
"Jadi kawan, apa kau tidak ingin mengucapkan selamat untuk ku?" ucap Gara pada Surya. Surya pun memeluk Gara dan berkata "Selamat kawanku, selamat atas pernikahanmu. Semoga kau selalu bahagia bersama orang yang kau cintai." ucap Surya sambil memandang Chaiya. Gara kemudian memberikan sebuah kartu undangan kepada Surya. Sebuah kartu undangan yang sederhana namun sangat cantik, dengan nama Gara dan Chaiya tertera indah di sana.
💖💖💖
Di ruang kerjanya, Surya terus memandangi kartu undangan yang di berikan sahabatnya itu. Di sentuhnya kartu undangan yang bertuliskan nama Chaiya dan Gara dengan begitu cantiknya. Tanpa terasa bulir air mata Surya jatuh menetes dan membasahi kartu undangan pernikahan Chaiya. Hati Surya begitu hancur bagai serpihan kaca yang remuk. Bagaimana tidak, Chaiya adalah nyawa, hidup dan nafasnya. Lalu bagaimana bisa Surya akan menjalani hidup dengan kehilangan sebagian dari dirinya.
Tidak ada yang bisa Surya lakukan selain mengutuki dirinya sendiri. "Kenapa..? kenapa aku terlambat menemukanmu Chaiya? Sehingga aku harus membiarkanmu di miliki pria lain, dan harus melepaskanmu di depan mataku. Kenapa kisah kita harus berakhir seperti ini Chaiya...?" ucap Surya terisak.
Sementara itu, keadaan Chaiya pun tidak jauh berbeda dengan Surya. Di dalam kamarnya ia menangis tersedu sambil memeluk boneka kesayangannya. "Kenapa? kenapa aku harus bertemu denganmu di saat yang tidak tepat? kenapa aku bisa jatuh cinta padamu di saat aku telah terikat janji dengan Gara?" ucap Chaiya dengan terisak.
__ADS_1
Tiba-tiba suara dering ponsel Chaiya terdengar dan mengalihkanya dari tangisnya. Di raihnya ponsel yang ia letakkan di bantal tempat tidurnya. Terlihat di layar ponsel sebuah notivikasi pesan masuk yang di kirim oleh Surya. "Tuan Crish?" batin Chaiya. Ia pun kemudian membuka dan membaca sebuah pesan dari Surya "Nona Chaiya, aku ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali, sebelum kau menikah. Ku tunggu di tepi Sungai Thames malam ini." itulah pesan yang tertulis di layar ponsel Chaiya.
Chaiya semakin terisak setelah membaca pesan dari Surya. Dalam hati Chaiya sebenarnya ia juga sangat ingin untuk bertemu dengan orang yang ia anggap mirip dengan Surya, dan yang sudah membuatnya jatuh cinta. Chaiya pun membalas pesan Surya "Baiklah tuan Crish, aku akan datang." Dan seperti janjinya, Chaiya datang ke tepi Sungai Thames untuk menemui Surya.
Saat Chaiya datang, Surya sudah berdiri di sana menanti kedatangan Chaiya. Dengan hati yang perih dan air mata yang mulai tidak bisa di bendung, Chaiya datang menghampiri Surya. Surya tersenyum sendu sambil memandang Chaiya. Ia tak sanggup lagi menahan dirinya dan memeluk Chaiya dengan erat. "Maafkan aku Chaiya, aku tidak bisa menapati janjiku pada bibi Srada." ucap Surya.
Ucapan Surya bagaikan petir yang menyambar hati Chaiya. Seketika ia mendorong tubuh Surya dan melepaskan diri dari pelukan Surya. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Ya Chaiya, aku adalah Surya, Surya mu. Apakah kini kau tidak bisa mengenaliku sayang?" ucap Surya dengan berderai air mata. "Surya..? jadi kau benar Suryaku!" ucap Chaiya.
Chaiya begitu hancur mendengar cerita Surya, ia merasa begitu bodoh karna tidak mengenali orang yang sangat ia cintai. Surya membelai lembut wajah Chaiya dan berkata "Dulu, kau bahkan bisa mengenaliku hanya dari langkah kakiku walau matamu tertutup. Tapi kini, kau bahkan sudah melupakanku sayang." "Aku menunggumu Surya, aku selalu menunggumu tapi kau tidak kunjung datang. Hingga akhirnya kabar itu merenggut hidup dan kebahagiaanku. Ku pikir kau telah tiada Surya." ucap Chaiya.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang, terlalu banyak air mata dan kesedihan yang kau alami selama ini. Maafkan aku..aku tidak bisa menepati janjiku padamu, aku tidak bisa lagi menjaga dan melindungimu. Sekeras apa pun aku berusaha, sepertinya inilah yang di tuliskan takdir untuk kita." ucap Surya. "Tidak Surya, aku tidak mau kehilanganmu lagi. Kumohon jangan tinggalkan aku." pinta Chaiya.
"Tidak sayang, semua sudah terlambat sekarang. Lihatlah, cincin yang kuberikan padamu dulu kini berada di lehermu sebagai liontin, dan cincin Garalah yang kini melingkar di jari manismu." ucap Surya. "Tidak! Aku tidak bisa melakukan ini." ucap Chaiya. Ia benar tidak ingin kehilangan Surya untuk kedua kalinya. "Gara adalah sahabatku, dan aku sangat menyayanginya. Aku tidak bisa menghancurkan hati nya dengan merampasmu dari nya. Dan jangan hancurkan kehormatan dokter Jhon dengan membatalkan pernikahan ini Chaiya." jelas Surya pada Chaiya.
Ucapan Surya benar-benar membuat Chaiya dalam dilema. Ia begitu kalut dengan semua keadaan yang terjadi padanya. "Mungkin inilah akhir dari kisah kita Chaiya. Walau begitu, aku akan selalu mencintaimu selama hidupku. Selamat menempuh hidup baru sayang, semoga semua kebahagiaan selalu tercurah untukmu. Dan jika memungkinkan, lupakanlah aku dan berbahagialah bersama Gara." ucap Surya sambil memeluk erat tubuh Chaiya. Surya mencium kening Chaiya untuk terakhir kalinya.
Dengan hati yang hancur ia beranjak untuk meninggalkan Chaiya. Tidak ada yang bisa dilakukan Chaiya selain menangis tersedu. Di tepi Sungai Thames ia tersungkur dan melampiaskan isi hati dan kekecewaanya. "Kenapaaaa! Kenapa semua ini terjadi padaku!" teriak Chaiya. Ia menangis sejadi jadinya dan meluapkan semua emosinya.
Kini, sekali lagi Chaiya kehilangan cahaya dalam hidupnya. Chaiya kini tak ubahnya seperti mayat tanpa nyawa. Tidak ada keinginan untuk hidup, cintanya telah hancur bersama dengan semua kebahagiaanya. Ia bertahan hanya untuk menjalankan kewajiban dan menunaikan janji yang telah ia buat.
__ADS_1
Dengan lunglai ia berjalan menuju ke rumahnya. Hembusan angin malam itu menerpa Chaiya dengan sangat kuat. Alam seolah ikut berguncang seperti kemelut badai di hati Chaiya. Namun tubuh Chaiya seolah mati rasa. Ia tidak lagi memperdulikan betapa hembusan angin bertiup sangat kencang menerpanya. Tak seperti biasanya, Chaiya masuk ke rumah dengan tatapan kosong dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dokter Jhon pun bingung melihat keadaan putrinya yang sangat kacau. Esok adalah hari pernikahan Chaiya, namun bagi Chaiya esok adalah hari berakhirnya kehidupan.