Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 42


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“M—mba Hasna ... “ Air mata Khalifa semakin tak kuasa untuk di tahan, begitu pun dengan Hasna yang juga langsung menangis setelah melihat isi dari amplop yang di terima Khalifa.


“Khal, kamu—“ Hasna tak mampu berkata kata, wanita itu segera memeluk Khalifa dengan begitu erat, mencoba menguatkan walau sebenarnya ia sendiri juga ikut sakit kala melihat nya.


Sebuah foto yang entah kapan dan darimana di ambil. Di sana terlihat begitu jelas, bagaimana Hilal yang sedang tidur sambil memeluk seorang wanita yang sangat jelas bahwa itu bukanlah Khalifa apalagi Kirana. Sebuah fakta yang jauh lebih menyakitkan di banding surat gugatan cerai yang di bayangkan oleh Khalifa.


“Assalamualaikum ... “ Saat pintu terbuka, terlihat lah begitu jelas sosok laki laki yang sejak tadi menjadi bahan tangisan antara Khalifa dan juga Hasna.


Bak pucuk di cinta ulam pun tiba. Entah apa yang membuat Hilal pulang ke rumah dan kini tiba tiba lelaki itu sudah berada di hadapan Khalifa dengan nafas yang sedikit memburu.


‘Walaikumsalam ... “ Hasna bangkit dari tempat duduk nya untuk menghampiri sang adik lalu tba tiba


Plaaakkkk!!!

__ADS_1


“Mba!” Khalifa berseru dan segera ikut beranjak dan berdiri saat melihat suaminya di tampar.


Sementara itu, Hilal yang mendapatkan sebuah tamparan yang begitu mulus dan perih dari kakak nya, hanya bisa terdiam. Laki laki itu menatap ke arah kakak nya dengan tatapan bingung.


“Kenapa mba Hasna nampar Hilal?” tanya Hilal.


Sedikit kecewa karena kakak kedua nya itu tadi tahu bahwa dirinya pingsan di rumah sakit. Dirinya pulang karena ingin bertanya sesuatu, tapi kenapa justru malah mendapatkan sebuah amukan dari kakak nya.


“Haruskah mba bunuh kamu Hilal?” Suara Hasna semakin bergetar menahan tangisan nya, “Mba kecewa sama kamu. Mba bener bener kecewa hiks hiks hiks.”


Setelah mengatakan itu, Hasna pun memilih pulang karena tidak ingin ikut campur lebih banyak lagi. Ia mencoba untuk memberikan Khalifa ruang untuk bicara berdua dengan Hilal, setidaknya untuk memperjelas foto yang baru saja mereka dapatkan.


Khalifa, wanita itu masih diam berdiri dengan kepala tertunduk dan tangan yang memegang erat amplop berisi foto suami nya bersama wanita lain.


“Khal, ada yang ingin ku tanyakan sama kamu.” Hilal memegang kedua bahu istrinya membuat Khalifa langsung mendongak dan menatap wajah sang suami dengan begitu sakit.

__ADS_1


“Kenapa?” Hilal mengerutkan dahi nya, lalu satu tangan nya terulur untuk menghapus air mata di wajah istri nya, namun dengan cepat Khalifa menghindar ia tidak mau Hilal menyentuh wajah nya.


“Khal, maukah kamu ikut bersama ku ke rumah sakit lagi?” tanya Hilal membuat Khalifa mengerutkan dahi nya sedikit. Mungkinkah Aca sudah mau bertemu dengan nya? Maka dari itu Hilal pulang dan menjemput nya? Pikir Khalifa.


Tak bisa di pungkiri, ada sedikit kelegaan dalam hati jika ternyata benar Aca sudah mau bertemu dengan nya. Tapi, ternyata kelegaan nya harus menelan pil kepahitan saat Hilal melanjutkan perkataan nya.


“Kita harus ke dokter kandungan.”


Deg!


Seketika itu juga, langkah kaki Khalifa mundur beberapa langkah kecil. Ingatan nya seolah kembali saat dimana Mila yang selalu menyudutkan nya lantaran belum hamil dan memaksa nya untuk pergi untuk check kesuburan.


Dan kini, Hilal datang untuk mengajak nya ke dokter kandungan? Apakah Hilal kembali termakan ucapan Mila? Apakah Hilal akan menuntut nya juga untuk segera hamil? Lagi, sekelebat bayangan foto yang kini ia pegang kembali melayang di pikiran nya, membuat air matanya semakin tak kuasa untuk ia tahan.


Apakah wanita itu yang akan menjadi kunci dari harapan Mila dan Hilal di saat dirinya tak kunjung hamil? Tidak! Khalifa tidak akan rela dan sanggup jika harus ada madu dalam rumah tangga nya.

__ADS_1


Tanpa sadar, tangan nya semakin erat mencengkram amplop yang ia pegang, nafas nya memburu dengan begitu hebat bercampur air mata yang terus mengalir deras membasahi wajah nya.


...~To be continue .......


__ADS_2