
Hari ini adalah D-DAY dari pernikahan Hanna dan Jason. Hanna sedang merias dirinya, dibantu oleh kakak iparnya viona, untuk mempercantik tampilannya sebelum acara pernikahan nya yang akan dimulai beberapa menit lagi. Daniel datang menghampiri mereka.
"Lihatlah seperti nya kakak mu sangat ingin melihat adiknya hingga dia datang kesini karena tidak sabar." Ucap viona saat melihat kedatangan Daniel. Hanna tersenyum.
"Adikku terlihat sangat cantik sama seperti ibu." ucapnya.
"Kakak jangan membuatku sedih karena perkataan mu." sahutnya.
"Apa Aku harus memberitahu Jason untuk tidak lupa membawa sapu tangan." Daniel bertanya pada Hanna.
"Untuk apa kak?" Hanna mengendik kan kedua bahunya.
"Katanya kalau pengantin wanita menangis maka pengantin pria yang harus menyeka air matamu dengan sapu tangan." Ucap viona menjelaskan.
"Kenapa pula aku harus menangis, aku bukan orang yang seperti itu." Ucap Hanna, Daniel pikir itu bagus.
"Tapi nanti kalau ternyata kamu menangis bagaimana?" Tanya viona.
"Itu tidak mungkin kakak, aku sudah dewasa bukan anak remaja lagi." Jawab Hanna yakin.
"Baiklah kalau begitu." Viona tersenyum dengan ucapan adik iparnya.
"Apa kak viona dulu menangis saat menikah dengan kak Daniel?" Hanna bertanya balik pada viona.
"Tentu saja dia menangis, kamu seperti tidak tau seperti apa kakak iparmu itu." Sahut Daniel.
"Apa kakak juga menyeka air matanya?" Tanyanya lagi.
"Jangan kan menyeka air mataku dia bahkan ikut menangis" komentar viona.
"Apa itu benar kak? Ah.. seharusnya aku ada disana untuk melihat kakakku menangis." Hanna menggoda kakaknya.
"Sudahlah apa yang kamu katakan vio, aku tidak menangis saat itu, aku hanya.."
"Hanya apa…?"
"Aku hanya terharu, karena orang tuamu mau menyerahkan dan mempercayakan dirimu padaku." Ucap Daniel.
"Kakak romantis sekali, jangan buat aku jadi iri dengan keromantisan kalian dong.." komentar Hanna.
"Ouhhhh…. Kamu terlihat sangat cantik sekali sayang." Ucap nyonya Kim yang tiba-tiba datang bersama Rana dan Vina. Daniel, viona dan Hanna langsung menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
"Tentu saja dia kan Park Hanna tentu saja dia cantik." Ucap viona. "Tidak hanya cantik, tapi sangat cantik." Daniel menimpali ucapan viona.
"Kalian memang benar, dia memang sangat cantik." Rana memuji penampilan Hanna.
"Jason memang tidak salah, memilih wanitanya." Ucap Vina spontan, tanpa tau cerita yang terjadi antara mereka pad masa lalu.
Untuk sesaat semua orang terdiam, karena mendengar ucapan Vina. Vina menyadari jika ada ucapannya yang salah hingga membuat semua orang terdiam. "Apa aku mengucapkan hal yang salah?" Tanya Vina karena merasa aneh dengan situasi saat ini.
"Tidak ada Vin, kami setuju dengan ucapanmu makanya kami diam." Ucap Daniel yang berada disebelah Hanna. "Aku akan keluar dulu untuk melihat anak-anak apa mereka sudah siap." Timpalnya, lalu pergi meninggalkan mereka.
"Aku akan menyusul Daniel untuk membantu anak-anak bersiap-siap." Ucap rana berpamitan kepada mereka. Ketika ia keluar dan ingin menutup pintu tiba-tiba terdengar suara Vina yang berteriak padanya.
"Tolong buat mereka sekeren dan secantik mungkin ya." Vina sedikit berteriak saat mengucapkan nya karena takut rana tidak mendengar. "Apa dia mendengar ucapan ku?" Ucap Vina. Yang kemudian Rana muncul dari balik pintu dan mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum karena tingkah kakak iparnya itu.
"Kenapa kalian tersenyum?" Tanya Vina heran. "Apa aku tidak boleh melihat anak-anak tampil keren dan cantik?" Timpalnya.
"Tidak kakak, kami juga ingin melihat mereka tampil keren dan cantik, tapi apa perlu kakak berteriak sekencang itu." Ucap Hanna. Vina terlihat sedikit malu dengan ucapan Hanna dan tersenyum kikuk.
Di Gedung yang sama tapi berada di ruangan yang berbeda, ditemani oleh tiga kakaknya Juna, Jimmy dan Dustin, Jason yang sedang bersiap-siap untuk acara pernikahan nya terlihat sedikit gugup. Dengan mengenakan tuksedo Jason terlihat sangat tampan.
"Santi saja jangan terlalu gugup jas." Ucap Jimmy yang melihat kegugupan di wajah Jason.
"Apa sangat terlihat sekali kalau aku sedang gugup?" Tanyanya.
"Sebenarnya-" Jason menjeda ucapannya.
"Sebenarnya, kenapa jas?" Tanya Juna.
"Aku merasa kuatir takut jika akan ada sesuatu yang terjadi nanti." Jawabnya.
"Aku tau apa hak yang terjadi selanjutnya." Ucap Dustin dengan senyum jahilnya.
"Apa?" Tanya mereka serempak.
"Tentu saja hal itu.." Dustin sengaja menjeda ucapannya dan membuat mereka penasaran.
"Hal apa dus? Cepat katakan jangan berbelit-belit." Ucap Jimmy.
"Malam pertama" jawabnya.
"Hah-" teriak mereka bersama tak percaya dengan ucapan konyol Dustin.
__ADS_1
"Itu benar, hal yang akan terjadi setelah pernikahan adalah malam pertama bukan. Jadi kamu pasti kuatir kalau akbi dan akeu akan mengganggu malam pertama kalian." Ucap Dustin sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Tapi kalau dipikir-pikir perkataanmu ada benarnya juga dus." Sahut Jimmy.
"Tenang saja kami pasti akan membantumu dan Hanna untuk mengatasi akbi dan akeu agar tidak mengganggu malam pertama kalian, bukan begitu Jim, dus!" Ucap Juna menyakinkan. "Tanti saja" sahut Jimmy dan Dustin bersamaan.
"Kenapa mereka malah membahas tentang malam pertama? Aku bukan kuatir soal itu. Oh bisakah mereka memahami ku sekali saja?" Batin jason.
Disisi lain terlihat seseorang yang mencurigakan sedang menghubungi seseorang. Terdengar suara seorang pria dari balik panggilan telepon nya. "Cepat lakukan tugasmu dengan benar maka kamu akan segera mendapatkan uangmu" ucap orang dalam panggilan telepon itu.
"Baik tuan" jawabnya.
"Jangan sampai gagal, atau nyawamu yang akan jadi taruhannya kalau kamu sampai gagal." orang itu mengeluarkan ultimatum untuk mengancam orang itu.
"B-bbbaikkk tuan, saya akan berusaha semampu saya agar hal itu tidak gagal tuan."
"Bagus.. lakukan tugasmu dengan baik, tutttt.. tutttt.. tutttt… " setelah mengatakan hal itu pria itu mematikan panggilan telepon nya.
"Ayah sedang menelpon siapa?" Tanya Sean yang datang menghampiri tuan Kim. Tuan Kim terlihat kaget dengan pertanyaan Sean.
"Apa dia mendengar percakapan ku tadi?" Batin tuan Kim.
"Ayah aku sedang bertanya siapa yang menelpon ayah tadi. Kenapa ayah terlihat sangat terkejut?" Tanya Sean lagi.
"Ayah sedikit terkejut dengan kedatanganmu yang tiba-tiba sean. Biasa, kolega kita. Pak Hasan" Jawabnya.
"Apa dia tidak tau kalau kita sedang ada acara hingga menelpon disaat seperti ini." Ucap Sean.
"Dia menelpon untuk mengucapkan selamat atas pernikahan Jason dan Hanna. Dan dia meminta maaf karena tidak bisa hadir disini karena dia sedang berada di Malaysia." Tuan Kim memberikan penjelasan kepada Sean.
"Baiklah yah, ayo kita bersiap acara akan segera dimulai. Aku sudah mencari ayah dari tadi ternyata ayah disini." Ucap sean.
Tuan Kim pergi bersama Sean. Tapi saat jalan, tuan Kim seperti memberikan kode kepada seseorang dengan tangannya. Kira-kira apa yang sedang dilakukan tuan Kim?.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Stay safe dan selalu berkarya untuk semua orang yang membaca novel ini. Ini novel pertama jadi maklum ya kalau masih banyak kurang di dalam isi cerita nya. Jangan lupa like, comment, vote dan favorit kan ya✌️✌️✌️✌️✌️