Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 64


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Tepat Ketika Hilal masuk ke ruang bersalin dan mendekati istri nya, saat itu juga Khalifa merasakan kontraksi yang luar biasa sakit nya. Wanita itu segera mencengkram erat tangan sang suami untuk mengurangi rasa yang ia rasakan.


“Tarik napas panjang lalu hembuskan … “ Khalifa menurut dan mengikuti semua perintah dari dokter nya, dan Hilal dengan begitu setia menemani Khalifa berjuang demi buah hati mereka.


Di karenakan kelahiran anak pertama, dokter mengatakan sedikit sulit, akan tetapi Hilal terus meyakinkan Khalifa bahwa wanita itu pasti bisa. Begitu pun dengan dokter dan perawat yang selalu sabar membantu dan menenangkan hati Khalifa untuk tetap tenang.


‘La ilaha illallah al-hakim al-karim, subhanallah rabbil ‘arsyil azhim, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, kaannahum yarauna ma yu’adun, lam yalbatsu illa sa’atan min nahar, balagh. Kaannahum yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan au dhuhaha.’


‘Idzas samaa-ung syaqqot, (2) Wa-adzinat lirobbihaa wahuqqot, aku yakin kamu pasti bisa sayang. “ Hilal terus membisikkan doa dan kata kata untuk menyemangati sang istri, membuat Khalifa semakin berusaha untuk menghilangkan ketakutan suami nya.


Khalifa sendiri yakin, bahwa dirinya juga pasti bisa. Hanya saja, entah mengapa rasanya sangat sulit, ia sudah merasa cukup lelah.


Akan tetapi, melihat bagaimana wajah suami nya yang berada tepat di sebelah nya, terus memanjatkan doa untuk nya sambil terus mengusap perut dan área dada nya atas perintah dokter, membuat Khalifa kembali bersemangat.


Hingga setelah beberapa saat, setelah perjuangan yang begitu panjang akhir nya seorang bayi perempuan yang begitu merah dan cantik dengan rambut yang begitu tebal berhasil keluar dengan sangat sehat dan selamat.


Oeekkkk

__ADS_1


Oeekkk


Oeekkkk


“Alhamdulilah,” gumam Khalifa dan Hilal bersamaan, laki laki itu tidak bisa menutupi rasa haru dan bahagia nya, air mata nya langsung lolos begitu deras membasahi wajah nya.


“Alhamdullilah, terimakasih sayang, terimakasih. Kamu hebat, terimakasih sudah berjuang dan bertahan, cup!”


Tanpa ragu dan tanpa malu kepada beberapa dokter dan perawat di ruangan itu, Hilal langsung memeluk dan mencium wajah istri nya dengan penuh syukur, membuat Khalifa hanya bisa membalas nya dengan senyuman tipis karena tubuh nya terasa sangat lemas karena tenaga nya sudah habis tak bersisa.


“Alhamdulilah, selamat ya anak nya perempuan. Berat nya 2,9 dan panjang 50cm, alhamdulilah Sehat, normal dan sangat cantik.” Ujar salah seorang dokter yang sudah membersihkan bayi itu dan segera meletakkan di atas dada Khalifa agar bisa langsung menyusu pada ibu nya.


Sungguh, ini adalah momen kebahagiaan luar biasa yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Dulu, ketika Aca lahir, bahkan Hilal hanya bisa menemui putri nya di dalam ruangan bayi dan itu pun langsung masuk ke incubator. Hilal tidak bisa langsung menggendong nya. Akan tetapi kini rasanya sangat berbeda.


“MasyaAllah,” Khalifa menatap lekat pada putri nya yang kini tengah menyusu pada nya. Jari lentik nya mengusap dan begitu usil memainkan hidung sang bayi yang begitu mancung. Hingga tiba tiba Khalifa terdiam dengan senyuman yang langsung hilang di wajah nya.


“Kenapa Sayang?” tanya Hilal mengerutkan dahi nya.


“Ini anak kamu Mas?” ucap Khalifa tiba tiba, membuat dahi Hilal semakin berkerut bingung.

__ADS_1


“Maksud nya?” tanya Hilal, “Tentu saja dia anak ku sayang, anak kita.”


“Tapi kan aku yang hamil Mas! Kamu udah mengambil masa ngidam ku, masa kini wajah dia juga sepenuh nya kaya kamu.” Protes Khalifa sedikit kecewa karena memang anak nya benar benar mirip dengan ayah nya.


“Sayang … nanti kita bahas di ruangan lain ya.” Maksud Hilal untuk membicarakan saat nanti Khalifa sudah di pindahkan ke ruang perawatan, karena saat ini keduanya masih berada di ruang bersalin.


“Gak ada mirip mirip nya sama sekali ke aku. Mata, hidung, bahkan rambut nya juga sama kaya kamu.”


“Tapi dia putih Sayang, mungkin dia mengikuti kulit kamu, iya begitu,” ucap Hilal berusaha meyakinkan istrinya.


“Tapi kamu sendiri juga putih Mas, itu sama aja kaya kamu!” Kini air mata Khalifa kembali menetes, bukan karena rasa sakit karena dokter masih menjahit luka bersalin nya, akan tetapi ia menangis karena anak nya sama sekali tidak mirip dengan nya.


Sedangkan para dokter dan perawat yang ada di ruangan itu hanya bisa diam menundukkan kepala Sambil sesekali saling melirik mendengar perdebatan suami istri di ruangan itu.


Bisa di katakan ini adalah record, selama mereka membantu orang melahirkan. Baru Kali ini, ada orang mengalami baby blues tepat saat bayi mereka lahir hanya karena tidak memiliki kemiripan sama sekali.


Bahkan, orang awam pun yang melihat Hilal menggendong bayi nya Sudah pasti tahu bahwa itu memang anak nya. Karena wajah keduanya benar benar mirip bak pinang yang di belah dua.


...To be continue …....

__ADS_1


__ADS_2