
Hati Chaiya begitu gembira dan berbunga-bunga setelah bertemu Crish yang tidak lain adalah Surya. Ia mersakan hal yang dulu pernah ia rasakan saat bersama Surya. Perasaan yang membuatnya merasa benar-benar hidup, yaitu...perasaan cinta.
💖💖💖
Hari ini Chaiya memanfaatkan hari liburnya untuk santai sejenak dan melepaskan kepenatan dari berbagai kegiatannya. Projek skripsi telah menyita banyak waktu, tenaga dan fikiranya. Karnanya hari ini ia berencana jalan-jalan menikmati musim semi, dan ingin sedikit belanja tentunya. Sudah lama sekali sejak terakhir ia menghabiskan waktu untuk jalan-jalan.
Kali ini Chaiya menggunakan sepeda untuk berkeliling. Ia sangat menikmati menyusuri jalanan London. Hari ini suasana terasa sangat sejuk dengan barisan pohon-pohon rindang di sepanjang jalan yang Chaiya lewati. Burung-burung pun berkicau bersahutan, seolah ingin mengajak Chaiya untuk bernyanyi. Suasana seperti ini adalah hal yang sangat di rindukan oleh Chaiya. Suasana yang mengingatkannya pada desa Srivan yang telah lama ia tinggalkan.
Chaiya menghentikan laju sepedanya sesaat untuk menikmati hembusan semilir angin yang menerpa wajah cantiknya. Daun-daun dari pepohonan melambai-lambai seolah memberi rasa tenang dan damai. Chaiya memejamkan matanya dan menghirup udara segar dalam-dalam. Jiwa dan raga Chaiya seolah mendapat energi baru sekarang.
__ADS_1
Ia pun melanjutkan kembali laju sepeda nya menuju Cap Town. Ini adalah kali keduanya mengunjungi Cap Town. Chaiya sangat senang berbelanja pernak pernik unik di sana. Ia mulai berkeliling Cap Town untuk berburu benda-benda unik sambil menuntun sepeda nya. Langkah Chaiya terhenti pada sebuah lapak yang menjual pernak pernik etnik. Ia begitu antusias dengan gelang yang terbuat dari kayu, rotan dan giok yang berpadu sangat cantik.
Begitu asiknya Chaiya memilih gelang hingga tanpa sadar ia menyenggol orang yang ada di sebelahnya. "Nona Chaiya." sapa orang itu. "Tuan Crish! Apa yang kau lakukan di sini?" ucap Chaiya. Ia tidak menyangka kalau ia akan bertemu Surya di Cap Town. "Aku? tentu saja belanja, apa lagi yang bisa dilakukan di sini selain belanja?" jawab Surya. "Jadi...kau suka belanja juga?" goda Chaiya. "Ya, aku suka mengoleksi benda-benda unik." ucap Surya.
Ia mencoba mencari alasan agar Chaiya tidak curiga dengan kehadiranya. Sebenarnya dari awal Surya memang mengikuti Chaiya. Sejak pertemuanya dalam acara konser saat itu, ia meminta Max untuk menyelidiki semua tentang kehidupan Chaiya di London. Dari keterangan Max, ia tau bahwa ternyata selama ini dokter Jhon lah yang sudah menjaga Chaiya. Surya lega mengetahui bahwa Chaiya bersama orang yang tepat selama ini. Sebelum kecelakaan dulu, Surya memang menitipkan Chaiya pada dokter Jhon. Namun ia tidak menyangka bahwa dokter Jhon sangat menyayangi Chaiya hingga mengadopsinya sebagai anak.
Max juga menyelidiki orang-orang yang dekat dengan Chaiya, termasuk semua teman-teman Chaiya. Surya tidak begitu khawatir, karna orang-orang di sekitar Chaiya adalah orang-orang yang baik. "Nona Chaiya, apa pendapatmu tentang pekan raya?" ucap Surya. Ia kembali memancing Chaiya untuk mengingat kenangan mereka dulu. "Dulu..aku suka pergi ke pekan raya. Aku sangat menyukai pekan raya." ucap Chaiya nanar.
"Jangan sedih nona Chaiya, kita bisa ke pekan raya hari ini." ucap Surya. "Benarkah?" ucap Chaiya bingung. Bagaimana tidak, semenjak ia tinggal di London belum pernah ia menjumpai pekan raya di sana, "Bagaimana bisa tiba-tiba ada pekan raya?" batin Chaiya. Dengan segera Surya menggandeng tangan Chaiya dan mengajaknya ke pekan raya yang dijanjikan. Surya mengangkat sepeda Chaiya dan meletakanya di bagasi mobilnya.
Surya mengemudikan mobilnya menuju tempat yang ia sebut pekan raya. Chaiya sangat penasaran dan tidak sabar untuk melihat tempat itu. Ia sangat berharap bisa merasakan kembali keindahan pekan raya seperti di Srivan. Dan akhirnya mobil Surya berhenti di suatu tempat. Namun sejauh mata memandang Chaiya tidak melihat tanda-tanda adanya pekan raya. Ia pun mulai cemberut karna ia pikir Surya telah membohonginya. "Tuan Crish kau bohong! Tidak ada pekan raya di sini." ucap Chaiya kesal.
__ADS_1
Surya tersenyum melihat kelakuan Chaiya, ia tau Chaiya pasti akan bereaksi seperti itu. Surya mengangkat tanganya dan menunjuk ke arah sebuah gondola raksasa. Eye of London itulah sebutan untuk tempat itu. Tempat di mana terdapat sebuah gondola super besar dan menakjubkan yang menjadi salah satu tempat iconic di London.
Chaiya terperanga seketika, bukan karna melihat gondola raksasa itu, namun ia terkejut dan tidak menyangka kalau Surya akan membawanya ke sana. Ya, Surya memang benar. Salah satu yang paling di rindukan Chaiya dari pekan raya adalah naik gondola. Tidak melewatkan kesempatan, Surya pun mengajak Chaiya naik gondola. Chaiya memang sudah tidak asing dengan gondola icon London itu. Namun baru kali ini ia mencoba menaikinya.
Dan benar saja, pengalaman berbeda ia rasakan saat menaiki gondola itu. Sangat jauh berbeda dengan saat ia naik gondola mini di Srivan. Dari puncak ketinggian gondola ia bisa melihat dengan jelas suasana London dari atas. Ada sedikit rasa ngeri saat ia melihat ke bawah, bagaimana tidak, gondola itu memang sangat tinggi. Namun rasa itu bisa teralihkan ketika ia memandang kota London. Entah mengapa Chaiya merasa setiap apa yang Surya lakukan selalu mengingatkannya tentang masa lalunya.
Ucapan Surya yang ia anggap sebagai Crish pun kadang begitu mirip seperti yang di ucapkan Surya dulu. Kini Chaiya dan Surya berada di puncak ketinggian gondola. Chaiya memandang lekat pada Surya, seolah ingin mencari tau mengapa karakter orang yang ada di hapanya itu, terasa begitu mirip seperti Surya. "Tidak mungkin, dia bukanlah Suryaku." batin Chaiya. Chaiya tidak ingin membangun harapan palsu, karna yang ia tau Surya telah meninggalkan dunia untuk selamanya.
"Bagaimana nona Chaiya? tidak berbeda dari pekan raya kan?" ucap Surya setelah mereka turun dari gondola. "Tentu saja berbeda tuan Crish. Di pekan raya ada banyak lampion dan juga orang-orang yang membuka lapak dengan aneka benda yang mereka jual." ucap Chaiya. Surya kemudian merogoh kantong celananya mencari sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah gelang etnik cantik yang diam-diam ia beli di Cap Town tadi. Ia pun memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Chaiya dan berkata "Gelang cantik, untuk gadis yang paling cantik."
__ADS_1
Kalimat itu bukanya membuat Chaiya senang, tapi ia kini seperti tersengat aliran listrik. "Bagaimana mungkin..itu adalah kalimat yang Surya katakan padaku dulu saat di pekan raya." batin Chaiya.