
Readers info yang dibawah jangan di skip ya... 🙏🙏🙏
____________________
"Adel, kamu ada dimana ini? ".
Dirga terus berkeliling ditengah keramaian kota, meski ia tidak tau harus kemana.
Tiriririring...
Handphone Dirga berdering
"Halo! ". Dirga segera mengangkat teleponnya.
"Tuan, kami mendapat laporan ada seorang pria yang membawa seorang wanita pingsan kesebuah hotel di kota *****".
"Dari Cctv yang kami periksa, sudah kami pastikan itu adalah Nyonya".
Adel!!! Akhirnya!!!!
Adel, tunggu Mas. Kamu harus baik baik saja. Tolong!!
Aku langsung lega mendengar keberadaan Adel. Namun lihat saja Dia pasti akan menyesali perbuatannya. Pasti!!
"BAGUS!!! Kalian semua langsung kesana! ".
"BAIK! ".
Dirga langsung memutar balik mobilnya dan segera menuju ke Hotel tersebut. Dengan kecepatan tinggi Dirga melesat cepat langsung ke TKP. Begitu sampai disebuah gedung hotel yang tidak cukup besar, Dirga melihat beberapa orangnya sudah bersiap untuk menggebrak kedalam Hotel.
Salah satu orang suruhannya menghampiri Dirga.
"Tuan, Nyonya Adel berada di kamar nomor 022 yang ada dilantai 2". Ucap pria berpakaian serba hitam itu sambil membungkukkan badannya.
"Kerja bagus".
Tanpa banyak bicara lagi Dirga langsung masuk kedalam Hotel dan langsung menuju ke tempat Adel. Tentu saja para staf di Hotel sudah mengizinkan Dirga. Siapa yang akan berani menolak perintah Dirgantara Agung Wijaya.
Tap!! Tap!! Tap!!
Langkah kaki Dirga semakin cepat ketika melihat satu kamar dengan nomor 022 diujung lorong.
Masih beberapa meter dari kamar Dewa, Dirga mendengar teriakan seorang wanita yang sudah jelas adalah Adel.
"BERHENTI... BERHENTI...!!!! TOLONG!!!! SIAPA AJA TOLONG!!! TOLONG!!!!".
ADEL!!!!
BRAK!!!!
Dirga langsung mendobrak pintu yang cukup keras berbahan besi itu. Memang benar kekuatan akan semakin besar jika dalam keadaan genting.
Ketika pintu itu didobrak, didalam ruangan yang gelap tanpa penerangan. Seorang wanita tengah kehabisan tenaga dan terkulai lemah dilantai dengan busananya yang berantakan tak lagi beraturan sedangkan seorang pria berada diatas tubuhnya mencoba menggerayangi tubuh Adel.
Wajah Adel pucat bukan main. Air mata bercucuran diwajah Adel. Emosi Dirga semakin menggebu gebu. Ditambah lagi ada bekas memar yang terdapat diwajah Adel. Dirha langsung melompat dan menghujani Dewa dengan puluhan tinjuan dan tendangan.
BUK!!! BAK!!! BUK!!!
"SIALAN KAU!!! BERANI BERANINYA KAU NYENTUH ISTRIKU!!!! ".
Tinjuan dan tendangan bertubi tubi tanpa henti melayang bebas keseluruh tubuh Dewa. Sedangkan Adel terdiam kaku sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.
BAK!!! BUK!!!!
"BRENGSEK!!!! ".
BHUGH!!!!
Satu tinjuan terakhir mengakhiri gebukan Dirga. Dewa tergeletak lemah penuh darah dilantai. Wajahnya benar benar hancur kena gebukan Dirga.
Grep!!!
"Adel... ".
Aku langsung memeluk Adel sekuat mungkin. Tubuhnya dingin dan juga gemetaran.
"Ma-mas... Hik... Huwaaa....... ".
GREP!!!!
Adel langsung membalas pelukanku. Ia memelukku jauh lebih erat dari aku memeluknya. Ia meraung di dekapanku. Tak peduli kondisinya yang hampir setengah telanjang.
Deg!!!
Tangisan Adel mendadak memelan dan berhenti.
Tiba tiba Adel pingsan dan membuatku sangat panik, tubuhnya yang tadinya dingin kini menjadi semakin dingin. Wajahnya memucat.
"Adel". Aku menggoyangkan tubuh Adel, Namun sorot matanya semakin mengabur. Suhu tubuhnya semakin dingin. Mulut Adel seakan mengucapkan sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya. Ia tidak bersuara, Aku segera bangun dan berangkat menuju Rumah sakit terdekat.
SRAK!!!
__ADS_1
Tap!!! tap!!! tap!!!
"Adel tolong, kamu harus baik baik aja! ".
BRAKKK!!!
"CEPAT KERUMAH SAKIT TERDEKAT!!! ". Perintah Dirga pada tangan kanannya.
"Baik, Tuan! ".
Brumm....!!!
Tak sedetikpun Dirga melonggarkan pelukannya pada Adel. Tubuh adel tetap dingin, wajahnya semakin pucat Dirga tidak mau mengucapkannya namun Adel nampak seperti mayat. Pucat dan dingin.
"Adel, Mas mohon kamu harus kuat. Kamu harus bertahan!!! ".
Ckit!!!
"Tuan!! ".
BRAK!!!!
Mereka berhenti disebuah rumah sakit yang lumayan dekat dari hotel tadi. Dirga langsung menggendong Adel ke IGD.
"Suster tolong istri saya!!!! ". Teriak Dirga begitu masuk didepan pintu IGD.
Dengan sigap para suster langsung mengambil brangkar dorong dan menempatkan Adel diatas brankar dorong itu, diikuti dokter yang berjaga di IGD
"Pak nama Ibuk ini? ".
Tanya dokter wanita itu sambil berlari membawa Adel kedalam ruangan ICU.
"Adel".
"Buk... Buk Adel!!! Apa ibuk bisa dengar suara saya!!! ". Dokter wanita yang nampak masih muda itu berteriak berusaha memastikan Adel tidak kehilangan kesadarannya.
Begitu sampai diruang ICU mereka segera mengurus Adel. Sedangkan Dirga mau tidak mau harus menunggu diluar sesuai dengn prosedur yang ada di rumah sakit.
Dirga tidak percaya Adel harus segera dilarikan ke ICU. Ia berjalan mondar mandir didepan pintu itu. Pikirannya hanya satu, semoga Adel baik baik saja.
**********
"Buk Adel!!! ". Panggil Dokter itu lagi.
Tit... tit...
"Dokter serangan jantung mendadak! ". Ucap susternya.
"Siapkan pacu jantung!! ".
Samar samar aku mendengar seseorang memanggil namaku, tapi suara itu sangat jauh. Sedangkan aku tidak bisa melihat apapun disini. Sunyi. Tapi aku merasa amat tenang. Aku melangkah menyusur jalan yang terlihat putih bersinar, langkahku terasa amat ringan.
O iya... Mas Dirga bukannya tadi datang ya? Tapi sekarang gak ada?
"Ma-s... Dir-ga... ". Gumam Adel pelan.
"Suster cepat panggil suaminya! ". Perintah dokter itu tanpa berhenti memacu jantung Adel.
BRAK!!
"Pak segara masuk, Ibuk Adel butuh bapak! ". Ucap suster itu seraya mengarahkan Dirga untuk segera masuk.
Sekejap mata Dirga tertuju ke ranjang pasien itu. Tubuhnya yang dikelilingi jarum jarum impus. Oksigen. Dan dokter yang terus terusan memanggil nama Adel.
"Adel... ".
Suster tadi segera memakaikan baju khusus pada Dirga.
"Pak semangati Buk Adel Pak!! ".
"Ba-baik! ".
Tap!! Tap!! Tap!!
"Adel! ".
"Dokter, jantungnya tidak berdetak!! ".
"Adel!!! Berjuang!! ". Teriak Dokter itu seraya terus memompa jantung Adel yang semakin lama semakin lemah.
Dirga menatap Adel penuh kekhawatiran Ia mengelus lembut kepala Adel.
"Sayang...".
TIIIIIIT................
Suara layar monitor yang menampilkan garis lurus bewarna hijau. Diiringi dokter yang berhenti memompa jantung Adel.
"ADEL!!!! ".
"DOKTER!!!! ".
__ADS_1
Dokter menutup kedua matanya sambil menggelengkan kepala. Cukup membuat Dirga paham apa yang tengah terjadi.
"Enggak!!! Enggak!!!!!!!! ".
"Adel, jangan tinggalkan Mas... Sayang tolong jangan pergi... ".
Dirga menangis mengenggam erat tangan Adel yang sedingin es ambil mengecup ngeucup punggung tangan mungilnya itu.
"Hik... Huhuhuuu... Adel". Pekik Dirga.
"Adel, kamu cinta sama Mas kan, kalok kamu cinta kamu harus balik. Jangan tinggalkan Mas sendiri... Adel... Hik.... ".
"Tuhan tolong jangan renggut nyawanya... hamba mohon...!!! ". Teriakan Dirga menambah keharuan didalam ruangan ICU itu.
"Pak... ".
"Jangan lepas alat alat ini Dok, mungkin istri masih terselamatkan... Saya akan terus manggil Istri saya... tolong... tolong dok".
Melihat itu Dokter pun memberikan ruang untuk Dirga. Ia hanya menonton dibelakang mereka.Seraya berdoa didalam hati.
**********
"Kenapa disini gak ada orang sih... ". Gerutu Adel sambil menyusuri jalan yang tak kelihatan ujungnya itu.
Kemudian dibalik kabut tebal bewarna putih. Sosok itu muncul, bergaun putih polos dan tersenyum melihat kearah Adel.
"MAMA!!!!!!! ". Teriak gadis itu dan langsung berlari ke pelukan Ibu tercintanya.
"Adel... ".
"Ma... ini surga? ".
Lisya tersenyum sendu menatap gadis kecilnya itu mempertanyakan hal tersebut. Ia tidak sanggup menjawab tapi harus tetap menjawabnya.
"Bukan. Ini masih diperbatasan... antara hidup dan mati".
Deg!!!
Sedikit shock tapi Adel nampak lumayan tenang.
"Berarti Adel bisa ikut Mama. Bisa ketemu sama Papa juga! ". Binar penuh harap terpancar dimata Adel.
"Emm! ". Angguk Lisya.
"Waah... Adel kangen banget sama Papa!!! ". Adel tersenyum kegirangan mendengar bisa berkumpul bersama keluarganya meski dialam yang berbeda.
"Iya? Pasti papa juga kangen sama kamu".
Lisya mengulurkan tangannya dan langsung disambut gembira oleh Adel. Ia mengenggam erat tangan ibunya itu. Hangat. Kehangatan yang sudah lama ia rindukan.
Mereka berjalan menyusuri kabut kabut tebal didepannya. Dibalik kabut itu terdapat sebuah cahaya yang amat terang. Dibalik cahaya itu terdapat alam kematian. Dimana Ayah dan Ibu Adel berada.
Tiba tiba...
"Adel! ".
Hah??? Suara ini???
"Kenapa adel? ". Tanya Lisya melihat putrinya itu seperti orang linglung melihat kesana kemari.
"Adel dengar suara Mas Dirga Ma... ".
Lisya terkejut. Sungguh ikatan batin yang kuat.
"Jangan tinggalin Mas... ".
Mas Dirga....
Adel menatap keatas tinggi tinggi menutup kedua matanya. Berharap perasaannya akan tersampaikan.
Mas, maafin Adel... Adel harus pergi, Adel mohon mas jangan marah ya... Adel... Adel benar benar mencintaimu Mas...
Tes...
Air mata terakhir pun jatuh. Kisah Cinta yang tragis. Tak satupun diantara mereka yang mengungkapkan perasaan masing masing. Kini mereka hanya akan menyimpan perasaan yang menggebu gebu didalam diri merek sendiri dan tak akan ada tang tahu satu sama lain.
_____________
Hai readers...
Huh!!! Da lama banget gak nulis, pasti kalian pada kesel kan udah pada lupa sama ceritanya... hehehehe...
Author paham kok, soalnya author juga sering ngebaca ulang suapaya ceritanya gak salah. ingatan author emang gak sekuat kalian para readers abadiku ini.
Tapi makasih ya, tetap baca dan selalu support.
Sekedar saran kalau lupa silahkan diulang aja bacanya, gpp kok tapi kalo kalian mau aja, author gak maksa...
🙏🙏🙏🙏
info:
__ADS_1
Jangan lupa cuci tangan, mandi dan jaga kesehatan ya Readers... karna covid-19 yang semakin banyak mewabah di Indonesia. Karena itu jangan lupa berdoa dan selalu beribadah...
Terkhusus buat muslim, karna sebentar lagi kita akan masuk bulan Ramadhan... semoga doa doa kita dijabah Allah SWT ya.. Aamiin ya rabb...