Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 35


__ADS_3

Hai readers...


kali ini salam sapa diatas okeee


buat kalian yang udah nunggu dan selalu baca and like, makasih ya...


Meskipun lama tapi kalian tetep nunggu maaf maaf... sebenar author udah kehabisan ide dan bingung mau nyambung nya gimana, tapi karena ada kalian yg nunggu up... muncul deh ide ide dadakan yang bikin author semangat lagi buat nuliss...


jadi jangan lupa komen like dan favorit kan bagi yg belum difavoritkan...


See you next time 🥰🥰🥰😉😘


æ„›


____________


Hampir setiap hari aku ketemu sama Kak Dewa. Entah itu hanya kebetulan atau memang kesengajaan, tapi apapun alasanya aku ngerasa risih kalau ketemu Dia. Pasti aneh kan aku yang dulu tergila gila dengannya dan sekarang malah jadi geli sendiri. Gimana gak geli kalau setiap hari dia terus ngikutin kemana aku pergi selalu ada disetiap tempat aku berada. Udah kayak stalker aja. Fix ini udah batasanku.


Aku jadi ngerasa terawasi gitu kalau dia ada. Aku jadi gak bisa leluasa untuk bergerak.!!!!


Hari ini tiba tiba Kak Dewa ngajak aku makan malam bareng, sebenarnya aku gak mau karena kukira cuma kami berdua, tapi ternyata dia juga ngajak temen temennya yang lain jadi karena itu aku ikut aja.


"Ya udah Del pesen aja ". Kak Dewa yang duduk didepanku dengan santainya memberikan daftar menu sambil tersenyum seperti biasanya padaku.


"I-iya Kak... tapi yang lain kemana kak? ".


Sekejap Kak Dewa menatap kutajam. Hanya sepersekian detik wajahnya kembali normal tentu itu bukan hal yang wajar kan.


"Gak jadi ikut katanya". Jawabnya datar sembari membaca daftar menu.


Ha??? Jelas jelas dia bohong lo!


"Kak kalok gitu aku balik aja ya". Aku langsung meletakkan daftar menu yang bahkan belum kubaca sama sekali. Sebelum aku berdiri...


Grep!!!


"KAK!!! ".


Ditengah tengah keramaian cafe Kak dewa tiba tiba memelukku dari belakang. Apa dia udah gila?.


"Adel... ". Desahnya.


Bisikannya ditelingaku membuat seluruh bulu kudukku merinding sampai ke ubun ubun. Kami menjadi pusat perhatian. Tapi dia sama sekali gak peduli itu, aku sudah cukup malu menjadi bahan tontonan orang orang yang asing dimataku. Ditambah lagi para pelayan yang tengah sibuk melayani pun ikut menonton adegan akibat ulahKak Dewa.

__ADS_1


"Adel jangan tinggalin aku...! ". Ia meraung penuh drama. Ia bersujud didepan mataku dan berusaha memeluk kedua kakiku. Itu sangat membuatku malu.


"Adel aku tau kamu masih sayang sama aku, meski kamu udah menikahi om om itu".


Dheg!!!


Dalam hitungan detik. Semua pengunjung benar benar berpusat padaku, apa yang akan mereka pikirkan mendengar ucapan Kak Dewa barusan. Benar ia mengucapkan semua keluh kesahnya menggunakan bahasa Jepang bukan bahasa Indonesia. Ia sengaja mempermalukan aku. Apa maksudnya?!!!! apa dengan begini aku akan jadi ****** penurut yang setia pada majikannya. Enggak!


"Kak cukup!!! ". Aku mendorong tubuhnya yang sibuk memeluki kedua kakiku sambil memohon mohon tidak jelas.


"Kakak jangan bikin aku malu, aku udah bilang kakak jangan ganggu aku lagi !!!!". Aku menatap tajam jauh kedalam matanya berusaha untuk mengintimidasi dirinya, namum upayaku gagal. Dewa jauh lebih menyeramkan, meski ia berlutut dibawahku namun tatapan itu merupakan sebuah peringatan bahwa tidak ada kata penolakan yang akan ia terima. Tatapan membuatku ngeri hingga aku meninggalkan Dewa untuk yang kesekian kalinya.


Hari ini aku yakin bertemu dengannya bukanlah sebuah kebetulan dia sudah menyiapkan segalanya hingga matang. Akan ada sesuatu yang akan terjadi padaku, meski aku tidak tau apa itu tapi firasatku mengatakan ini akan menjadi yang terburuk.


**********


Dua hari berlalu, untuk pertama kali dalam kehidupanku di Jepang Aku tidak melihat ataupun merasakan kehadiran dari setan laknat yang terus terusan mengikuti ku dan tentu saja hari ini aku merasa amat damai sedamai damainya.


Ada orang pernah bilang ketika laut amat tenang maka ombak yang akan besar akan datang.


Seusai pulang kuliah aku langsung ke apartemen. Sesampainya di apartemen aku langsung mendapat chat.


Chat itu berisi foto ku dengan Dewa yang kemarin berpelukan. Bukan. Ia memaksa memelukku dan pengirimnya adalah... Mas Dirga.


"Adel, kamu udah punya pilihan ternyata".


BYAR.!!!!!


Bagai tersambar petir aku langsung menghubungi Mas Dirga, tak peduli jika ia sekarang tengah sibuk bekerja ataupun akan malas berbicara denganku.


Tiririririir....


Diangkat!!!!!!


"Halo Mas".


"...".


"Foto itu gak bener Mas, tolong percaya sama Adel".


"Percaya? ". Nada penuh keraguan.


"Saya mau percaya, tapi melihat semua tingkah kamu saya semakin sulit untuk percaya".

__ADS_1


"Saya??? Kenapa Mas gak ngomong kayak. biasanya? ".


"Adel, saya gak tau harus gimana. Kamu tidak mencintai saya dan kamu memutuskan untuk pergi jauh. Saya gak tau kamu sekarang sedang jujur atau enggak ".


"Ma–".


Tut... tut.. tut..


Mas suaramu bergetar. Tolong jangan salah paham. Tolong jangan panggil dirimu sendiri dengan sebutan "saya",kamu bukan orang lain Mas. Jangan bersikap dingin lagi sama adel.


Malam itu ombak besar menghantam rumah tangga Adel dan Dirga. Tentulah semua ini perbuatan Dewa. Siapa lagi kalau bukan dia. Benar. Dewa memang sudah merencanakan semua ini ketika mendengar kabar Adel akan berangkat ke Jepang.


Bukan hanya sebuah foto tapi Dewa juga sudah menelpon Dirga dan mengatakan Adel berada bersamanya saat itu. Setiap hari Dewa mengirim pesan dan juga voice note pada Dirga. Namun sayangnya Adel yang berusaha menutupi hal mengenai Dewa dari Dirga malah jadi bumerang baginya. Dirga yang sering menanyai adel tidak pernah mendapat kabar tentang kehadiran Dewa. Kecurigaan demi kecurigaan memupuk dipikiran Dirga yang tidak pernah ia tanyakan pada Adel.


Mereka saling bungkam dengan perasaan masing masing.


Voice Note


"Mas, tolong angkat telepon adel... semuanya itu salah paham".


(Read)


"Mas... jangan diemin adel".


(Read)


"Mas tolong ....".


(Read)


Semua pesanku cuman dibaca. Sekecewa itu kamu Mas... tapi semua itu cuman salah paham... itu gak bener, tolong jangan pergi... Mas Dirga...


Saat itu aku baru sadar bahwa aku tidak ingin kehilangan dia yang berharga bagiku. Tapi tetap saja aku belum yakin apakah perasaan ini benar karena cinta atau hanya karena hanya dia sosok yang menemaniku semenjak aku hanya menjadi anak sebatang kara.


**********


Malam hampir berlalu, namun tidak ada kabar dari Dirga. Adel yang menunggu tanpa tidur merasa amat kehilangan. Ia takut akan ditinggal sendirian disini benar benar sendirian. Tanpa seseorang yang selalu mendebatkan masalah makan malam Adel. Seseorang yang selalu menanyakan keadaan ketika ia saat itu tengah kesepian tanpa ada orang lain yang ia kenal. Dan kini niatnya untuk menyembunyikan hal yang mungkin membuat Dirga marah dan khawatir malah benar benar membuat Dirga marah.


Kali ini Adel mengingat semua perlakuan kasar yang ia lakukan pada Dirga. Perkataan perkataan yang sudah pasti membuat hati dan perasaan Dirga terluka. Namun belum pernah Dirga meninggalkan Adel dan membuat Adel menjadi lebih kesepian. Meski beribu-ribu penolakan yang dilontarkan Adel tapi Dirga tetap menemaninya ketika harapan dan cahaya hidup terakhirnya pupus.


Fajar mulai menyingsing. Adel berjalan sempoyongan kearah kasurnya. Matanya sembab, rambutnya berantakan. Pandangan matanya kosong dan hanya menatap layar ponselnya yang tak kunjung berdering. Adel merebahkan dirinya diatas kasur. Membiarkan air mata mengalir sepuasnya. Tidak ada hal yang ia inginkan saat ini. Satu hal yang ia ucapkan...


Seandainya aku nggak kekeh kuliah dijepang, pasti semua ini gak bakal terjadi...

__ADS_1


Penyesalan selalu datang terlambat. Semua sudah terjadi gadak gunanya untuk disesali. Nasi udah jadi bubur. Apa yang harus dilakukan sekarang hanya mencoba untuk tidak memperparah keadaan.


__ADS_2