Cahaya Di Mataku

Cahaya Di Mataku
Dia terus mengganggu ku


__ADS_3

Chaiya benar-benar sangat kesal dengan ucapan Gara kali ini. Dalam hati Gara, ia tertawa geli melihat tingkah Chaiya yang sangat marah karna ia goda. Kemarahan Chaiya tidak membuat Gara menghentikan kejahilanya. Ia bahkan semakin bersemangat mengganggu Chaiya.


💖💖💖


Sepulang dari makan malam bersama Gara, bukan nya senang, Chaiya malah semakin kesal dan bersungut-sungut. "Pria vampir yang sok sekali!! Dia pikir semua orang bisa dia beli dengan uang nya?!!" uacap Chaiya kesal. Chaiya merebah kan tubuh nya di ranjang. Hari ini hari yang sangat melelahkan bagi nya. Bagaimana tidak, fisik dan emosi nya hari ini menguras habis-habisan tenaga nya. "Ku harap ini terakhir kali nya aku bertemu pria vampir itu. Aku bisa gila jika terus bertemu dia." guman Chaiya. Kini ia sangat lelah, dan tanpa terasa ia sudah tertidur tanpa mengganti baju dan melepas sepatu nya.

__ADS_1


Tak terasa musim gugur di London telah berakhir. Hari ini pertama kali nya salju turun di musim dingin tahun ini. Dan bagi Chaiya, ini adalah musim dingin pertama nya. Pertama kali nya ia melihat salju turun. Di saat semua orang tinggal di dalam rumah karna hawa dingin yang menusuk tulang. Namun tidak demikian dengan Chaiya. Ia justru pergi ke luar rumah nya. Chaiya mengadah kan tangan nya dan menyambut salju yang turun. Butiran salju putih itu begitu indah bagi Chaiya, ia tidak memperdulikan dingin nya cuaca saat itu. "Nona Chaiya! Masuk lah nona, jika kau terus di luar nanti kau bisa sakit!" ucap bibi Mery cemas. Dan benar saja, "Hatchuuu!" Chaiya jadi pilek sekarang.


"Kenapa tiba-tiba kau terkena flu Chaiya?" tanya dokter Jhon. "Ayah...kemarin aku terlalu lama main salju. Tapi aku baik-baik saja ayah." ucap Chaiya mencoba meyakin kan ayah nya. Dokter Jhon hanya tersenyum, ia sangat memaklumi sikap Chaiya, karna Chaiya memang belum pernah melihat salju sebelum nya. Ia meminta putri nya itu untuk istirahat setelah memberi nya obat. Chaiya menuruti perintah ayah nya dan menuju kamar. Baru saja Chaiya ingin merebahkan diri nya, namun nada dering dari ponsel nya menghalangi nya. Diraih nya ponsel itu dan ia melihat nomer yang tidak di kenal sedang ada dalam panggilan masuk. "Nomer siapa ini? kenapa menghubungi ku malam-malam." batin Chaiya.


"Kau memang seperti vampir saja! Kau menghisap habis semua ketenangan ku!" ucap Chaiya berapi-api. "Benarkah..? kalau begitu besok kita akan ke museum. Ok, bye!" ucap Gara lalu memutus kan sambungan telpon nya tiba-tiba. Tentu saja itu membuat Chaiya semakin kesal. Sementara itu di sisi lain Gara tersenyum puas. Ia sangat senang karna berhasil mengusili Chaiya. Entah mengapa ia sangat senang dengan ekspresi Chaiya, apalagi saat sedang marah. Pagi telah tiba dengan salju yang menumpuk di jalanan London. Para petugas kebersihan sudah mulai sibuk membersihkan tumpukan salju, agar tidak mengganggu pengguna jalan. Sementara itu Chaiya mulai menggeliat kan tubuh nya di balik selimut. Ia tidur sangat pulas karna meminum obat flu yang di beri kan ayah nya.

__ADS_1


Setelah selesai mandi dan berganti baju, Chaiya keluar dari kamar nya menuju meja makan. Dokter Jhon sudah duduk di sana sambil menyeruput secangkir kopi dan membaca koran kesayangan. "Selamat pagi ayah...selamat pagi bibi Mery." sapa Chaiya. "Selamat pagi nona Chaiya." jawab bibi Mery. "Bagaimana keadaan mu nak?" tanya dokter Jhon cemas. "Sudah lebih baik ayah." jawab Chaiya. Ia pun mulai menyeruput Coklat panas yang di buat bibi Mery. Coklat panas terasa sangat nikmat saat udara dingin sperti saat ini. Bibi Mery juga membuat roti lapis kesukaan Chaiya. Belum habis sarapan yang ada di piring nya namun "ting tong!!" ada yang menekan bel di pintu rumah nya. Bibi Mery membuka kan pintu dan melihat siapa tamu yang datang sepagi ini. "Selamat pagi semua!" sapa sang tamu yang tidak lain adalah Gara. Melihat itu Chaiya yang sedang meminum coklat itu pun menyemburkan coklat dari mulut nya.


"Uhuk..! Uhuk..! Uhuk..!" Chaiya jadi batuk-batuk karna tersedak. Gara tersenyum puas melihat kejadian itu. "Nona kau baik-baik saja?" ucap bibi Mery cemas melihat Chaiya tersedak. Chaiya menganggukan kepala nya menandakan dia baik-baik saja. "Tuan Gara, kehormatan sekali kau datang kemari. Silahkan tuan Gara, kebetulan kami sedang sarapan." ucap ramah dokter Jhon. "Dasar kau vampir menyebal kan!" batin Chaiya. Wajah Chaiya kini berubah cemberut, dan ia terus memelototi Gara. Dan itulah yang di harap kan Gara, ia pun tertawa geli dalam hati. "Wah! Coklat panas, seperti nya itu enak." ucap Gara. Ia mulai melancar kan keusilan nya pada Chaiya. "Chaiya..tolong ambil kan roti lapis juga untuk tuan Gara." ucap dokter Jhon pada Chaiya. "Baik ayah...dan bila perlu aku juga akan menimbun nya di tumpukan salju!" guman Chaiya pelan. Ia kemudian meletakan roti lapis di piring Gara dengan kasar.


"Dokter Jhon, sebenar nya Chaiya ada janji pergi ke museum denganku hari ini." ucap Gara pada dokter Jhon sambil melirik ke arah Chaiya. "Sejak kapan aku mau pergi dengan mu! Dasar aneh!" batin Chaiya sambil terus melotot pada Gara. "Tidak tuan Gara, kau salah paham. Karna aku harus ke universitas hari ini." Chaiya berusaha menolak Gara. "Chaiya...kau tidak bisa ke universitas hari ini." ucap Gara. "Kenapa memang nya!" ucap Chaiya kesal. "Karna hari ini adalah hari minggu Chaiya.." ucap Gara sambil berusaha menahan tawa nya. Mendengar itu Chaiya jadi malu dan salah tingkah. Bagaimana bisa dia lupa kalau hari ini hari minggu. Dan tentu saja itu membuat nya merasa konyol. Dan kini ia tidak punya alasan lagi untuk menolak Gara.

__ADS_1


__ADS_2