
...~Happy Reading~...
“Mas, kamu gak ke pabrik?” Khalifa mendudukkan dirinya di samping sang suami yang Tengah bermain ponsel di sofa keluarga.
“Enggak sayang! Hari ini gak begitu banyak kerjaan, masih bisa ku handle dari rumah. Makanya bisa nyantai,” jawab nya tersenyum lalu mengecup kening istrinya.
“Jangan mulai deh Mas!” Tiba tiba Khalifa menatap tajam pada sang suami, saat dirinya merasakan mulai adanya sedikit ancaman.
Hilal terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya, “Mulai apa sih? Tadi kan udah di mulai,’’ imbuh nya sedikit berbisik.
Bug!
“Sayangg sakittt loh!” kata Hilal Kembali memasang wajah manja nya kepada Khalifa.
Sungguh, entah apa yang sudah konslet di kepala suaminya, atau memang seperti ini sifat asli sang suami. Sejak menikah, laki laki itu sangat jauh berbeda, terlebih sejak Khalifa hamil Ilona, hingga sekarang sikap dan sifat suaminya benar benar berbanding terbalik dari sebelum menikah dengan Khalifa.
__ADS_1
Entah kemana perginya sosok gus Hilal yang dulu begitu lembut, kalem dan dewasa selalu tenang dalam setiap berbicara. Sedangkan sekarang? Laki laki itu masih baik dan lembut, akan tetapi sifat dewasa nya seolah hilang dan sirna. Bahkan terkadang Khalifa sampai bingung, apakah Hilal itu suami nya atau anak nya.
“Mas, gak ada cita cita buatin teh apa untuk aku?” tanya Khalifa kini menyandarkan kepala di bahu sang suami, setelah beberapa saat yang lalu Hilal yang bersandar, kini seolah Khalifa menuntut untuk bergantian.
“Cita cita ku lebih dari sekedar membuatkan mu teh., Sayang.”
“Ya udah kalau gitu gih ke dapur. Aku capek banget loh kamu hajar dari tadi!” Bibir Khalifa kembali memanyun, tubuh wanita itu sudah kembali terduduk tegak.
“Eh tunggu dulu, bukannya kamu tadi yang lebih banyak ngehajar aku ya?” Hilal mengerutkan dahi nya menatap sang istri dengan tatapan yang penuh arti.
Sementara itu, Hilal yang melihat ekspresi wajah istrinya, semakin di buat tertawa gemas. Laki laki itu kembali menghujani ciuman pada istrinya bertubi tubi sebelum akhirnya bangkit menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat.
“Sayang!! Gula dimana?” teriak Hilal dari dalam dapur.
“Ihh ada di lemari situ, di dekat teh sama kopi!” jawab Khalifa sambil matanya Kembali menikmati acara televisi.
__ADS_1
“Gak ada Sayang!” kata Hilal, kedua tangan nya begitu sibuk membuka pintu lemari satu persatu hanya untuk mencari dimana keberadaan sang gula pasir.
“Ada! Toples nya warna biru!” seru Khalifa.
“Astagfirullah, tapi semua toples nya biru!” keluh Hilal berdecak, kala melihat deretan toples yang berwarna biru muda menghiasi isi lemari dapur, akan tetapi isinya gak ada yang gula.
“Ya Allah Mas, Cuma di mintai tolong buat teh sekali aja heboh banget sih! Masa iya toples segitu besar nya kamu gak Mas. Toples nya paling besar pokok nya di antara toples lain!”
“Sayang beneran deh, toples gula itu gak ada! Kamu kesini sebentar! Adanya beberapa kopi sama teh, dan ini apa ini? Gula halus, kamu mau pakai gula halus?” tanya Hilal mengerutkan dahi nya.
‘Astagfirullah sabar, sabar sabar!’ gumam Khalifa dalam hati nya menahan sedikit rasa geram.
Kenapa sekarang menanyakan apakah dirinya ingin minum teh dengan gula halus. sejak kapan ada teh yang di suguhkan dengan gula halus? Ah sungguh menyebalkan, acara masak masak nya gagal karena Hilal mengajak nya bertempur usai mengantarkan anak anak sekolah.
Dan kini, Ketika dirinya meminta tolong untuk memuat the saja, harus membuat drama dulu. Dalam hati Khalifa sangat ingin merutuki suaminya, yang sebenarnya tidak Ikhlas membuatkan dirinya the, maka dari itu beralasan tidak menemukan gula, agar Khalifa menyusul dan membuat the sendiri, pikir Khalifa kesal.
__ADS_1
...~To be contuinue … ...