona tiba tiba meletakkan sendok nya di atas meja makan, bibir nya cemberut Sambil matanya menatap kesal pada ibu nya, “Bunda gak buleh bohong sama Ayah! Tadi kan Ilo sudah celita sama Bunda, kunapa Bunda bohong!”
“Astagfirullah al adzim,” Ingin rasanya Khalifa menjerit, kepala nya sudah pusing dan kini semakin bertambah pusing kala di tuntut oleh anak bungsu nya, “Sayang, bukan maksud Bunda—“
“Ahh bunda sama saja kaya Kakak, bikin sebel!”
Uhukkk huuukk!
“Kakak kenapa? Kamu kesel sama Kakak? Emang kakak ngapain kamu? Kan tadi pagi kiota baik baik aja? Terus kenapa sekarang kamu kesel sama kakak?” tanya Aca beruntun.
Ilona yang sudah bangkit dari tempat duduk nya dan hendak kembali ke dalam kamar, langsung menoleh dan membalas tatapan Aca, “Kakak culi es klim na Ilo.”
Hah! Sontak saja, Aca langsung melongo tak percaya mendengar alasan adik nya yang sedang kesal.
__ADS_1
“Kakak, bisa tolong jelasin, kenapa tadi kenapa—”
“Bunda nyalahin kakak juga?” Seketika Aca menoleh dan menatap ibu nya, “Aca gak pernah mencuri Bunda! Aca gak pernah ngambil punya Ilona!” Kini mata gadis itu sudah mulai berkaca kaca.
Dada nya bergemuruh seolah menahan sesak karena mendapatkan tuduhan yang sama sekali tak pernah ia lakukan. Hati Aca memang sangat lah sensitif, terlebih ketika ia mendapatkan bisik bisik yang mengatakan bahwa ibu sambung tak selamanya baik. Terlebih ketika memiliki anak sendiri, maka kasih sayang itu akan menghilang.
Sama seperti yang di alami Utami, sahabat nya. Yang mana ia selalu di paksa mengalah walau tak salah, dan harus mandiri serta bertanggung jawab atas apa yang di lakukan para adik nya.
“Sayang bukan begitu, maksud Bunda—”
“Aca gak pernah mencuri es Krim Bunda! Tadi Aca makan es Krim di kasih sama bang Fahmi! Itu juga karena tadi Aca jatuh, Aca nangis terus di kasih es Krim itu! Aca gak pernah bohong!” Dan pecah lah sudah air mata yang sejak tadi di bendung, membuat keadaan di meja makan yang semula begitu tenang kini menjadi sedikit ricuh.
“B—bunda gak percaya sama kakak?” tanya Aca dengan suara yang bergetar.
“S—sayang, Bunda—“ belum sempat Khalifa menyelesaikan kata kata nya, tiba tiba wanita itu sudah terjatuh dan pingsan hingga membuat ketiga orang di sana menjadi sangat panik.
Brukkkk!
__ADS_1
“Bundaaaaaa!” jerit Aca dan Ilona segera menghampiri ibu nya, begitu pun Hilal yang dengan cepat langsung mengangkat tubuh istri nya dan membawa nya masuk ke dalam kamar.
...~To be continue …....