
...~Happy Reading~...
“Sayang, kamu mau kemana?” Hilal langsung mengerutkan dahi nya Ketika ia melihat Aca yang sudah menuruni tangga dengan pakaian yang rapi.
“Ayah anterin Aca,” Gadis kecil itu menundukkan kepala nya.
“Anterin kemana? Sayang, Bunda dan Ilo gak ada maksud seperti itu. Aca kan—“
“Aca gak mau jadi besar,’’ tiba tiba gadis itu menggelengkan kepala nya dengan air mata yang sudah mulai berlinang di pelupuk mata nya.
“Aca … “
“Aca mau sama Eyang aja Ayah! Aca gak mau disini hiks hiks hiks,’’
__ADS_1
Untuk sesaat Hilal terdiam. Ia masih bingung dengan jalan pikian putri sulung nya yang entah mengapa menjadi sangat sensitive. Terlebih Ketika istrinya di nyatakan hamil lagi, sejak saat itu Aca semakin jarang untuk keluar kamar. Jika Ketika hamil Ilona, Hilal lah yang mengalami morning sicknes.
Berbeda dengan kehamilan kali ini, justru Khalifa yang merasakan nya sendiri, Wanita itu sangat sulit berinteraksi dengan orang lain. Bahkan sudah beberapa hari, ia tidak bisa keluar kamar. Dan juga tidak bisa mengizinkan suaminya untuk masuk kamar.
Khalifa sendiri tidak mengerti, mengapa dia bisa merasakan hal seperti itu. Tapi, setiap Kali ia mencoba memaksakan dirinya untuk keluar kamar dan melakukan aktifitas seperti biasa, maka tubuh nya akan menolak.
Bukan hanya muntah akan tetapi ia juga pasti akan pingsan, kondisi nya sangat lemah. Hingga membuat dokter akhirnya menyuruh nya untuk bed rest di dalam kamar. Ilona dan Aca kerap mencoba masuk ke dalam kamar orang tua nya, akan tetapi Khalifa juga sama ia akan terus mengalami muntah setiap Kali mencium aroma orang lain.
Maka dari itu, Ilona tidak pernah lagi memaksa masuk ke dalam kamar ibu nya, ia lebih memilih untuk aktif kembali di Dunia nya, yakni Dunia peran. Ilona selalu anteng berada di depan televisi Sambil terus mengoceh sendiri seolah memeragakan dirinya lah tokoh utama di dalam drama tersebut.
“Kakak masih malah sama Ilo? Kan Ilo sudah minta maaf sama Kakak!” Gadis kecil yang sejak tadi begitu anteng di depan televisi itu kini ikut menghampiri kakak dan juga ayah nya masih berada di bawah tangga.
“Lagipula kemalin ayah sudah beliin es klim na banyak. Es klim na Ilo buat kakak deh, gapapa. Ilo gak mau makan es klim banak banak kalena bikin gendut. Ilo ambilin ya?” gadis kecil itu berusaha ikut membujuk kakak nya agar tidak jadi meninggalkan rumah.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dan persetujuan Aca, Ilona pun langsung meletakkan toples cemilan nya di lantai dan ia segera berlari cepat menuju kulkas untuk mengambil es Krim untuk sang kakak.
Sementara itu, Aca yang melihat kepergian adik nya, hanya bisa menatap nya datar. Air matanya masih terus mengalir membasahi wajah nya, ia sudah terlanjur kesal dan muak dengan semuanya. Ia takut, sangat takut jika benar nanti dirinya akan semakin terabaikan karena kelahiran adik kedua nya.
Maka dari itu, ia bersiap mencoba untuk menyiapkan diri dengan mencari ketenangan di pondok, agar ia tidak semakin kesepian ketika nanti ibu nya akan lebih fokus kepada dua adik nya. Mengingat, dirinya bukanlah anak kandung dari Khalifa, membuat hati Aca semakin terasa hancur.
“Sayang, lihat Ayah!” Hilal berusaha mengalihkan pandangan Aca agar melihat ke arah nya, “Kasih ayah satu saja alasan, kenapa Aca ingin pulang ke Pondok?”
“A—Aca … “ Gadis itu bergumam terbata Sambil terisak, “A—Aca gak mau punya adik!”
Deg!
Brukk!
__ADS_1
...~To be continue …....