Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 63


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Setelah drama yang cukup Panjang, kini akhirnya pada malam hari. Tepat nya malam minggu, Hilal langsung mengajak Khalifa untuk pergi ke tempat yang ia inginkan. Membeli makanan yang teramat sangat ia cicipi sambil menikmati pemandangan lampu pada tugu monument.


Tapi, baru saja keduanya hendak mendudukkan diri, tiba tiba Hilal terdiam. Wajah nya pucat bahkan keringat dingin mulai membasahi kening nya.


“Kamu kenapa Mas?” tanya Khalifa yang saat ini tengah berdiri di depan Hilal.


“Perut aku mules lagi,” jawab nya pelan.


‘’Mau balik ke Hotel lagi?’’ tanya Khalifa, “’Karena disini gak ada toilet.’’


Namun Hilal malah menggelengkan kepala nya. KIni tangan nya mencengkram cukup erat pada sisi gamis yang di kenakan oleh sang istri sambil berusaha untuk menarik napas nya sedalam mungkin lalu ia hembuskan.


‘Astagfirullah al adzim,’ Tak henti henti nya Hilal mengucap istighfar berharap rasa sakit yang ia rasakan bisa sedikit berkurang atau bahkan menghilang.


Tapi, bukan menghilang atau berkurang seperti yang ia inginkan, justru rasa sakit itu semakin sulit untuk ia tahan hingga membuat nya sangat ingin menjerit, ‘’Sayang kita pulang aja deh, kayaknya aku gak kuat !’’

__ADS_1


‘’Yakin pulang ?’’ Khalifa mengerutkan dahi, ‘’Tapi itu pesanan kamu udah mau jadi loh.’’


‘’Udah gak pengeb, sakit banget Sayang,” bisik Hilal yang hampir saja meloloskan air mata nya.


Karena merasa kasihan, akhirinya Khalifa menganggukkan kepala. Ia membayar makanan itu terlebih dulu sebelum akhirnya ia mengajak suami nya pulang. Tapi … Baru saja beberapa langkah ia berjalan tiba tiba Khalifa terdiam di tempat saat merasakan sesuatu yang jatuh tepat di tengah kedua kaki nya.


Plupp!


“Mas!” Khalifa mencengkram erat bahu suami nya sambil menahan nafas.


“Sayang, kamu pipis disini?” tanya Hilal speechless mengerjapkan mata nya berulang. Membuat Khalifa merasa geram dan seketika langsung memukul bahu sang suami.


“Mas, itu air ketuban istrinya pecah, seperti ya mau melahirkan!” suara teriakan dari tukang makanan di sebelah nya seketika membuat mata Hilal membola dengan sempurna.


“Astagfirullah!” Dan tanpa membuang waktu, Hilal pun segera mengangkat tubuh Khalifa dan membawa nya berlari ke mobil menuju rumah sakit. Meskipun ia sedang mengalami kontraksi yang cukup parah, tapi Hilal berusaha untuk tetap tenang dan menahan rasa sakit itu, demi membawa istri nya ke rumah sakit.


“Mas, jangan ngebut, aku gapapa kok,” kata Khalifa Sambil mengusap perut besar nya, yang mana memang dirinya belum merasakan apapun. Hanya ketuban saja yang pecah, tapi ia masih tetap biasa.

__ADS_1


Tiga puluh menit perjalanan, kini akhirnya Hilal sudah tiba di Pranata Hospital. Hilal dengan begitu sigap membuka pintu mobil dan membawa istrinya masuk ke dalam. Berulang kali Khalifa menjelaskan bahwa ia masih sanggup berjalan, dan beberapa perawat juga langsung sigap menghampiri Khalifa untuk menggunakan kursi roda atau brankar. Tapi Hilal menolak.


Laki laki itu tetap kekeuh ingin menggendong istri nya sambil terus menatap lurus ke dapan dengan perasaan yang berkecamuk luar biasa. Bayangan akan dimana dulu Kirana yang menangis kesakitan Ketika akan melahirkan Aca bahkan sampai menutup mata usai berjuang, membuat dada Hilal begitu sesak dan takut.


Ia tidak mau kehilangan Khalifa, sekuat tenaga Hilal akan berusaha membuat istrinya nyaman dan tidak kesakitan. Tanpa sadar, di sepanjang perjalanan menuju ruang UGD, Hilal sampai meneteskan air mata, entah karena sakit yang ia rasakan atau rasa takut serta khawatir karena Khalifa akan melahirkan.


“Jangan nangis ih, nanti di ejek sama Aca loh,” Khalifa mengulurkan tangan nya untuk mengusap air mata Hilal, bibir ranum yang begitu manis dan lembut itu tersenyum membuat hati Hilal seraya semakin di sayat.


“Berjanjilah bahwa kamu akan berjuang demi kami. Berjanjilah kamu tidak akan menyerah dan meninggalkan kami.”


Deg!


Khalifa terdiam, kini ia tahu mengapa suami nya menangis. Khalifa cukup paham, mungkin laki laki itu sedang ketakutan dan masih merasa sedikit trauma akan luka di masa lalu dimana saat Aca di lahirkan.


‘’Insyaallah, Mas tenang dulu ya. Tolong hubungi Abi dan Umma ya? Setelah itu masuk kesini lagi. Khalifa mau di temenin sama mas Hilal,” ucap Khalifa dengan begitu lembut dan tenang Sambil mengusap lengan suami nya.


Hilal menurut, laki laki itu segera keluar dan menghubungi keluarga nya. Namun, karena nomor kedua orang tua dan mertua nya sulit di hubungi, jadilah Hilal memutuskan untuk menghubungi kakak ipar nya yang memang tinggal di Jakarta.

__ADS_1


Dan setelah memastikan semua sudah aman, ia pun kembali masuk ke dalam ruang bersalin dan melihat istrinya yang sudah berganti pakaian pasien yang mana semakin membuat nya ketakutan.


...~To be continue …....


__ADS_2