
Aku masuk kedalam mobil diikuti adel yang sudah duduk disampingku. Aku memakai sabuk pengaman dan men starter mobilku sebelum berangkat ke tempat pemotretan.
Hemmm....
"Del kamu mau makan dulu? ".
"Nanti aja Om siap pemotretan ".
Hmmm... Aku yang aneh atau emang hari ini Adel lebih kalem dan nurut dari biasanya. Daritadi asal aku ngomong di jawabnya gak seketus yang biasanya. Ya... tetep aja sih dua gak ngomong diluan.
Brrum!!!
Kupercepat laju mobilku. Adel sedikit terkejut namun setelah itu dia nampak biasa saja maka kupercepat lagi lajunya. Tak lama kami pun sampai disebuah perumahan yang agak modis. Disana terlihat seorang fotografer yang bukan lain adalah Haga sahabat karibku.
Ya soal kemampuan kalian gak usah takut deh. Gambar yang diambilnya pasti selalu melebihi ekspetasi dari klein nya. Dan juga Haga sudah beberapa kali memenangkan penghargaan dari hasil gambar yang diambilnya.
Ckit...
"Kita prewed disini Om? ".
"Kenapa, kamu mau ditempat yang lain? ".
Adel menggeleng dengan cepat. Kupikir dia bakalan menolak mentah mentah dan mempersulit pemotretan kami. Tapi aku sangat terkejut Adel nampak suka dengan suasana dirumah itu.
"Oi ga, Udah lama? ". Sapaku pada Haga yang tidak mengalihkan pandangannya dari Adel.
Grep!!!
Haga langsung memiting kepalaku kemudian. menarikku cukup jauh dari posisi Adel.
"Oi... imut amat bini lo!! ". Bisiknya.
Bug..
Reflek tanganku memukul kepala Haga yang sedikit lebih rendah dari kepalaku saat ia merunduk.
"Adeuh".
"Masih calon. Sembarangan aja mulut lo". Wajahku terasa memanas. Gara gara omongannya si Haga aku jadi salting ngeliat Adel.
"Adel, Ayo masuk sini". Kualihkan perhatian Haga dan langsung nyuruh dia buat mulia memotret kami.
"Okey... Kerja!! Kerja!!! ".
CKREK...
CKREK...
CKREK...
"Aduh gambarnya Bagus bagus, sekali take langsung selesai".
"Ini nih dipilih untuk di undangan nanti".
Klik... klik... klik...
Haga me-nextkan poto yang diambilnya barusan.
"STOP!! ".
Eh..??
Secara serempak aku dan adel berteriak menyuruh Haga berhenti pada saat gambar ketiga muncul. Aku dan Adel saling berpandangan. Wajahku terasa panas kembali. Aku langsung memalingkan wajahku dan kembali merelaksasi kan diri untuk kembali cool dan bersikap dewasa.
"Cie.. cie kompak di yeeee... Bikyin irie aja sich... ".
Hoek!!!!
"Masi belum selese ngoceh?? ". Tatapan mataku lurus kedalam mata Haga. Menandakan aku cukup kesal dengan kelakuannya daritadi.
"Ugh... Le-lepas woi gue bisa mati-".
Aku melepaskan cengkramanku dileher Haga. Namun mataku semakin dingin menatapnya.
"Iya iya... Ga lagi dah. Si boss mah gitu susah diajak becanda".
Grep!!
"Waa... iya iya enggak lagi deh Dir. Beneran".
Haga memang sedikit kenak kanakan tapi dia adalah tipe yang serius. Pernah sekali aku melihat orang yang cari gara gara sama Haga. Bukannya melebih lebihkan orang itu sampai terkencing kencing melihat kesangaran Haga. Dan perlu diingat Haga bukan preman waktu sekolah dulu. Dia hanya kutu buku yang berprestasi tinggi.
Dan tentu kami adalah saingan berat sewaktu SMA dan kuliah. Sampai akhirnya dia menjadi sahabat karib ku. Lucu juga kalo ingat masa masa alay kami.
"Hihi... ". Tanpa sengaja aku terkekeh kecil.
"Om, Kenapa kok ketawa? ".
__ADS_1
Deg!! Adel ngomong diluan.
"Enggak, saya cuma ingat masa masa dulu pas baru kenal sama haga".
"Oo... ".
"Ehnn.. Mau makan dulu atau langsung pulang? ".
"Pu-... Makan aja deh. Adel lumayan laper".
Deg!!!!!
Gue gak salah liat kan. Gak mungkin gue rabun atau halu kan??
Baru kali ini kulihat Adel tersenyum kepadaku, dan lagi senyuman itu terlihat tulus dan tidak dipaksa sama sekali.
"Om, gak jadi? Adel udah laper ini"
"Biasanya ni anak kan bakal ngenggas kalo aku lelet. Tumben jadi lembut gini. Merinding gue.
Aku segera masuk kedalam mobil, memakai sabuk pengaman dan kemudian menyalakan mobilku.
Brummm!!...
"Del, mau makan apa? ".
"Biasanya sih bakal bilang terserah ".
"Pingin yang pedes pedes om".
Egh...!
"Ma-mau makan mie pedes gak? ".
"Mau mau Om. Cocok banget itu! ".
Ada apa ini. Aku merasa adel sama sekali tidak risih denganku. Padahal semalam dia berteriak habis habisan kepadaku.
Ckit...
Tak lama kami sampai restoran emi yang tidak terlalu mewah namun masih enak dipandang. Disana terdapat menu lengkap untuk hidangan pedas. Tentu saja aku udah searching di goo*** dulu baru aku kesini.
"Om, ini bukannya resto yang lagi viral itu? ".
"Iya, katanya menu pedas disini lengkap".
Kami berdampingan saat masuk ke dalam restoran itu. Cukup banyak pelanggan didalam. Karena lumayan padat aku memilih meja yang ada di atap. Disana tidak terlalu banyak pengunjung karena diluar lumayan dingin. Sukurnya Adel malah senang karen aku minta meja diluar.
"Mau pesan apa? ". Tanya ku pada adel yang sepertinya udah nyiapin daritadi apa yang pingin dia makan.
"Mbak... Saya mau mie pedas gilanya satu, ayam pedas level 3 terus kentang goreng bumbu balado, sama hmm... Ooo, ini mbak timun iris dua porsi".
"Minumannya? ".
"Air anget aja mbak yang banyak".
"ooo iya mbak, Kalo kakaknya mau pesen apa? ". Suara pelayan itu seperti menggoda membuatku risih. Kalo bukan mikirin Adel yang lagi semangat pasti aku udah ajak Adel pindah ke restoran yang lain.
"Mie pedes kuah biasa sama teh panas".
"Baik, mohon ditunggu ya~~~".
Jijik amat gue. Pake nada manja pula. Muntah gue lama lama.
15 menit kemudian pesanan kami datang. Air liur Adel sudah hampir keluar tak tahan melihat semua makanan kesukaannya itu.
"Wuoh... Aroma cabeh".
Cabeh??? Semangat bener sih gadis kecilku ini.
"Om, ngapain cengengesan eminya nanti ngembang lo".
"I-iya, kamu makan yang banyak ya. Diabisin ".
"Siip Om, kalo soal makanan pasti beres".
Hap... hap... hap...
Adel sangat lahap menyantap semua pesanan miliknya. Aku gak nyangka porsi makan adel segitu ngeliat badannya yang kecil nan mungil.
Makanan adel hampir habis. Adel memperlambat aktivitas nya.
"Om... A-ada yang mau omongin sama Om".
"Hmmm... Iya, ada apa?".
"Adel udah... ngasi tau Kak Dewa".
__ADS_1
Deg!!!!
Raut mukanya....
"...".
"Om percaya kan sekarang sama Adel".
"Eh, Saya kenapa kamu ngomong gitu? ". Aku pun ikut menghentikan aktivitasku dan serius menanggapi Adel.
"Karena Adel pingin Om tau kalo adel beneran milih Om".
Pyong~~~
Rasanya kok berbunga bunga gitu ya...
"Tapi, Adel mau Adel perjelas ".
"Ehmm! ".
"Adel gak bisa maksain persaan Adel buat nerima Om".
"Saya tau itu ".
Gak perlu dijelasin juga saya udah tau kamu benci sama saya kan del.
"Jadi... seteleh nikah nanti Adel mau kuliah keluar negeri".
Degh!!!!!
Seperti angin tenang sebelum badai. Pantas daritadi Adel nampak berbeda. Rupanya dia udah membuat perencanaan yang matang. Mau bagaimana lagi pasti dia gak mau serumah sama orang yang asing baginya.
"Kamu mau kemana? ".
"Ke Jepang. Disana pendidikan bagus".
"Jauh sekali, Adel beneran mau bikin jarak diantara kami".
"Mmm... Silahkan kalau kamu mau kuliah di Jepang. Biayany-".
"Tenang Om, kalo soal biaya udah siap kok. Adel bakal mandiri jadi Om gak mesti repot repot ngeluarin uang".
"Biar saya aja yang bayar. Kamu fokus aja kulaih. Toh kalo kamu jadi istri saya kamu bakal jadi tanggung jawab saya. Jadi nggak usah sungkan".
Seperti apa raut wajahku sekarang. Aku gak bisa senyum. Apa aku emang gak bisa ada disisi Adel.
"Kalo udah siap makan, ayo biar langsung pulang".
"Iya Om dikit lagi".
"Kamu pasti senang kan del. Aku terlalu sepele sama perasaan. Gak mungkin aku bisa ada dihatimu". Gumamku sendirian
"Om ngomong apa? ".
"Enggak enggak. Udah cepat abisin! ".
"Iyaaaa".
**********
Bruk!!!!
Grep...
Ada yang kosong disini. Tepat di bagian dada sebelah kiriku. Hatiku serasa hampa. Untuk apa ada pernikahan kalau hanya untuk sekedar status. Kesal. Marah. Frustasi. Tapi sama sekali tidak berdaya.
"Biarlah kalau itu kemauan nya. Biarkan dia bebas dan datang dengan sendirinya... ".
Kupejamkan mataku dengan paksa. Berusaha melarikan diri dari rasa yang menyesakkan ku daritadi.
Mungkin ini yang terbaik untuk kami.
----------
"Papa pasti kecewa ya sama Adel. Maaf adel jadi egois kayak gini. Tapi adel masih belum bisa nerima Om dirga bakal ada dikehidupan Adel. Adel cintanya sama orang lain. Om dirga psti juga gak keberatan dimatanya Adel kan cuma anak dari sahabat karib ayahnya dan mitra kerja papa".
Aku mengoceh ngoceh sendiri. Ada rasa bersalah namun kurasa inilah yang terbaik untuk kami. Karena pernikahan tanpa dasar Cinta tidak akan bisa berkembang tidak akan ada keharmonisan. Akupun nggak mau pura pura perhatian sama Om dirga. Mulai sekarang aku harus mandiri.
_________
Readers gimana ini masak adel mau pindah dan ninggalin Dirga gitu aja. Aduhhh.... 😖😖😖
Mau tau kelanjutannya makanya baca terus ya. Jangan lupa di like sama di comment. Okey...
Ini bonusss buat kalian yg Setia dan baru Setia... Poto prewednya Adel sama Dirga 🤩🤩😘😘
__ADS_1
Mukenya silahkan dibayangin masing masing okey. Karena imajinasi setiap orang itu berbeda beda. 😁😁😁