Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 55


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Hari berlalu, hari ini Aca sudah di perbolehkan untuk pulang. Karena memang kondisi nya sudah sangat baik, terlebih ketika ada Khalifa yang selalu menemani gadis kecil itu, semakin besar pula keinginan Aca untuk segera pulang.


Hubungan Khalifa dan Hilal sudah resmi berbaikan sejak malam itu. Khalifa sudah tidak mau mengungkit apapun lagi yang akan membuat hatinya sakit. Kini, fokus nya hanya akan untuk aca dan juga calon bayi nya yang hingga saat ini masih belum di ketahui oleh Hilal.


Hilal memang sudah meminta maaf dan membujuk Khalifa, ia mempersilahkan Khalifa untuk bertanya apapun untuk lebih jelas. Dan satu hal yang membuat Khalifa merasa kagum dan sedikit heran. Di saat hubungan rumah tangga nya di ambang kehancuran karena ulah kakak ipar nya, sama sekali Hilal tidak menyalahkan Mila dalam hal itu. 


Saat keduanya bicara dan mencari celah jalan keluar untuk hubungan mereka, Hilal sama sekali tidka menyinggung atau menyalahkan orang lain. Dia hanya mengatakan bahwa memang dirinya yang salah, Hilal yang kurang wawasan dan kurang kepekaan terhadap apa yang di rasakan istrinya.


Hilal yang terlalu egois dan hanya mementingkan duniawi yakni pekerjaan nya. Walau pun sebenarnya, Khalifa sendiri sudah tahu dengan semua yang terjadi dari orang tuanya. Namun, ia juga menghargai suaminya dan mengiyakan saja setiap apa yang sudah di jelaskan.


‘Ketika kapal yang kita sedang kita gunakan untuk mengarungi sebuah lautan. Jangan pernah salahkan ombak yang terus menerpa yang mengakibatkan kapal itu rusak. Tapi cobalah untuk mencari kesalahan itu pada kapal mu sendiri. Seperti yang di ketahui, dalam membuat kapal, harus menggunakan bahan dan alat yang berkualitas agar kapal itu kokoh dan tahan dengan segala kondisi. Karena kapal yang kuat dan nahkoda yang tangguh akan memilih untuk mempertahankan kapal daripada harus berdebat dengan ombak!’

__ADS_1


Kata kata yang di ucapkan oleh Hilal pada malam itu, nyatanya mampu membuat Khalifa sadar. Bahwa dirinya juga tidak sepatutnya memiliki niat untuk meninggalkan kapal. Kapal yang sudah lama ia impikan dan ketika di tengah lautan, justru ia akan pergi, bukankah itu sangat tidak adil?


Khalifa akui, bukan hanya Hilal yang salah. Tapi dirinya juga sama. Seharusnya ia ikut mencari kerusakan pada kapalnya agar bis di perbaiki, bukan malah sibuk menyalahkan ombak yang sudah menerpa dan berusaha menghancurkan kapal nya. 


Karena sampai kapanpun, namanya lautan pasti akan ada ombak yang selalu menerjang. Hingga sampai saat nya nanti, kita sudah berhasil mengarungi lautan itu dan bisa terbebas dari hantaman ombak.


“Hilal, apakah hari ini akan langsung? Tidak menunggu sampai—”


Hari ini, bukan hanya Hilal dan Khalifa yang berada di rumah sakit untuk menjemput Aca. Namun, orang tua Hilal pun juga ada di sana untuk memberikan semangat untuk cucu perempuan nya.


Tak  bisa di pungkiri, bahwa kiyai abdul merasa sangat bersyukur Ketika melihat keadaan yang sudah membaik.


Sejak awal, ia memang tidak ingin ikut campur, ia juga tidak menyalahkan siapapun. Sebagai orang tua, abah abdul hanya memberikan jalan dan nasehat untuk anak nya berfikir dan memilih Langkah nya sendiri.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, sepertinya Abah dan Umi akan pulang lebih dulu. Nanti malam, kita kumpul Bersama. Abah akan mengundang abi kalian untuk datang ke rumah!” ucap kiyai Abdul menepuk bahu anak bungsu nya.


“Baik Abah, insyaallah!” jawab Hilal menganggukkan kepala nya.


“Khalifa, Umi pulang dulu ya. Kalian hati hati,” ucap ummi Nila menggenggam tangan menantu nya dedngan begitu lembut.


“Iya Umi, terimakasih,” Khalifa memeluk ibu mertuanya lalu melepaskan nya.


“Assalamualaikum … “ ucap kiyai Abdul dan umi Nilla.


“Walaikumsalam …. “


...~To be continue …. ...

__ADS_1


__ADS_2