
"Chaiya...kau tidak bisa ke universitas hari ini." ucap Gara. "Kenapa memang nya!" ucap Chaiya kesal. "Karna hari ini adalah hari minggu Chaiya.." ucap Gara sambil berusaha menahan tawa nya. Mendengar itu Chaiya jadi malu dan salah tingkah. Bagaimana bisa dia lupa kalau hari ini hari minggu. Dan tentu saja itu membuat nya merasa konyol. Dan kini ia tidak punya alasan lagi untuk menolak Gara.
💖💖💖
Dengan terpaksa Chaiya menuruti kemauan Gara. Walau pun sebenar nya ia bisa saja menolak mentah-mentah kemauan Gara, namun itu tidak di lakukanya karna Gara adalah kolega terbaik ayah nya. Dan ia takut Gara akan berbuat macam-macam jika ia tidak menuruti kemauan Gara. Mereka pun berangkat menuju museum dengan menyusuri jalanan kota London yang bersalju. Gara mengemudikan mobil nya dengan perlahan, karna jalanan di London sedang bersalju. Dan ia tidak ingin mobil nya yergelincir karna kondisi jalan yang licin. Tapi semua itu membuat Chaiya semakin tidak tahan dengan perjalananya, ia ingin segera sampai agar tidak perlu bedekatan terlalu lama dengan Gara.
Dan setelah sekian lama perjalanan yang sangat menyebal kan bagi Chaiya, akhir nya mereka sampai juga di museum. Museum of London di sanalah tempat yang akan di kunjungi Chaiya kali ini. Museum of London adalah museum yang mendokumentasikan sejarah kota London dari masa pra sejarah sampai modern. Museum itu terletak di Tembok London, dekat Barbican Centre. Museum of London utamanya adalah menyoroti tentang sejarah sosial dan kebudayaan para penduduk London sepanjang masa. Museum of London adalah museum koleksi sejarah di perkotaan yang terbesar di dunia. Museum of London memiliki lebih dari 6 juta obyek yang di koleksi. Museum itu di kunjungi lebih dari satu juta orang per tahun.
__ADS_1
Chaiya sangat antusias mempelajari segala hal yang ada di sana. Karna Chaiya memang sangat tertarik dengan sejarah, dan mempelajari sejarah kota London adalah keinginan nya sejak lama. Gara tersenyum miring melihat kelakuan Chaiya. "Tadi tidak mau pergi, sekarang dia menjadikan ku seperti bodyguard nya saja." batin Gara dalam hati. Baru berhasil mengelilingi sebagian dari kompleks musem, namun tak terasa ternyata hari sudah siang. "Kruuuk!Kruuuk!" perut Chaiya berbunyi cukup nyaring. Dan sontak saja Gara pun menoleh ke arah Chaiya. "Ya ampun! Suara perut mu nyaring sekali, untung saja hanya aku yang mendengar." ucap Gara yang mulai menggoda Chaiya.
"Kau ini memang benar-banar vampir tidak bertanggung jawab! Harus nya kau mengajak ku makan sebelum perut ku berbunyi!" ucap Chaiya. Ia sengaja mengomeli Gara untuk membalas nya, karna dia memaksa Chaiya untuk ikut pergi dengan nya. Gara merasa ucapan Chaiya ada benar nya, maka ia pun mengajak Chaiya untu mencari tempat makan. Gara memutuskan untuk makan di restoran cepat saji, karna tidak ingin Chaiya terus mengeluh pada nya. Chaiya berfikir ini kesempatan nya untuk membalas Gara. Ia pun mulai bertingkah rewel dan berharap Gara akan kesal dan tidak akan mengajak nya pergi lagi. Namun sayang nya usaha Chaiya gagal. Gara sama sekali tidak berubah sikap karna ulah nya. "Dia ini manusia macam apa sebenar nya? kenapa masih bisa berwajah datar begitu!" batin Chaiya.
__ADS_1
Travalgar Square adalah alun-alun kota London yang terletak di pusat kota London. Tempat ini di bangun untuk mengenang pertempuran Travalgar yang berhasil mengalahkan kapal Napoleon. Sungguh tempat yang sangat megah dan cantik. Sayang nya Chaiya datang di saat musim dingin. Sehingga keindahan Travalgar Square sebagian tertutup salju. Chaiya ingin mengajak Gara berkeliling namun langkah Chaiya terhenti. Ia melihat pemandangan yang tidak biasa dan sangat langka. Chaiya melihat seorang Gara berdiri mematung di depan air mancur sambil menatap salju yang turun dari langit. Chaiya di buat terheran heran dengan sikap Gara yang sangat brrbeda 180 derajat. Ia pun berjalan mendekat ke arah Gara untuk mencari tau ada apa dengan pria vampir itu.
Melihat Gara dari dekat membuat Chaiya dengan spontan berkata "Kau...tidak pernah melihat salju turun ya?" Namun aneh nya Gara tidak bereaksi dengan ucapan Chaiya. Wajah Gara kini terlihat sendu, sangat berbada dengan Gara yang biasa Chaiya lihat. "Apa kau tau Chaiya, kapan terakhir kali aku datang ke mari dan memandang salju yang turun dari langit?" ucap Gara masih sambil memandang salju yang turun. Chaiya mengangkat kedua bahu nya sambil menggeleng kan kepala. "Saat usiaku 10 tahun. Saat itu aku datang ke tempat ini bersama ayah dan ibu ku. Ayah mengajak ku bermain salju dan membuat patung salju. Lalu di depan air mancur ini aku dan ibu memandang salju yang turun dari langit. Dan itu adalah saat terakhir ku bersama mereka. Karna sepulang dari tempat ini mobil kami mengalami kecelakaan. Ayah dan Ibu ku meninggal dalam kecalakaan itu, dan hanya aku saja yang selamat. Sejak saat itu aku di tuntut mengurus perusaan ayah ku, karna aku adalah anak tunggal. Aku tidak punya waktu bermain, atau berkumpul dengan teman seusiaku. Dan sejak saat itu aku merasa sangat kesepian." ucap Gara dengan mata yang berkaca-kaca.
Gara pun tidak tau mengapa ia menceritakan kehidupan masa lalu nya yang perih kepada Chaiya. Ia belum pernah menceritakan kisah nya pada siapapun selain Chaiya. Hati Chaiya begitu tersentuh dan bersimpati pada Gara. Ia tidak menyangka sikap arogan dan menyebal kan nya selama ini, adalah untuk menutupi kerapuhan nya. Tiba-tiba Gara memandang Chaiya dan mencubit pipi nya "Hei! Siapa suruh termenung begitu?! Kau pikir aku tukang dongeng?!" ucap Gara ketus. "Aish...orang ini! sebentar sedih..sebentar galak. Dasar aneh!" ucap Chaiya sambil mengusap pipi nya yang sakit karna cubitan Gara. "Ayo pulang! Aku sudah bosan seharian bersamamu." ucap gara sambil berjalan menuju mobil. "Seharus nya aku yang bilang begitu, dasar kau vampir jeleeeek!" Chaiya meneriaki Gara karna emosi. Diam-diam Gara tersenyum karna tingkah Chaiya. "Kau memang menggemaskan, dasar gadis ceroboh." batin Gara sambil tersenyum.
__ADS_1