
Kalimat itu bukanya membuat Chaiya senang, tapi ia kini seperti tersengat aliran listrik. "Bagaimana mungkin..itu adalah kalimat yang Surya katakan padaku dulu saat di pekan raya." batin Chaiya.
💖💖💖
Hati Chaiya kini seperti deburan ombak yang menghantam batu karang. Ia mencoba mengacuhkan pikiranya tentang Surya. Namun semakin lama, sosok Crish ia rasakan semakin mirip dengan sosok Surya. Setiap perbuatan dan kata-kata Crish selalu mengingatkanya akan Surya. "Apakah ini mungkin? dua orang yang memiliki kepribadian yang sama?" batin Chaiya. Semua pertanyaan itu terus berputar-putar di kepala Chaiya. Namun semakin ia berpikir, maka semakin ia tidak menemukan jawaban.
Chaiya hanya bisa terpaku memandang wajah Surya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Nona Chaiya kau baik-baik saja?" ucap Surya. Chaiya menganggukkan kepalanya karna ia tidak sanggup lagi untuk menuturkan kata-kata. Surya tau jika saat ini hati Chaiya sedang bergejolak. Ia puas karna tujuanya untuk membangkitkan kenangan Chaiya tentangnya ternyata berhasil.
"Sebaiknya aku mengantarmu pulang nona Chaiya. Lihat, kita lupa waktu dan sekarang hari mulai malam." ucap Surya. Surya berpikir misinya hari ini cukup, dan ia akan mengantar Chaiya pulang. Chaiya menyetujui ucapan Surya, karna saat ini ia tidak bisa memikirkan apapun. Hati dan pikiran Chaiya saat ini sedang sangat gelisah, namun ia tidak tau harus berbuat apa.
Saat ini, Chaiya sudah berada di dalam kamarnya. Ia merebahkan dirinya di rajang tidur yang ada di kamarnya. Kali ini matanya tidak kunjung bisa terpejam, pikiranya selalu tertuju pada Surya. "Kenapa dia tidak mau pergi dari kepalaku?!" ucap Chaiya kesal. Sepanjang malam yang Chaiya lakukan hanya berguling ke kanan dan kiri, hingga ia lelah. Dan akhirnya ia mulai bisa terlelap saat menjelang pagi.
__ADS_1
Baru beberapa jam ia berhasil memejamkan matanya, namun nada dering dari ponselnya telah mengagetkannya. Chaiya terduduk di ranjangnya dengan kesadaran yang belum sempurna. Bagaimana tidak, ia baru tertidur beberapa jam dan kini suara ponselnya membuatnya terpaksa bangun. Di raihnya ponsel itu, dan ternyata nama Gara tertera dalam panggilan masuk. "Halo..." sapa Chaiya dengan lesu.
"Bangun putri tidur! Buka matamu dan lihatlah ke luar jendela." ucap Gara. "Kenapa aku harus melihat keluar jendela sepagi ini..?" tanya Chaiya. Chaiya masih mengantuk, bahkan matanya begitu berat dan enggan untuk terbuka. Namun karna Gara terus berisik dan mendesak Chaiya, maka dengan terpaksa Chaiya menurutinya. Kaki Chaiya mulai turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah jendela dengan langkah yang sangat berat.
Chaiya membuka jendela kamarnya perlahan dan melihat ke arah luar. "Tuan Gara!" ucap Chaiya. Mata Chaiya yang tadinya seolah tidak bisa terbuka, kini membelalak sangat lebar. Bagaimana tidak, sepagi ini ia sudah mendapati Gara di depan rumah dengan senyum lebar di wajahnya. Tak hanya itu, Gara juga membawa seikat mawar putih kesukaan Chaiya dan selembar kertas yang bertuliskan "Good Morning nona cerobohku."
Dengan terpaksa Chaiya keluar menemui Gara walau masih memakai piyama. "Bukanya kau bilang akan di Dubai selama beberapa minggu?" ucap Chaiya. Ia heran karna belum ada seminggu tapi sekarang Gara sudah kembali. "Aku tidak bisa terlalu lama jauh darimu, jadi kupercepat jadwal kerjaku. Kenapa? kau tidak senang aku datang?" ucap Gara. "Tentu saja! Kau membangunkanku terlalu pagi!" dengus Chaiya.
"Apa ini tuan Gara?" tanya Chaiya sambil membolak balik kertas yang lebih tepatnya adalah sebuah kartu. "Bukalah!" ucap Gara. Chaiya pun membuka kartu itu dan ia kembali di kejutkan oleh Gara. Ya, kartu itu adalah kartu undangan untuk pernikahan Chaiya dan Gara. Nama mereka tertulis begitu indah di kartu undangan yang diam-diam sudah di siapkan oleh Gara.
"Bagaimana Chaiya? apa kau suka? jika kau tidak suka akan ku desain lagi yang baru." ucap Gara. "Kenapa harus buat lagi?! Kau ini memang suka buang-buang uang. Aku bahkan belum mengatakan apa pun!" ucap Chaiya kesal. "Baiklah, jadi kuanggap kau sudah setuju dengan desain undanganya. Dan ada lagi yang ingin ku katakan. Aku sudah menyewa EO untuk mengatur dan mengurus acara pernikahan kita." ucap Gara.
__ADS_1
Chaiya tidak bisa berkata apa pun, kecuali tersenyum pada Gara dengan senyuman yang ia paksakan. Entah mengapa hati Chaiya terasa sesak dengan semua rencana pernikahanya. Saat ia memutuskan menerima lamaran Gara, ia pikir Gara adalah satu-satunya pria yang ada dalam hidupnya saat ini. Chaiya pikir, ia akan mecoba membuka hati untuk Gara dan mengembalikan cinta dalam hidupnya.
Ia tidak menyangka, jika di tengah perjalanan ia akan bertemu dengan sosok Crish yang tidak lain adalah Surya. Crish telah memberikan rasa yang berbeda di hati Chaiya. Membuat Chaiya seolah merasakan kehadiran Surya lagi dalam hidupnya. Kerinduanya pada Surya seolah terobati saat ia bersama dengan Crish. Namun kini Chaiya tidak bisa berbuat apapun.
Keputusanya untuk menikah dengan Gara kini telah membuatnya dalam dilema. Di satu sisi hatinya ingin selalu berada bersama Crish. Namun di sisi lain, ia telah membuat janji untuk menikah dengan Gara. Dan ia tidak ingin menyakiti Gara dengan mengubah keputusanya.
Di kamarnya, Chaiya duduk terdiam di sisi ranjangnya sambil terus menatap kartu undangan pernikahanya. Dokter Jhon yang merasa aneh dengan sikap putrinya hari ini berusaha mencari tau. Ia mengetuk pintu kamar Chaiya, ingin mengajak putrinya bicara. Dokter Jhon duduk di samping Chhaiya dan membelai kepala putrinya itu dan berkata "Ada apa Chaiya? kau baik-baik saja kan nak?" Chaiya tersenyum pada ayahnya, ia tidak ingin membuat ayahnya khawatir. "Ya ayah, aku baik-baik saja." ucap Chaiya.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu untuk menikah dengan tuan Gara?" tanya dokter Jhon. Pertanyaan ayahnya tentu membuat hati Chaiya kembali bergejolak. Chaiya terdiam dan tidak bisa mengatakan apa pun untuk menjawab pertanyaan ayahnya. "Ayah merasa kau tidak bahagia dengan keputusan ini. Jika kau tidak menginkan pernikahan ini, katakanlah sebelum terlambat nak." ucap dokter Jhon.
"Tidak ayah, aku sendiri yang telah memutuskan untuk menikah dengan tuan Gara. Jadi, mana mungkin aku tidak bahagia. Aku hanya...merasa gugup saja ayah." ucap Chaiya. Chaiya berusaha meyakinkan ayahnya bahwa ia bahagia dengan keputusanya. Karna jauh dalam hati Chaiya, ia pun tidak tau apakah keputusanya ini benar atau salah.
__ADS_1