
Siang hari mereka semua yang telah tiba di pinggiran kota Jakarta. Jimmy dan bi ayu yang terluka lebih parah dari yang lain tidak ingin menjalani rawat inap dan lebih memilih untuk langsung ikut pulang ke Jakarta.
Sedangkan Randy, tuan dan nyonya Kim yang palsu alias pak Lee dan istrinya mereka juga dibawa ke Jakarta untuk menjalani persidangan.
Dikediaman park, akbi dan akeu sedang bermain bersama davi sambil menunggu kedatangan orang tuanya. Tanpa diketahui siapapun ternyata tiga orang anak kecil ini mempunyai rencana yang membantu para orang dewasa dalam mengungkapkan para penjahat itu. Bukan bertiga tapi berempat karena Sena juga ikut ambil bagian dalam rencana itu.
"Mama.. kapan ayah akan jemput kita.." Sena dari tadi merengek kepada mamanya menanyakan kapan ayahnya akan menjemput mereka.
"Tadi ayahmu bilang dia sudah sampai di Jakarta saat mama telpon tadi." jelasnya.
"Hemmm.... Mah.. gimana kalau kita main kerumah Davi... disana kan juga ada adik akbi dan juga adik akeu.. aku bosan dirumah nenek ma.." rengek Sena dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.
"Tapi.. sayang gi-" ucapan Vina terpotong.
"Pergilah Vin... kasihan cucu nenek sedih karena bosan tidak punya teman.." ucap ibu Vina sambil mengelus-elus rambut cucunya.
"Nenek memang yang paling mengerti Sena... terimakasih nenek.. Sena sayang nenek..." karena sangat senang Sena langsung menghujani wajah neneknya dengan ciuman.
"Jadi Sena sayangnya cuma sama nenek, jadi sama kakek Sena tidak sayang?" kakek Sena yang baru keluar dari kamar ikut duduk di ruang tengah sambil menggoda cucunya.
"Tidak.. Sena juga sangat sayang sama kakek." Sena langsung duduk dipangkuan kakeknya dan mencium wajah kakeknya.
Wah keluarga yang penuh cinta ya😁😁
Suasana di mobil sedikit hening karena tidak ada yang memulai percakapan sejak mereka berangkat dari Bandung. Satu-satunya suara yang bisa mereka dengar hanya suara dengkuran saling sahut menyahut dari Juna, Dirly dan juga Dustin.
Rana yang duduk di kursi sebelah yungky hanya bisa mengulum senyum mendengar suara ringtone dari adik-adik iparnya. Sedangkan yungky yang duduk di kursi kemudi hanya fokus melihat jalanan didepan.
"Kenapa kamu" tanya yungky yang heran dengan tingkah Rana yang sedari tadi seperti menahan sesuatu. "Apa kamu ingin ke toilet?" sambungnya.
__ADS_1
"Tidak.. aku tidak ingin ke toilet.."
" Lalu kenapa dengan wajahmu itu.. kamu seperti menahan sesuatu?"
"Ah maaf. aku hanya berusaha agar tidak tertawa.." yungky bingung dengan jawaban yang diberikan Rana.
"Memang ada yang lucu??" tanya yungky dengan heran, karena menurutnya tidak ada yang lucu kenapa Rana harus menahan tawanya.
"Apa kamu tidak mendengarnya? suara itu saling bersahutan... seperti suara kodok yang sedang berdiskusi.."
Kerutan di dahi yungky semakin banyak tak kala mendengar penjelasan Rana yang aneh, mana ada kodok didalam mobilnya. Itulah yang mungkin saat ini yang sedang ada dibenak yungky sebelum suara kodok yang berdiskusi itu akhirnya ia dengar.
Yungky menoleh kearah belakang melihat ketiga adiknya yang tidur menganga sambil bergumam tidak jelas dan sesekali mengeluarkan suara dengkuran yang saling bersahutan. "Ah jadi suara kodok yang berdiskusi yang dimaksud oleh Rana adalah mereka bertiga.." batinnya. Yungky hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Sedangkan suasana dimobil lainnya yang berisi Bi ayu, Hanna, Jason, dan Jimmy hanya keheningan yang sunyi karena tidak ada yang berbicara karena mereka semu sedang tertidur pulas kecuali Jason yang sedang mengemudikan mobilnya dengan hikmat.
Dimobil yang ditumpangi oleh Sean dan Johan terjadi perang dingin antara dua saudara yang baru bertemu setelah hampir dua puluh tahun mereka tidak saling bertemu bahkan Sean tidak pernah tau kalau ia memiliki adik kembar.
"Selama ini kamu tinggal dimana?"
"Di panti" jawab Johan dengan singkat.
"Dingin sekali, aku seperti melihat sosok Jason saat ia sebelum mengalami kecelakaan ketika mencari Hanna." batinnya sebelum ia melanjutkan pertanyaan nya lagi tapi Johan lebih dulu bertanya kepadanya.
"Apa aku bisa dimaafkan?" tanya Johan spontan.
"Apa yang harus kami maafkan darimu" ucap Sean tidak mengerti dengan pertanyaan Johan, alhasil ia malah balik bertanya.
"Semuanya... semua yang terjadi selama ini" Johan menunduk lesu sepeti tidak bertenaga untuk berkata-kata lagi.
__ADS_1
"Hey.. jangan seperti itu, wajahmu lesi sekali apa kamu sedang lapar" gurau Sean untuk memecah sedikit kecanggungan diantara mereka.
"Aku serius.. apa aku boleh memanggilmu kakak?" pertanyaan itu membuat Sean menghela nafas cukup panjang sebelum menjawab pertanyaan adiknya yang menurutnya konyol itu.
"Tentu saja kamu boleh memanggilku kakak, dan kamu juga boleh memanggil yang lainnya kakak. Kamu pasti sudah tau kan kalau kamu punya enam kakak lainnya. Jangan terlalu canggung. Dan satu lagi kamu punya empat keponakan yang akan selalu siap membuatmu kerepotan dengan sifat manja mereka." Sean sedikit tertawa ketika mengingat anaknya dan juga keponakan nya yang selalu berusaha berebut kasih sayang dari nya dan juga adik-adik nya.
Johan yang melihat kakak pertamanya tertawa pun ikut mengulas senyum diwajahnya. "Ambil ini... "Sean memberikan ponselnya kepada Johan.
"Buka galeri foto Mak kamu akan lihat empat wajah keponakan mu itu yang tidak pernah puas dengan kasih sayang yang kami berikan." jelas Sean. Johan pun membuka galeri foto di ponsel Sean. Johan tersenyum saat melihat foto empat anak kecil disana.
"Mereka sangat cantik dan juga tampan." komentar Johan saat melihat foto keponakan nya.
"Tentu saja mereka sangat cantik dan juga tampan, mereka kan bibit keluarga Kim yang terkenal unggul." Sean dengan kelakarnya menjawab Johan dengn sangat optimis.
Sedangkan Johan ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sifat kakak pertamanya yang memang terlampau percaya diri. "Memang benar apa yang diceritakan Jason dan mama kak Sean memang terlampau percaya diri, kurasa kak Sean pasti tingkat kepercayaan dirinya melebihi 100 persen." batin Johan.
Ya kira-kira begitulah perjalanan mereka selama berada dimobil menuju jakarta. Perjalanan yang cukup jauh dan juga melelahkan. Dan badan yang rasanya sakit semua karena habis berkelahi dengan pas preman. Tapi semua itu telah terbayar lunas karena sepertinya hanya kebahagiaan yang mengisi keluarga mereka setelah ini.
"Aku harap tidak ad lagi yang perlu dirahasiakan, aku pasti akan menjaga kalian semua dengan baik. Aku merindukan kalian sejak lama. Dan sekarang apa yang ku impikan sejak kecil akhirnya bisa kurasakan. Kehangatan keluarga.Aku ingin secepatnya bertemu dengan kalian." senyum Johan tak luntur sedikit pun sambil memandangi foto empat anak kecil itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
(...)