
Dengan lunglai ia berjalan menuju ke rumahnya. Hembusan angin malam itu menerpa Chaiya dengan sangat kuat. Alam seolah ikut berguncang seperti kemelut badai di hati Chaiya. Namun tubuh Chaiya seolah mati rasa. Ia tidak lagi memperdulikan betapa hembusan angin bertiup sangat kencang menerpanya. Tak seperti biasanya, Chaiya masuk ke rumah dengan tatapan kosong dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dokter Jhon pun bingung melihat keadaan putrinya yang sangat kacau. Esok adalah hari pernikahan Chaiya, namun bagi Chaiya esok adalah hari berakhirnya kehidupan.
💖💖💖
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan dan sangat di nantikan Gara. Hari di mana akhirnya ia dan Chaiya akan bersatu dalam sebuah ikatan suci. Semua persiapan untuk acara pernikahan telah di siapkan Gara dengan sangat sempurna. Ia pun kini layaknya seperti seorang pangeran gagah yang siap menanti sang putri.
Sementara itu kini Chaiya telah bersiap di sebuah ruangan yang di siapkan untuk mendandani sang mempelai wanita. Ia begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin berwana putih. Sebuah gaun yang sederhana namun elegan, membuat Chaiya bagaikan seorang putri nan jelita. Chaiya duduk di depan meja rias, memandang dirinya dari pantulan cermin.
Polesan make up menghias wajah sendu Chaiya, sorot matanya kini tertuju pada kalung yang ia kenakan di lehernya. Sebuah kalung dengan liontin cincin yang dulu Surya berikan padanya saat Chaiya masih belum bisa melihat. Di sentuhnya cincin yang kini menggantung di lehernya itu. Tanpa terasa air mata kembali menetes entah untuk yang kesekian kalinya.
Tanpa sengaja tatapan matanya mengarah pada sebuah cincin yang kini melingkar di jari manisnya, dan itu adalah cincin pemberian dari Gara. Ya, tanpa sengaja ia telah menerima dua cincin yang membuat hidupnya kini dalam konflik dan harus merelakan cintanya untuk pergi.
__ADS_1
"Selamat tinggal Surya, selamat tinggal cintaku." ucap Chaiya lirih. Chaiya kemudian bangkit dari kursi riasnya dan memalingkan wajahnya dari cermin di meja rias. Seorang penata busana kini tengah membenahi penampilan Chaiya agar ia tampak sempurna di pelaminan. "Oh...ya ampun! Kau terlihat sangat cantik." ucap sang penata busana denga logat gemulainya, bahkan terlalu gemulai untuk seorang pria.
Ya, penata busana untuk gaun Chaiya adalah seorang pria yang sedikit gemulai. Namun karya-karyanya tidak pernah mengecewakan. Ia begitu piawai dalam urusan mendisain gaun-gaun yang sangat indah dan menawan. Karnanya Gara dan para elite di London mempercayakan disain baju elegan yang menjadi selera para bangsawan di tanganya.
Penampilan Chaiya kini sangat sempurna. Sederhana, elegan dan sangat anggun. "Nona Chaiya, apa kau sudah siap?" tanya salah satu kru dari event organizer. "Maaf nyonya, bisakah aku minta waktu sebentar?" pinta Chaiya. "Baiklah nona Chaiya waktumu 10 menit sebelum acara di mulai." ucap kru EO tersebut.
Chaiya merasa begitu berat untuk melangkahkan kakinya menuju pelaminan. Ia berusaha mengumpulkan segenap kesadaranya untuk membantunya agar lebih tegar. "Tok! Tok!" tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu. "Nak, bolehkah ayah masuk?" ucap seseorang yang tidak lain adalah dokter Jhon. "Ya ayah." ucap Chaiya. Dokter Jhon menggenggam tangan Chaiya yang sangat dingin, di pandangnya wajah sendu putrinya itu dalam-dalam. "Nak ayah bertanya padamu sekali lagi. Apa kau benar-benar yakin dengan semua ini? Apa kau benar-benar sudah siap untuk menikah?" ucap dokter Jhon.
Dokter Jhon pun memeluk putrinya yang kini sangat kacau. "Kenapa takdir selalu memisahkan kami ayah, kenapa orang-orang yang ku cintai selalu pergi dariku?" ucap Chaiya. Ia masih menangis pilu dalam pelukan ayahnya. Gaun pengantin yang seharusnya membawa kebahagiaan untuk calon mempelai, namun justru membuat air mata Chaiya terus bercucuran.
Untuk beberapa saat Chaiya menjadi sangat emosional. Namun ia tidak ingin terus larut dalam kesedihanya. Bagaimanapun juga ia telah membuat pilihan, dan ia harus menjalankan tanggung jawabnya atas pilihannya itu. Chaiya kemudian mengusap air matanya dan berkata "Ayah jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab atas semua keputusanku. Aku akan menikah dengan tuan Gara, dan meninggalkan cintaku untuk selamanya."
__ADS_1
Tidak ada yang bisa dilakukan dokter Jhon, karna Chaiya sudah bulat pada keputusanya. "Ayah tunggulah aku di bawah, aku akan segera turun." ucap Chaiya. Dokter Jhon pun menurti permintaan Chaiya dan meninggalkanya untuk bersiap. Tak lama Chaiya akhirnya keluar dari ruang makeup untuk segera menemui dokter Jhon yang akan mengiringinya ke pelaminan.
Dengan di dampingi dokter Jhon, Chaiya berjalan menuju bollroom di mana acara pernikahanya akan diselenggarakan. Langkahnya terhenti saat berada di ambang pintu bollroom. Di pandanginya pintu itu seolah sedang berhadapan dengan gerbang pintu neraka. Ia berusaha untuk tegar dan tidak meneteskan air mata. Chaiya pun melanjutkan langkahnya menuju pelaminan dengan menggandeng erat tangan ayahnya.
Hamparan bunga-bunga mawar putih menghiasi seluruh ruangan yang megah itu. Lampu-lampu kristal pun tergantung dengan sangat indah dan membuat kesan mewah dalam acara pernikahan Chaiya. Karpet berwarna merah terhampar indah untuk menyambut kedatangan Chaiya. Chaiya berjalan menyusuri karpet merah dengan sangat anggun. Bunga-bunga melati nan semerbak bertaburan menghujaninya di sepanjang langkahnya menuju pelaminan.
Para tamu pun menyambut kedatangan Chaiya dengan penuh suka cita. Pernikahan Chaiya tidak seperti acara pernikahan orang-orang London pada umumnya yang menggunakan konsep budaya barat. EO yang di sewa Gara sengaja membuat konsep Timur Tengah sesuai dengan permintaan Gara. Karnanya pelaminan untuk mempelai pria dan wanita terpisahkan oleh tirai hijab. Tirai hijab akan dibuka setelah proses sakral kabul terlaksana dan kedua mempelai telah sah menjadi pasangan suami istri.
Chaiya kini tengah duduk di pelaminan mempelai wanita dengan didampingi oleh para wanita dari pihak mempelai wanita. Karna keluarga Chaiya hanya dokter Jhon, maka ia memilih Lisa dan Dita untuk mendampinginya di pelaminan. Kedua sahabat Chaiya itu terlihat sangat cantik dengan dandanan yang berbeda dari penampilan mereka biasanya. Sesekali mereka tampak menggoda Chaiya yang terlihat kehilangan senyuman di wajahnya. "Hei! Dimana senyum mepelai wanita kita ini?" ucap Lisa. "Jangan bilang kalau kau sudah membayangkan kegiatanmu nanti malam Chaiya." ucap Dita menggoda Chaiya. Chaiya pun mencubit kedua sahabatnya itu karna kesal.
__ADS_1