
Fajar mulai menyingsing. Matahari mengintip dengan malu malu. Adel terbangun dari tidurnya. Merasakan sesuatu yang mengganjal di kelopak matanya. Terasa berat.
Adel berjalan kearah cermin besar disamping lemari dirga. Ia menatap wajahnya yang membengkak karena menangis sepanjang malam hingga terlelap.
"Aku harus bisa. Aku gak boleh gini terus". Adel bergumam lirih sambil menatap dirinya yang menyedihkan didepan cermin.
Adel berjalan sempoyongan kearah kamar mandi. Ia terkejut ketika ia melihat surat yang semalam ia baca teremas diatas lantai. Seingatnya ia tidak *** surat yang diberikan Kak Dewa kepadanya.
"Kenapa bisa disitu? ".
"Jangan jangan Mas dirga yang baca? ".
Gimana ini kalo benar. aku harus gimana pasti Mas dirga marah banget sama aku. Egh... Kenapa selalu sial gini sih....
Adel mengambil surat itu dan segera menyembunyikannya.
Setelah selesai berbenah diri Adel turun kebawah. Berjalan keruang makan . Ia melihat sesosok pria yang kini adalah suami nya tengah menyantap sarapan sambil menscroll gadgetnya.
**********
Kulihat adel berjalan kearah meja makan. Wajahnya nampak sangat kaku. Apa dia merasa tidak nyaman makan bersamaku karena isi surat itu?.
"Adel kamu gak sarapan?".
"I-iya mas". Adel segera duduk didepanku menunggu bik siti menyediakan roti bakarnya.
"Ini nyonya".
"Eg...aku ngerasa tua deh kalo dipanggil nyonya". Gumam adel didalam hatinya.
Adel menyantap lahap sarapannya. Aku tersadar ada yang kurang dijari Indah adel.
"Kemana cincin kamu? ". Tanpa sadar dirga berintonasi seakan mengintimidasi adel.
"E... itu... ".
"Kamu malu make cincin nya? ". Aku semakin kesal.
"Enggak mas, bukan gitu".
"Terus kenapa kamu gak pake! ".
Dirga kenapa lo jadi marah marah gini sama adel.
"...".
"Kamu gak mau si dewa itu liat cincin pernikahan kita? ".
Akh... gue gak bisa ngendaliin emosi gue.
Adel langsung mendongak terkejut dan menatap wajahku. Aku beranjak dari meja makan meninggalkan adel dan masuk kedalam kamarku.
Srak...
Sruk...
Srak...
Ku rogoh rogoh semua isi laci dan lemari. Mencari ke setiap tempat dimana adel menyimpan cincinnya. Semua barang berserakan tak tersusun dilantai.
Akhirnya aku menemukan kotak kecil bewarna merah yang berbentuk hati. Aku membuka kotak kecil itu. Cincin berlian yang kusematkan kejari manis adel saat akad tersusun rapi disana.
Aku mengambil cincin itu dan langsung turun kebawah. Kutinggalkan kamar yang berantakan tak peduli. Aku melangkah cepat menuruni anak tangga. Kulihat adel sudah berdiri di samping meja makan. Melihatku cemas sekaligus takut.
Aku mempercepat langkahku sambil menatap tajam kearah adel.
"Mas? ". Adel terlihat sangat ketakutan ia melangkah mundur menghindariku. Dengan cepat kutarik tangan adel.
"Aww!". Pekik adel.
Aku menarik kasar jari jemari adel. Dan dengan paksa memasang cincin itu di jari manisnya. Ia memberontak berusaha menarik tangannya yang sadang kusakiti.
"Mas sakit mas!!!! ".
Setelah cincin itu terpasang dijemari adel aku menghempaskan tangannya. Memegang kedua pipinya agar mengahadap kepadaku. Aku berbisik penuh penekan. Berusaha memberitahu adel.
"Jangan pernah kamu lepas cincin ini lagi!!! ".
Adel menatapku. Rasa benci dimatanya terlihat sangat jelas.
"Ini hidup saya! -".
"Kamu istriku adel. Aku berhak atas diri kamu!!!! ".
__ADS_1
"Om gak berhak!!!!!... Ingat pernikahan ini sama sekali gak didasari sama rasa Cinta!!! KITA CUMA ORANG ASING!! ". Adel mendorongku kuat. Hatiku seperti menciut. Sebenarnya aku tau tapi jika mendengar langsung dari mulut adel memang benar benar menyakitkan.
Air bening menetes membanjiri pipi adel. Ia berlari dan pergi meninggalkan dirga.
Dirga mengusap kasar kedua wajahnya. Tak menyangka dihari pertama pernikahan mereka yang seharusnya mereka bahagia namun harus ada perkelahian yang antara mereka.
"Akh...!!! ".
Dirga menghempaskan tubuhnya ke kursi meja makan.
----------
Hiks...hiks....hiks...
"Ma... hik... Kenapa sih harus gini terus... adel gak bisa... hik... kenapa om dirga bentak bentak...! ".
Kalo emang masalah surat itu aku pasti bakal jelasin. Kenapa dia semarah itu??? Hiks...
Tok
Tok
Tok
"Adel? ". Mas dirga memanggilku dari luar. Aku tidak mau menemuinya.
"Saya masuk".
Cklek
Akh.. aku lupa ngunci pintunya
"Ngapain Mas kesini? ".
"Maaf, saya udah ngebentak kamu".
Maaf?? Semudah itu kah?
Aku diam. Males membalas omongan Mas dirga. Aku terlanjur sakit hati.
"Apa kamu tau kenapa saya sekesal ini? ". Suara mas dirga tetap lembut tidak seperti tadi yang terus membentak dan kasar padaku.
"Saya gak mau kamu masih berhubungan sama si Dewa itu ".
"Apa mas masih belum percaya sama adel? ".
"Saya percaya, tapi saya liat isi surat itu".
"Mas... kalo mas ngomong adel juga bakal ngasi tau mas... ".
"Tapi kenapa kamu gak langsung cerita sama saya? ".
"Mas... Adel capek kalo berantem terus kaya gini! ".
"Adel... ".
"Mas... kenapa mas ngurusin terus kaya gini! ".
Dheg!!!!
Mas dirga menarik tengkukku mendekat kearahnya. Bibir mas dirga mengecup lembut bibirku. Aku masih terdiam tak bergeming. Mas dirga menggigit bibir bawahku. Ia mukai memakan bibirku, sekali sekali menjilatinya. Perlahan mas dirga melepaskan ciumannya. Menatap mataku lembut. Dan berbisik...
"... Karena saya sayang sama kamu".
Deg.....!!!
Hah?!! Ma-maksudnya?
"Ma-maksud mas apa? ". Aku hanya terbelalak menatap Mas dirga yang berdiri tepat didepanku menatapku tajam namun sangat lembut.
"Saya cinta sama kamu, adel". Mas dirga memelukku. Mengurungku dalam dekapannya. Suaranya sangat lembut tidak seperti biasa nya kaku dan dingin.
Apa gue gak salah dengar nih, mas dirga suka sama gue?
"...".
"Ta-tapi adel-".
"Saya tau kamu benci sama saya. Saya juga gak akan maksa kamu buat nerima saya, saya hanya mau mengungkapkan perasaan saya".
Mas dirga melepaskan pelukannya. Anehnya... Pelukan mas dirga terasa tak asing. Seperti dia benar benar membuatku tenang. Pelukannya mengingatkanku dengan sosok kakak kakak yang dulu pernah menemaniku. Tapi aku tidak bisa mengingat siapa dia semenjak kecelakaan itu.
"Mas? ". Suara ku bergetar entah kenapa
__ADS_1
"Udah jangan nangis lagi... ".
"Mas minta maaf ya udah marah marah sama kamu".
"Iya...tapi jangan bentak bentak adel lagi ya mas.. hik". Suaraku tambah bergetar, airmata kembali membanjiri pipi chubbyku.
"Ush... Ush... udah udah...". Mas dirga mengelus lembut puncuk rambutku. Kemudian mencium keningku. Mengelap air mata yang bercucuran di pipiku.
Kenapa aku jadi setenang ini?
"Dah yuk siap siap, nanti malam kitakan mau kerumah ayah".
Aku mengangguk angguk seperti anak kecil yang baru selesai merajuk.
Mas dirga tersenyum padaku. Menarik tanga ku keluar dari dalam kamar menuruni anak tangga.
"Tunggu bentar ya... ".
Mas dirga meninggalkanmu sebentar dipintu depan sedangkan mas dirga mengambil mobil sport nya yang terparkir di garasi.
Brumm...
Mas dirga keluar dari mobilnya. Membukakan pintu mobil untukku.
"Ayo naik".
Lord... beneran ini mas dirga..?
Aku masih belum menyangka, Memang mas dirga selalu dingin tapi lembut, dan sekarang dia benar benar bersikap lembut padaku. Bahkan terlalu lembut.
"Mau kemana? ".
"Eh, kok nanyak adel mas? ".
"Iya... ini permintaan maaf mas, jadi kemanapun kamu mau pergi pasti mas turuti".
Aku semakin heran. Tapi aku tidak mau berpikir terlalu keras. Lebih baik aku menikmati suasana ini.
"Ehm... ketempat yang banyak makanan pedes yok mas".
"Oke...! ".
Meski ini terlalu pagi untuk menyantap hidangan pedas. Tapi hanya itu yang terpikir olehku.
Mas dirga mempercepat laju mobilnya. menyalip mobil mobil yang nampak lambat berkendara dijalanan. Mas dirga fokus menatap kedepan. Memperhatikan jalanan dan juga google map. Ya secara ya... bumi ini luas jadi gak mungkin kan mas dirga tau semua tempat makan enak di dunia ini.
Ckit...
Kami berhenti disebuah restoran hot pot 24 jam. Meski nampak tidak elit namun restoran ini sering direkomendasikan para blogger makanan.
Mas dirga membukakan pintu untuk aku. keluar dari mobil. Kemudian kami masuk kedalam restoran itu. Hal pertama yang. membuatku takjub adalah meski nampak biasa saja dari luar namun interior dibagian dalam restoran ini sangat elegan, suasana tenang bahkan ada pesta band atau pentas untuk hiburan.
"Kita duduk disitu aja ya" . Mas dirga menujuk kearah meja disudut ruangan namun interior disamping meja itu nampak segar karena banyak tumbuhan tumbuhan mini yang dipajang.
"Iya mas... ".
Seperti biasa aku memesan menu complete. Aku makan dengan lahap. sesekali aku mencuri pandang melihat mas dirga. Aku masih merasa ada yang aneh.
*Kenapa aku gak terganggu ya mas dirga nembak aku?
Hemmm... Sebenarnya aku ngerasa gak asibg sama mas dirga. Kaya pernah ketemu tapi dimana cobak?
Grrr... aku paling benci kalo penasaran kaya gini akh*...
"Adel... ".
"Iya mas? ".
"Siap makan kita ke mall ya belanja buat nanti malam".
"Iya mas".
__________
Hai readers, kangen gak sma mereka bedua ini...?
Sebenarnya apasih hubungan dirga sama adel? kalian penasaran gak... Makanya kalo penasaran jangan lupa ya baca sekalian difavoritkan supaya tau kalo can i love him up... heheh berhubungan saya selaku author lagi gak menentu... maka saya minta maaf udah bikin nunggu......
Dan juga jangan lupa like 👍👍👍👍
Comment 💬💬💬💬
Thnks for our intention 😘😘😘😘🥰
__ADS_1