Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Part 5


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Mas, mending tidur aja deh sana." Khalifa menghela napas nya dengan cukup berat, merasa sedikit risi ketika melihat suami nya yang sejak tadi terus menatap ke arah nya dengan tatapan yang sangat sulit di mengerti.


Mungkin, sebenernya Khalifa mengerti, hanya saja ia memilih untuk menolak mengerti. Rutinitas setiap malam nya, ia selalu melakukan pumping ketika baby Ilo tidak terbangun. Dan seperti biasa, Hilal pasti akan selalu menemani nya.


Biasanya, Hilal akan menemani Khalifa dengan mengaji atau bahkan bersholawat sambil menimang bayi kecil nya.


Akan tetapi, berbeda dengan malam ini. Laki laki itu justru hanya berpangku tangan di depan Khalifa sambil menerbitkan sebuah senyuman tanpa mengedipkan mata cukup lama.


"Aku mau nemenin kamu Sayang!" Hilal kembali menyunggingkan senyuman nya membuat Khalifa hanya bisa pasrah, "Mau di bantu gak?"


"Enggakkk!" tolak Khalifa dengan cepat sambil matanya membola dengan sempurna membuat Hilal seketika terkekeh.


"Mass, aku gak jadi konsen pompa nya, kalau kamu lihatin gitu terus!" Khalifa merengek.

__ADS_1


"Ya orang cuma di lihatin doang loh, tenang aja. Aku gak akan minta," kata Hilal menegakkan badan, "Setidaknya untuk saat ini." imbuh nya dengan di sertai kekehan kecil membuat Khalifa lagi lagi harus membulatkan matanya dengan sempurna.


"Kangen banget tahu sama kamu," tiba tiba Hilal merebahkan kepala nya di atas pangkuan sang istri, dengan posisi Khalifa yang masih sibuk dengan pompa asi nya.


"Astaghfirullah Mas, kamu ih! Ini belum selesai!" kata Khalifa berusaha menyingkirkan kepala suami nya.


Bukan pergi atau memindahkan kepala nya, laki laki itu justru kini malah membalik wajah nya hingga menghadap bagian perut istri nya yang masih terlihat sedikit buncit pasca melahirkan.


Ia tatap lekat bagian perut itu dengan perasaan yang bercampur aduk. ada rasa haru dan juga bahagia atas apa yang sudah berhasil ia dapatkan saat ini.


"Hemm... " jawab Khalifa tanpa menatap Hilal, karena kini tangan dan matanya cukup sibuk memasukkan asi nya ke dalam sebuah botol yang sudah ia siapkan.


"Masih sakit gak?" tanya Hilal dengan wajah polos nya mendongak untuk menatap Khalifa, namun tangan nya menyentuh perut istrinya.


"Bukan sakit, tapi geli ih! Udah sana loh, Mas duduk aja kaya tadi. Kenapa malah jadi rebahan begini," Khalifa kembali menghela napas nya kasar.

__ADS_1


"Di bilang kangen juga, kok gak peka sih."


"Mas, sumpah ya kamu gak pantes banget masang muka kaya gitu!" Khalifa menggelengkan kepala nya saat melihat bagaimana Hilal kini sedang memanyunkan bibir.


Entah apa yang salah pada laki laki itu, tapi memang sejak Khalifa hamil. Wanita itu sering kali melihat keanehan dan perubahan pada diri suami nya.


Bukan hanya sikap manja, cengeng tapi juga Hilal semakin mudah mengubah ekspresi wajah nya. Khalifa berfikir, mungkin saja Hilal selama ini berguru kepada putri nya, Aca. Jadilah ia bisa membuat berbagai macam ekspresi seperti itu.


Tapi, menurut Khalifa wajah itu sangat tidak cocok dengan keseharian Hilal yang begitu dewasa, kalem, lembut dan sabar.


sedangkan jika si rumah, sifat Hilal jauh berbanding terbalik, menjadi kekanak-kanakan, cerewet yang seperti Aca bahkan menjadi tidak sabaran.


Terkadang, Khalifa berfikir benarkah dia menikahi seorang duda, bukan anak anak atau berondong? Dan apakah benar dirinya adalah seorang ibu dari dua anak? karena sejak setelah dirinya melahirkan, justru dirinya merasa seperti memiliki tiga orang anak.


"Mie instan ku tinggal tiga bungkus loh. Berarti sebentar lagi ya kan?" senyuman Hilal kembali terbit begitu lebar di wajah nya saat menatap sang istri, membuat Khalifa seketika langsung terdiam dengan degup jantung yang semakin berdetak tak karuan.

__ADS_1


...~To be continue... ...


__ADS_2