Bunda Untuk Nasha

Bunda Untuk Nasha
Bab 39


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Ayah .... “ Hilal menarik napas nya cukup berat, lalu ia tersenyum tipis saat memasuki ruangan putri nya. Meskipun hatinya sedang kacau, tapi ia tetap harus tersenyum saat di depan putri nya.


“Kenapa Sayang?”


“Kakak ahsan na mau pulang.” Gadis kecil itu terlihat memanyunkan bibir nya kesal sambil menunjuk ke arah anak laki laki yang usia nya lebih besar darinya.


“Kan nanti aku kesini lagi Aca!”


“Iya benar sayang! Nanti tante Mila dan kakak Ahsan kesini lagi, makanya kamu cepet sembuh dong. Nanti bisa main ke rumah tante Mila, gimana?” ujar wanita itu ikut menghampiri Aca di brankar setelah bersiap siap.


“Sama ante Melly juga?” tanya Aca dengan mata berbinar nya, yang mana hal itu langsung di balas anggukkan oleh Ahsan dan juga Milla, “Boleh ya Ayah? Nanti Aca main kusana? Aca mau main kusana.”

__ADS_1


Untuk sesaat, Hiilal terdiam. Merasa aneh kala mendengar nama baru yang di sebutkan oleh putri nya. Memang ia pernah mendengar nama itu, akan tetapi, Hilal tidak tahu sejak kapan Aca bisa mengenal dan bahkan seperti se antusias itu ingin lebih dekat dengan wanita lain.


Padahal, biasanya Aca akan lebih antusias hanya jika bersama Khalifa. Lantas mengapa kini anak itu seolah pindah haluan kepada wanita lain. Walau pun wanita itu bukanlah orang jauh, dan masih saudara dengan sepupunya, akan tetapi tetap saja bagi Hilal itu sedikit aneh.


“Nasha kenal tante Melly?” Aca langsung menganggukkan kepala nya, “Dimana? Kapan dan—“


“Sudahlah Hilal, tidak perlu memberikan pertanyaan seperti itu sama Aca! Dia masih sakit loh!” Mila menarik napas nya cukup panjang sambil mengusap lembut jemari tangan Aca yang terpasang infus.


“Beberapa hari yang lalu, Melly datang ke pondok sama mba. Dia ketemu dan sempet main sama Aca, mungkin karena itu jadi Aca kenal sama dia.”


“Kamu terlalu sibuk kerja, jadi mana mengerti begituan Hilal,” Milla lagi lagi menghela napas nya berat, “Khalifa sedang pulang ke rumah orang tua nya. Kamu tahu sendiri, dia kalau di rumah nya begitu betah. Bukan maksud mba mau su'udzon, hanya saja kalau kamu gak ada di rumah, Aca lebih sering main sama santri di banding Khalifa. Harusnya kamu bisa lebih perhatian lagi sama anak kamu Hilal.”


“Ante ... “ Aca mendongakkan kepala nya dan menatap Mila dengan tatapan yang begitu sendu, namun dengan cepat Mila merangkul kepala anak itu dan mengusap nya dengan begitu pelan.

__ADS_1


“Saran mba, kamu mending fokus dulu sama anak kamu Hilal. Sampai dia sembuh, kamu gak usah datang ke Pabrik dulu, biar mas mu yang ngurus. Dan juga, seperti nya, kamu perlu bicara lagi dengan Khalifa.” Ujar Mila dengan sangat hati hati, membuat Hilal lagi lagi terdiam seribu bahasa.


Entah mengapa, kini tiba tiba ia merasakan pusing yang luar biasa menjalar di kepala nya. Nafas nya terasa sedikit sesak, bahkan pandangan nya sedikit berkunang, akan tetapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan nya. Semakin ia mencerna ucapan Mila. Maka kepala nya akan semakin di landa kepusingan yang luar biasa.


Karena hari sudah semakin siang, akhirnya Mila memilih pamit, karena ia harus mengantarkan Ahsan ke sekolah. Memang sekolah Ahsan terbilang siang, maka dari itu ia bisa menyempatkan diri untuk menjenguk Aca terlebih dulu sebelum ke sekolah.


Sementara itu, Hilal langsung mendudukkan tubuh nya di kursi setelah pintu ruangan Aca tertutup. Wajah nya begitu pucat dan kini keringat dingin mulai membasahi pelipis nya.


“Ayah kunapa?” tanya Aca sedikit panik.


“Gapapa sayang! A—ayah ke Toilet dulu ya, Aca gapapa kan disini sebentar saja?” Gadis kecil itu menganggukkan kepala nya, membuat Hilal dengan cepat bangkit dan berlari ke Toilet, hingga membuat Aca merasa sedikit kebingungan dan aneh dengan sikap ayah nya yang secara tiba tiba seperti orang sakit, padahal beberapa waktu sangat lah sehat.


‘Ayah sakit, kalena nunggu Aca disini?’ gumam gadis kecil itu dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


...~To be continue ......


__ADS_2