Calon Adik Ipar Ku Adalah Jodohku

Calon Adik Ipar Ku Adalah Jodohku
BAB 27. BABAK BARU


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Hanna sudah berada di kantor. Setelah mengantar akbi dan akeu bersekolah Hanna langsung berangkat ke sekolah tempat ia mengajar untuk menyerahkan surat pengunduran diri nya yang sempat tertunda karena musibah yang menimpa keluarganya.


“Pagi ibu guru cantik.” Suara sapaan dari seseorang yang selalu menyapanya setiap pagi ketik berada di ruang guru, siapa lagi jika bukan Rendy.


“Pagi pak rendy” Balas hanna dengan senyuman yang selalu terlihat manis bagi seorang Rendy.


"Tumben pagi-pagi sudah ada dikantor? biasanya kamu sering telat krena ngurusin si kembar"


"Iya ren, aku datang pagi supaya bisa ketemu sama pak kepsek"


"Buat apa mau ketemu sama pak kepsek?"


"Aku kan udah pernah bilang kalau aku mu mengundurkan diri kan waktu itu. Nah, sekarang aku mau ngasih surat pengunduran diri ku yang sempat ke tunda kemarin karena kejadian yang menimpa keluargaku" jelasnya.


"Oh Shittt, aku lupa kalau Hanna pernah hilang mau mengundurkan diri jadi guru, dasar bege gue kecolongan lagi, bisa gagal rencana ku nanti" batin Rendy.


"Halo ren,,,,,," panggil Hanna sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Rendy.


"Ah iya han" kagetnya.


"Kamu ngelamun ya, mikirin apaan sih ren?"


"Eh-"


"Enggak ada kok" jawab nya kikuk.


"Yaudah aku mau nemuin pak kepsek dulu ya bye" pamit Hanna.


"Ahh, kenapa aku bisa lupa sih" ucap Rendy kesal.


Setelah menyerahkan surat pengunduran diri nya Hanna merapikan beberapa buku yang ada dimeja kerjanya dan membawanya pulang. Saat membereskan buku-buku nya tanpa sengaja Hanna menjatuhkan sebuah kertas.


Hanna ingin membuka kertas itu tapi kegiatan nya dihentikan oleh kedatangan Rendy. Hanna lalu menyimpan kembali kertas itu kedalam buku "Han, kamu udah mau pulang?"


"Iya ren, urusan aku udah selesai. Oh iya ren mungkin Minggu depan aku bakal baik ke jakarta" ucap Hanna.


"Kamu serius Han?"

__ADS_1


"Iya ren, soalnya 2 Minggu lagi aku mau nikah sama Jason, jadi kalau urusan sekolah akbi dan akeu selesai aku akan langsung pergi ke Jakarta."


"Benarkah kenapa mendadak sekali Han?"


"Maaf ya ren, aku baru kasih tau kamu sekarang soalnya panjang ceritanya" ucapnya "Aku pamit pulang duluan ya ren, oh iya ini undangan pernikahan ku, kuharap kamu bisa datang lalu ada waktu" Hanna menyerahkan undangan pernikahan nya dengan Jason kepada Rendy.


"Thanks Han, aku pasti Dateng" balasnya sambil tersenyum kepada Hanna.


. . . . .


Di penginapan Jimmy dan Jason sedang berkutat dengan berkas-berkas mereka yang menumpuk yang Jason tinggalkan selama Jason sakit dan dirawat di rumah sakit.


"Ahh,, jas aku lelah dari tadi membaca semua berkas ini yang tiada habisnya" keluh Jimmy pada Jason.


"Aku juga lelah kak, tapi kita harus segera menyelesaikannya dan segera kembali ke jakarta secepatnya" balasnya.


"Em, kamu sudah tidak sabar untuk menikah ya" Jimmy sengaja menggoda adiknya.


Jason tampak tersenyum Maluku mendengar ucapan dari kakaknya "Kakak kamu bisa saja" ucapnya.


"Kalau itu jangan ditanyakan lagi kak aku pasti akan setuju, hehe" jawabnya sambil tertawa.


"Dasar calon pengantin baru" gerutu Jimmy.


"Bukan gitu kak, aku juga sudah berjanji untuk mengajari akbi bermain sepatu roda" jelasnya.


"Apa? bermain sepatu? tidak-tidak kamu gak boleh ngajarin akbi main sepatu roda dulu. Jas ingat kondisi kamu belum sembuh total aku gak mau ambil resiko. kamu bisa ngajarin akbi nanti kalau kamu udah sembuh total, okee. aku gak mau dengar alasan apapun." Jimmy melarang Jason untuk mengajari akbi bermain sepatu roda krena kondisinya yang belum pulih "Dan satu lagi jas, kamu harus inget akbi juga belum benar-benar pulih jadi kamu gak boleh ngajarin dia dulu" jelasnya lagi.


"Ahh, kakak benar. seharusnya aku tidak mengiyakan permintaan akbi kemaren ketika memintaku untuk mengajari bermain sepatu roda hari ini. Jas kamu memang bodoh" Jason menyalahkan dirinya sendiri karena ceroboh dengan meng-iyakan permintaan akbi.


"Yaudah nanti kamu jelasin ke akbi waktu kita kerumahnya" sarannya.


"Iya-iya kak" sahutnya.


Dirumah Hanna sedang sibuk membereskan beberapa barang yang akan di bawa ke Jakarta. Dan memilah beberapa barang yang masih bagus untuk disumbangkan kepada orang yang tidak mampu.


"Bi ayu" Hanna memanggil ni ayu.

__ADS_1


"Iya nyonya, ada apa?" tanya bi ayu.


"Maaf bi, bisakah bibi membawakan kotak kardus lagi untukku, aku kekurangan kotak" ujar Hanna.


"Oh iya baik nyonya saya akan bawakan kotak kardus lagi, tunggu sebentar ya nyonya"


"Iya bi" sahutnya.


Tak lama kemudian bi ayu datang sambil membawa tumpukan kotak kardus yang sangat tinggi hingga wajah bi ayu saja tidak terlihat.


"Gedubrakkk" bi ayu terjatuh kakinya sendiri saat membawa kotak kardus. Hanna langsung berlari untuk menolong bi ayu.


"Bibi, apa bibi baik-baik saja apa ada yang terluka bi?" tanya Hanna panik melihat bi ayu yang terjatuh ketika membawa kotak kardus.


"Bibi enggak apa-apa, tadi bibi kurang hati-hati makanya bisa kesandung kaki bibi sendiri" ucapnya.


"Lain kali bibi harus lebih hati-hati lagi ya" Hanna membantu bi ayu untuk bangun dan membantunya duduk di kursi. Lalu Hanna mengambil kotak kardus itu, bi ayu yang melihat itu mencoba untuk membantunya.


"Sini nyonya biar saja bantu" bi ayu bangkit dari duduknya untuk membantu Hanna.


"Jangan bi, bibi duduk aja. Biar saya aja yang beresin kotak kardusnya. Bibi istirahat aja dulu" pintanya.


"Tapi nyonya saya merasa tidak enak" ucap bi ayu.


"Aduh bibi jangan seperti itu. Bibi sudah seperti ibuku sendiri jadi jangan bilang seperti itu ya, lagian ini juga tidak berat" balasnya setelah mendengar ucapan bi ayu.


"Tap-"


"Bi ayu gak boleh ngebantah ya. Bi ayu lebih baik istirahat aja, aku gak mau kaki bi ayu nanti tambah sakit karena maksa mau bantuin aku"


Bi ayu tersenyum karena mendapat perhatian dari Hanna. Bi ayu sudah tinggal bersama Hanna sejak Hanna masih hamil muda. Hanna menemukan bi ayu yang pingsan dijalan, dan membawa bi ayu pulang kerumahnya serta merawatnya ketika bi ayu sakit kala itu.


Bi ayu sangat berterima kasih kepada Hanna karena sudah menolongnya, yang pada akhirnya bi ayu ikut dan bekerja di rumah Hanna. Meskipun Hanna melarangnya untuk memanggil nya nyonya tapi bi ayu tetap memanggil Hanna dengan sebutan nyonya.


Bi ayu sangat salut dengan Hanna yang bisa menanggung bebannya sendiri dengan merawat anak-anak nya sendiri tanpa seorang suami. Meskipun notabene nya Hanna berasal dari kalangan atas tapi tak pernah sekalipun Hanna menghina ataupun merendahkan orang lain. Hanna selalu tampil anggun dan sederhana.


"Bibi harap pernikahan nyonya adalah babak baru dalam hidup nyonya untuk bahagia bersama akbi dan akeu" batin bi ayu.

__ADS_1


__ADS_2