Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 62


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Walaikumsalam, iya Nak? Bunda baru saja sampai di Hotel,” Khalifa melepaskan tas dan juga sepatu nya sebelum memasuki kamar untuk istirahat. Perut nya yang sudah sangat besar, membuat nya sedikit sulit untuk melakukan aktifitas dengan cepat.


‘Bunda dede bayi na sudah makan bulum?’ Khalifa tersenyum saat lagi lagi mendengar pertanyaan posesif dari putri nya.


Dimana pun Khalifa berada dan kemana pun ia pergi, pasti Aca akan selalu menghubungi nya dengan menggunakan ponsel opa atau tante nya atau siapapun yang ia temui jika saat waktu makan. Entah itu pagi, siang sore atau bahkan malam.


Bahkan, pernah waktu Khalifa pergi ke Bali, ia mendapatkan panggilan telfon dari nomor baru. Dan ketika ia angkat ternyata suara Aca yang begitu merdu namun lantang langsung terdengar jelas ketika Khalifa baru menjawab nya.


Sedikit bingung Aca menggunakan telfon siapa, ternyata ia kabur ke Pondok dan meminjam ponsel salah satu ustadz yang saat itu sedang mengajar.


Tentu saja, Khalifa dan Hilal merasa sungkan dan tidak enak. Akan tetapi, Aca meyakinkan kedua orang tuanya bawa ustadz itu tidak mempermasalahkan dan sangat ikhlas.


Begitulah Aca, selalu memberikan keajaiban di setiap saat. Bisa membuat orang tua nya mendadak darah tinggi, namun jika tak mendengar suara nya barang satu hari saja, maka akan membuat kedua orang tuanya kehilangan.


“Alhamdulilah, sudah Sayang. Kakak Aca sudah makan belum?” tanya Khalifa.


“Aca belum makan, kan nungguin adik bayi na makan dulu.”

__ADS_1


“Sayang, Kakak makan ya? Gak boleh menunda waktru makan.”


“Tapi na, ante Asna juga gitu Bunda. Masa tadi Cuma makan sayul na dikit doang, dikit banneett, kaya mam na linci.” Ucap Aca menjelaskan, sedikit membuat dahi Khalifa mengerut untuk sesaat, “Aca juga mau kaya ante Hasna Bunda, makan dikit saja. Bial gundut kata na.”


Sekarang Khalifa paham, kemana arah pembicaraan Aca. Hasna memang sedang menjalani program diet untuk menurunkan berat badan. Dan mungkin disini Aca mengalami sedikit kesalahpahaman.


Dirinya mengira bahwa Hasna melakukan diet untuk menambah berat badan, maka dari itu Aca memutuskan ikut mengurangi makanan nya agar berat badan nya juga naik.


“Kan nanti bial pelut Aca gundut juga kaya Bunda. Jadi Aca juga mau kaya ante Hasna ya Bunda ya, gapapa ya?” tanya Aca lagi Sambil menganggukkan kepala nya.


“Sayang,” Khalifa menarik napas nya dengan cxukup panjang, “Tante Hasna, mengurangi makan bukan karena ingin menambah berat badan, tapi untuk mengurangi.”


“Intinya, Aca masih kecil sayang, jangan diet diet. Jangan mengikuti perlakuan orang besar.”


Hampir satu jam lamanya Khalifa dan Aca menghabiskan waktu untuk mengobrol. Beruntung, karena Kali ini Aca sedang menggunakan nomor Hasna, yang mungkin sedang berkunjung, jadi Khalifa bisa merasa sedikit santai.


Sambil mendengarkan ocehan Aca, Khalifa pun menyambi nya dengan acara mandi agar bisa lebih mempercepat waktu. Sementara itu, Hilal yang sejak tadi diam dan trak bersuara, bukan sepenuh nya sedang istirahat. Laki laki itu tengah meringkuk di atas sofa karena merasa tubuh nya sangat lah lemas.


Kepala nya pening bahkan perut nya mulai bergejolak dengan begitu hebat. Padahal, ia yang memaksa ingin ke Jakarta dan ingin makan makanan Khas kota itu sambil menikmati pemandangan tugu monument. Tapi, baru juga tiba ia sudah tepar.

__ADS_1


“Mas, aku—“ Khalifa mengerutkan dahi nya, ia terlalu sibuk dengan anak nya sampai melupakan keadaan suami nya, “Kamu kenapa?” tanya Khalifa segera menghampiri sang suami.


“Sakit,” Hilal bergumam begitu manja sambil merentangkan kedua tangan nya seolah memberi tanda agar sang istri mendekat dan memeluk nya.


“Apa nya yang sakit? Mau ke rumah sakit?” Hilal menggelengkan kepala nya pelan.


“Perut aku mules, tapi juga mual banget. Kepala ku pusing dan aku merasa tenaga ku sudah habis,” jelas Hilal membuat Khalifa merasa kasihan namun juga bingung.


‘’Kita ke rumah sakit ya ?’’ Lagi lagi, lelaki itu menggelengkan kepala nya, ‘’Terus gimana ?’’


‘’Mau peluk dulu,’’ gumam nya begitu manja sambil semakin mengeratkan pelukan nya pada Khalifa.


‘’Kenapa kamu jadi mirip Aca sih Mas!’’ keluh Khalifa menghela napas nya berat sambil tangan nya juga spontan ikut bergerak mengusap kepala suami nya.


‘’Ya mana aku tahu, kamu tanyain Aca gih kenapa nyebarin virus kaya gini ke Ayah nya,’’


Bug !


‘’Sayang !’’ seru Hilal langsung membuka mata saat tiba tiba Khalifa memukul bahu nya. Tentu saja, Khalifa melakukan itu, bagaimana bisa Hilal justru menyalahkan Aca sedangkan yang bersikap dirinya sendiri.

__ADS_1


...~To be continue …...


__ADS_2