
...~Happy Reading~...
Hari berganti minggu hingga bulan. Tanpa terasa, kini kandungan Khalifa sudah memasuki trimester akhir, yang mana sebentar lagi ia akan segera melahirkan. Selama hamil, Khalifa sama sekali tidak merasa seperti orang hamil, tidak ada perubahan apapun dalam dirinya, kecuali perut yang membesar.
Sedikit kesal, karena ia tidak pernah menginginkan sesuatu atau mengidam seperti banyak nya orang, karena selama hamil justru Hilal lah yang selalu tersiksa. Laki laki itu selalu mengalami hal yang tak terduga dalam hidup nya.
Di Trimester awal, Hilal lebih terlihat seperti anak kecil. Sikap dan kelakuan nya selalu di luar nalar! Terkadang, Khalifa sampai di buat pusing jika setiap Kali melihat suami nya ada di rumah, bahkan pernah Khalifa merasa kelelahan sampai ia memutuskan untuk mengajak suami nya pulang ke Pondok.
Bukan tanpa alasan, karena ngidam yang di alami Hilal hanya berlaku jika di rumah nya. Tapi jika di luar, di tempat kerja atau di depan orang tua maupun keluarga besar nya, maka oia akan terlihat sangat normal seperti biasa. Hanya saja sedikit rewel. Maka dari itu, Khalifa sering mengajak Hilal ke Pondok agar diri nya tetap waras.
Memasuki Trimester kedua, kerewelan Hilal sudah berkurang. Hanya saja, morning sicknes itu datang, setiap pagi dan menjelang tidur, Hilal selalu mengalami mual parah, hingga membuat nya tak bisa memakan nasi sama sekali. Hampir tiga bulan lamanya, Hilal tidak pernah mau bertemu nasi. Dan jika di paksa, maka sudah di pastikan besok nya, laki laki itu akan di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
Dan kini, sejak memasuki Trimester ketiga, sikap Hilal semakin posesif, manja dan bahkan laki laki itu sangat mudah menginginkan sesuatu. Apa saja yang ia lihat, pasti día inginkan (Makanan). Seperti beberapa minggu yang lalu, Hilal mengajak istrinya ke Bali dengan dalih babymoon.
Padahal, tujuan laki laki itu hanya ingin mencicipi kuliner yaitu rujak bulung. Walaupun memang mereka tetap berjalan jalan seperti khalayak babymoon pada umum nya, akan tetapi Hilal seperti memanfaatkan istrinya hanya demi kemauan nya sendiri.
Dan sekarang, laki laki itu hendak mengajak istri nya ke Jakarta karena ingin memakan kerak telur di Monas. Hal yang membuat Khalifa dilema, pasal nya hari kelahiran nya sudah dekat, dan ia sangat malas untuk bepergian jauh.
“Ayolah Sayang, ini yang terakhir!” pinta Hilal untuk ke sekian kalinya, merayu dan membujuk sang istri.
“Mas, gak bisa apa Mas pergi sendiri? Kasihan Acá juga loh, harus di tinggal di Pondok lagi!” kata Khalifa menghela napas nya berat.
“Tapi Mas … “
__ADS_1
“HPL nya memang kapan?” tanya Hilal sambil memeluk istrinya dari belakang dan mengusap perut besar itu dengan begitu lembut.
“Tanggal 25,”
“Astagfirullah sayang, itu masih lama loh. Ayolah, aku janji ini yang terakhir.”
“Aaahhh, kenapa harus Mas sih yang ngidam! Khalifa kan juga pengen kaya Gini! Harusnya tuh Mas yang nurutin kemauan Khalifa! Bukan Khalifa begini,” Tiba tiba wanita itu langsung merengek seperti anak kecil.
Dirinya benar benar iri dengan sang suami yang selalu merasakan ngidam, sedangkan ia tidak merasakan sama sekali. Bayangan nya dulu ketika belum hamil, saat masih singel. Kelak dirinya sudah menikah dan hamil. Ia akan mengalami morning sicknes, lalu memiliki suami yang begitu siap siaga mengusap tengkuk nya dan memeluk nya di saat dirinya merasa sangat lemas.
Tapi … tapi semua bayangan nya ambyar kala dirinya hamil dan tak merasakan apapun. Entah dimana yang salah, mengapa sejak awal kehamilan selalu Hilal yang merasakan, dan dirinya tidak merasakan apapun.
__ADS_1
“Sayang, kalau kamu tahu rasanya ngidam, aku rasa kamu tidak akan begini. Ngidam itu berat Yank, jadi biar aku saja. Kamu gak akan kuat,” kata Hilal seraya menyengir kuda.
...~To be continue …...