Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 37


__ADS_3

BRAK!!!


Sesampainya dirumah Dirga langsung masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya. Emosi Dirga benar benar telah sampai ke ubun ubun. Tidak bisa ia pungkiri ia sangat kesal ketika Ayahnya menjelek jelekan Adel tanpa mau melihat kebenarannya. Dan yang lebih membuat kesal lagi Si Nenek Sihir itu tersenyum puas melihat pertengkaran Dirga dengan Ayahnya.


"HAH!!!! Siapa yang ngatur semua ini? ".


Prank!!!


Dirga membanting semua benda dikamarnya.


Tiririririring...


Dewa?! Apa lagi sekarang mau anak sialan ini!!!


"Hahahaha... Halo Om, udah sampe kejutannya? ".


"Grrr.... ".


"Om aku juga gak sebodoh itu untuk ngancam Om... ".


"Kamu? Apa maumu?! ". Bentak Dirga.


"Ai?! Bukannya udah jelas Om, Aku cuma kepingin Adel bebas aja dari cengkeraman Om. Toh Adel juga gak Cinta sama Om kan! ".


Grrr...


"Kamu...! Ini udah batasan Saya. Semoga kamu gak nyesal udah buat saya marah".


Tit!


Dirga langsung mematikan telepon dari Dewa. Dirga menatap keluar jendela. Ditengah tengah kamarnya yang berantakan dengan remang remang cahaya lampu yang minim, sorot mata Dirga seakan mengatakan. Ini akhir untukmu!


**********


"Hiks... hiks... kenapa selalu kayak gini? Apa aku gak berhak bahagia? Kenapa nasibku jelek amat sih? Apa ini dosa gara gara aku sering bentakin Mas Dirga? ". Adel menangis sepanjang waktu, tanpa makan dan tanpa minum. Ia amat takut jikalau Dirga akan meninggalkannya.


**** bukan waktunya ngelawak sekarang!!!!


"Huhuhuhu... Gak ada kabar apapun dari Mas Dirga, Pasti dia marah sama aku. Hiks... ".


Deg!!!


"Gimana kalau aku dicerein... Huhuhu... gak mau!!! Aku gak mau jadi Janda muda!!!! ".


Adel menangis sejadi jadinya diatas tempat tidur yang berantakan bukan main.


Selang beberapa menit menangis Adel tiba tiba berdiri dan langsung lompat kelantai menuju kearah lemarinya.


Brak!!!


Adel membuka pintu lemarinya lebar lebar. Kemudian mengambil koper besar yang tersusun rapi didalamnya. Ia langsung menyusun baju bajunya kedalam koper itu. Saat ia tengah sibuk mengambil baju dari lemari Adel melihat sebuah kotak berbentuk kotak amal yang dikunci rapat rapat. Kotak itu adalah kotak tempat ia menyimpan barang barang berharganya. Setelah bertahun tahun ia menyimpan itu hari ini dia ingin membukanya.


Adel berdiri dan mengambil kotak perhiasan pemberian Ibunya sebelum meninggal. Disana Adel menyimpan kunci dari gembok kotak rahasianya itu.


"Wah.. sukur masih ada! ".


Cklek!


Kebukak!!!


"Apa isinya ya... da lama banget soalnya ".


Deg!!!


Mata adel langsung tertuju kesatu benda yang sudah lama ia cari.


"Inikan surat dari Ayah, rupanya aku simpan disini.. hiks.. pantesan aja aku cari dimana mana gak ketemu".


Jantungku berdegup begitu kencang, telah lama aku mencari surat peninggalan terakhir dari Papaku.


Sret... Adel membuka amplop surat yang bewarna putih polos itu.


°Adel, Malaikat kecil Papa. Maafkan papa udah maksa kamu nikah sama Dirga. Tapi Papa yakin kamu akan bahagia bersamanya. Karena kamu kenal Dirga... –°


"Ha? Kenal?! Aku kenal Mas Dirga ?! Tapi kapan?!!! ". Adel lanjut membaca surat itu, agar rasa penasarannya langsung terbayar.

__ADS_1


°Apa kamu ingat anak laki laki yang sering ngantarin kamu kesekolah?...


"Hmm... Nganterin? ".


°Itu dirga, tetangga baru kita yang Ibunya temennya Mama. Kalian dulu akrab banget lo. Malah kamu dulu sering banget ngajak Dirga nikah–


"What!!!! Masak aku???? Mas Dirga??? Emang dulu aku punya temen yang kaya gitu?!!! ".


Emang gue bocah yang sukak nonton drakor apa?!


°Papa bersyukur kami bisa ketemu sama Dirga, nak. Maaf Papa maksa kamu nikah sama Dirga. Tapi semua itu juga kemauan Nak Dirga sendiri. Dulu mungkin kamu udah lupa, tapi Dirga pernah datang kerumah waktu kamu SMP dan Dia dengan sungguh sungguh ingin menikahi kamu, Adel. Karena itu Dirga bukan orang lain, Dirga adalah sosok yang bisa menggantikan Papa sama Mama disampubg kamu Nak°


Papa, jadi selama ini aku kenal sama Mas Dirga. Tapi kenapa bisa aku lupa sama Mas Dirga? Kapan kami ketemu Pa..?


Adel mulai kebingungan. Tentu saja dia tidak bisa mengingat Dirga. Dulu sekali sewaktu dia baru masuk SMA,terjadi kecelakaan yang cukup parah.Hampir saja kecelakaan itu merenggut nyawa Adel,namun keajaiban terjadi meski separuh ingatannya lenyap dan hanya sedikit yang tersisa nyawa adel terselamatkan.


Adel kembali menatap surat terakhir Ayahnya itu.Sungguh ia seperti merasakn kehadiran Ayahnya yang tengah memeluknya dengam lembut, seakan mengatakan Papa akan selalu disisi kamu, melindungi kamu. Jadi kamu enggak akan sendirian, Adel.


"Hmm.. Iya, Pa. Adel tau... ". Senyuman yang melambangkan kerinduan yang tak terungkapkan hanya dengan kata kata.


"Pa, Adel berangkat Ya... ".


Ckelek.


Aku gak mau menyesal. Hari ini juga Aku bakalan ngejelasin semuanya ke Mas Dirga.


Adel bertekad didalam hatinya. Dam segera berangkat kebandara setelah membooking tiket pulang ke Indonesia. Namun...


"KYAAA!!!! To–".


"Diam! ".


**********


"Hah... sampe juga". Gumam Dirga didalam hatinya.


"Bagaimana keadaan Adel? ".


"Seharian ini juga Nyonya tidak keluar dari kamarnya, Tuan". Ucap salah satu suruhannya.


Ckelek.


"Mana Adel?!!!". Teriakku kepada semua orang orangku. Mereka saling bertatap tatapan.


"Ma-maaf, Tuan–".


"Sekarang juga cari!!! Kalau tidak kalian saya pecat!! ".


"Baik!! ".


Akh, apa lagi ini?!!!


Emosi Dirga masih belum stabil. Terlalu banyak masalah yang datang secara beruntun padanya. Entah apa kesalahan yang telah ia lakukan.


**********


"Hehehehe... A-de-l, Kenapa kok pucat amat? ". Pria itu menyeringai tepat didepan wajah adel.


Aku menatap ke sekelilingku. Tempat ini terlihat amat asing, tapi aku yakin ini pasti apartemennya Dewa. Karena aku ditempatkan disamping tempat tidur yang cukup besar. Meski cahaya diruangan ini minim tapi samar samar aku melihat beberapa barang yang sudah pasti ditempatkan ditempat tinggal orang.


"Kak, buat apa kakak ngelakuin ini semua?! ".


Kak Dewa langsung memelototiku. Bukannya wajar aku mempertanyakan hal yang ia perbuat padaku. Namun, bukannya menjawab dia malah menatapku setajam silet. Dia bukan lagi Kak Dewa yang kukenal.


"Kamu nanyak kenapa? ".


Grep!!!


Dheg!!!!!


Kak Dewa mencengkram kedua pipiku dengan keras. Wajahnya semakin dekat dengan wajahku, seringainya semakin jelas dan membuatku semakin merinding. Jantungku berpacu semakin dekat. Aku semakin takut. Apalagi ditangan Kak Dewa ada sebuah jarum suntik yang aku tidak tau cairan apa yang ada didalamnya.


"Seharusnya aku yang ada disamping kamu Del, seharusnya aku yang jadi Presiden perusaan inti Mahendra Grup... Tapi gara gara cowok sialan itu, rencanaku gagal semua!! ".


Perlahan Kak Dewa mulai mengangkat jarum yang ada ditangannya kemudian mengarahkannya ke tubuhku.

__ADS_1


"Kak! ".


"Kalau aja dia gak ada, pasti rencanaku gak akan gagal". Dewa nampak seperti orang yang telah kehilangan akal sehatnya.


"Tenang Del, ini cuman obat supaya kamu gak bisa gerak aja kok. Gak bakalan bikin kamu mati juga...".


"Lagian aku gak bakalan bunuh kamu yang bakal jadi ibu anak anakku nanti... Hehehe.. ".


ibu?!!!


Ces!!!


Gawat. Kak Dewa usah nyuntik aku!!!


"Adel...? ". Panggil kak Dewa dengan suara seperti orang yang tengah mabuk


"...!!!!".


"Kamu, masih beluk bikin anak kan".


Dheg!!!


Seketika darahku seakan mendesir melewati saraf saraf didalam tubuhku. Jantung ku memompa lebih cepat. Napasku mulai tidak beraturan. Aku tau aku sedang dalam bahaya besar, jangan sampai apa yang kupikirkan barusan terjadi. Nggak boleh. Aku mencoba melepaskan diri dari tali yang mengikat tanganku tapi...


Brak!!!


Tiba tiba saja tubuhku terjatuh sendiri. Aku tidak bisa menggerakan satu jari pun. Badanku seakan lumpuh. Saat itu kulihat seringai Kak Dewa semakin menjadi jadi. Seperti predator yang melihat mangsanya masuk kedalam perangkap buatannya sendiri.


"Ka-kak, Aku mohon ja-jangan! ".


Kepalaku pusing, penglihatan ku menjadi sedikit buram. Aku terkulai lemah tak bisa apa apa. Saat itu hanya satu yang kupikirkan. Mas tolong aku...


"Hihihihihi.. Kalau aku hamilin kamu, pasti Dirga bakalan cerein kamu. Terus perusahaan itu bakal jadi milik aku dan kamu Adel.. hehehe... ".


"Kamu bakal hidup bahagia sama Aku, bersama malaikat malaikat kecil kita nantinya.. heehehe.. ".


Enggak!!! Gak mau!!!...Eghhh... aku gak mau kalau harus hidup sama Dewa!!! Aku harus bisa nyelamatin diriku sendiri!!!!!


Dewa mulai sibuk membuka baju adel satu persatu. Namun tentu saja meski sudah diberi obat yang cukup keras. Dengan tekad Adel ia berusaha memberontak. Meski tidak terlalu berpengaruh namun cukup untuk membuat Dewa tidak dengan bebas menelanjangi Adel.


"KAK BERHENTI!!! egh!!!... ".


Capek!! Kepalaku makin pusing!!


"Hahahhahahaha... hihihi... hahahah... ". Dewa semakin tidak terkendali.


Buk!!


"Lepas!!!! DASAR SINTING... JANGAN SENTUH AKU!!! ".


Kenapa? Hal hal buruk terus datang?!!


"Adel.... ".


Padahal aku cuman pingin nenangin diri. Hiks... sendainya aku gak pergi ke Jepang. Seandainya aku gak keras kepala. Seandainya aku langsung kasi tau Mas dirga soal Dewa... seandainya... hiks.. kenapa aku jadi terus nambahin penyesalan kayak gini, kenapa semua pilihanku malah bikin aku celaka??


"BERHENTI... BERHENTI...!!!! TOLONG!!!! SIAPA AJA TOLONG!!! TOLONG!!!!".


Siapa yang bakalan datang. Mas Dirga juga marah sama aku. Aku udah gak punya siapa siapa lagi...


"Ops... gitu dong jadi anak baik...".


BRAK!!!!


Tiba tiba seseorang mendobrak pintu dari luar. Bagaimana caranya, bukannya pintu itu dati besi?


BUK!!! BAK!!! BUK!!!


"SIALAN KAU!!! BERANI BERANINYA KAU NYENTUH ISTRIKU!!!! ".


______________


Hai readers jangan lupa like komen and favorit okeyy...


see you... love our so much🥰😘😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2