Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 14


__ADS_3

"Bagaimana para saksi sah? ".


"SAH.....".


Hari ini tepat nya tanggal 02 februari 20XX aku sudah resmi menjadi suami Adel. Tapi bukannya senang malah rasa kecewa dan gelisah yang menghantuiku. Karena setelah acara ini selesai lusanya Adel langsung terbang ke Jepang.


Meski kami berdampingan duduk di pelaminan ini tapi tetap saja ini tidak berlangsung lama. Mungkin saja Adel hanya memasang senyum palsu saat ini.


"Oi, subar....! ". Tiba tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundak ku. Saat kulihat ternyata itu si Haga dengan tampang begonya cengar cengir gak jelas.


"Lu manggil gue subar? ".


"He eh! ". Kepala Haga mengangguk dengan cepat.


"Maksudnya? ".


"Su-a-mi-ba-ru!!! ". Haga mengeja arti dari sebutan barunya pada dirga.


Tuk!.


Satu pukulan yang tidak terlalu kuat mendarat tepat di dahi Haga. Siapa lagi kalo bukan dirga yang memukulnya.


"Aduhhh... Ini subar sensi amat sih! Del, selamat ya udah jadi Mamud hehe".


Kali ini aku mengerti maksud sebutan Haga tapi malah adel yang terlihat bingung sama sekali tidak mengerti.


"Eh, kok Mamud Pa-pak Haga? ".


"Mama muda tauk. Btw gak usah manggil pake kata Pak gitu. Gini gini aku lebih mudah 2 tahun dari Si Subar ini. Jadi panggil Haga aja".


"Ta-tapi... ".


"Iya del, sekalian aja kamu panggil dia mulut sampah gak ada guna".


"Egh, baru kali ini Om dirga ngomong banyak terus keliatan asik didepanku". Gumam adel didalam hatinya.


"Eh, .....".


"Ngomong ape lo barusan? ".


"Mulut sampah gak ada guna! ". Kuulangi kalimatku dengan penekanan disetiap katanya.


"Dirrrgaaa! ". Geram Haga


"Apaan sih lu kayak bocah aja. Sono mending lu makan daripada ngebacot gak jelas disini".


"Huh... Iya-iya. Ngusir perlahan lahan tapi pasti". Sindir Haga pelan sebelum ia pergi dari panggung pelaminan kami.


"Hihihihi... ".


Deg!


Aku terkejut bukan main. Adel tertawa. Baru kali ini aku liat Adel ketawa didepanku. Biasanya mukanya kayak gak punya hasrat hidup atau muka jutek yang tiap saat ia perlihatkan padaku.


"Kenapa del? ". Tanyaku penasaran.


"Eh, enggak Ma-maaf. Adel ngerasa lucu aja liat Om sama Ha-haga".


Adel menggaruk garuk kepalanya. Tingkah terlihat sangat lucu dimataku meski yang benar adalah tingkahku yang lucu dimatanya.


Kini tinggal aku dan Adel yang duduk di bangku pelaminan kami. Adel nampak cukup bahkan sangat canggung. Matanya terus memandang kearah pintu gedung yang sejajar dengan tempat duduk kami.


Meski begitu aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Kulitnya yang putih membuat make up lebih nampak natural. Rambutnya yang ditata simple namun membuat wajah adel nampak lebih imut dan cantik.


"Hari ini kamu sangat cantik".


Deg!!!

__ADS_1


Buset mulut gue!!! Woi kok bisa keceplosan sih. Waduh gue harus gimana ini. Senyum aja kali ya. Dah terlanjur jugak.


"I-iya Om? ".


"Saya bilang kamu cantik hari ini".


Wajah adel memerah. Akupun mulai merasa kedua pipiku terasa panas. Adel langsung memalingkan wajahnya. Untunglah jadi dia gak ngeliat muka ku yang pasti sekarang udah merah padam.


Hehhh!!! Sukur si adel gak nyadar gue keceplosan doang.


Kulihat sekerumunan remaja berjalan masuk dan naik ke atas panggung pelaminan. Adel nampak senang dan gembira. Ternyata mereka adalah teman sekampus adel. Salah satu dari mereka langsung memeluk erat adel begitupun adel menyambutnya dengan pelukan yang tak kalah eratnya.


"Adel, cepet amat sih lo nikahnya".


"Hehehe... ".


"Om jagain adel ya. Soalnya adel sering banget diet tapi banyak makan mi instan".


"I-iya pasti saya bakal jaga Adel".


"Del, lu jangan rewel yah. Kasian om dirga kalo lo terus terusan ngambek gak jelas okeyyy".


"A-apaan sih Reva . Gue mah ga-gak pernah ngeselin. Ngawur lo!! ".


Gak pernah? Terus selama ini maksudnya apa??


Ingin rasanya aku berteriak. Adel benar benar salah tingkah dibuat temannya itu yang dia sebut Reva. Aku memang sering liat adel bareng sama gadis ini. Terutama setiap kali aku jemput adel dikampusnya.


"Kak dewa mana del? ".


Adel mengedikkan bahunya. Dia nampak senyum terpaksa dan jelas terlihat kecewa.


"Kayaknya gak bakalan datang deh".


Kamu masih mikirin dia ya del.


-----------


"ADEL GAK CINTA ATAU SAYANG SAMA OM. Jadi om gak usah terlalu ngurusin hidup adel. Om mau sama om cuma biar bikin papa tenang disana. Jangan bikin adel makin gak terima Om*".


------------


Terlintas sejenak dipikiranku kata kata adel yang membuatku semakin merasa dia sama sekali tidak mengharapkan ku. Namun dengan egoisnya aku memaksakan pernikahan ini.


Gadis itu memeluk adel sekali lagi dan pergi kearah meja makanan. Raut wajah adel berubah yang tadinya canggung kini nampak tak menghiraukan aku dan juga pesta ini.


Tentu rasanya sangat sakit tapi rasa sakitku pasti tidak lebih sakit dari rasa sakitnya adel. Seharusnya aku senang adel masih mau menikah dengaku. Bisa saja dia lari atau menghilang hingga tak perlu menikah denganku tapi dia tetap ada disini disampingku meski tak akan selalu menemaniku.


Masih ada banyak kesempatan aku pasti bisa bikin adel jatuh Cinta samaku.


Ambisi dan kepercayaan diri yang terlalu tinggi itulah diriku. Itulah senjata dan juga motivasiku. Aku hanya perlu berusaha dan bermain mulus.


***********


Hari semakin gelap namun tamu masih berbondong bondong berdatangan. Padahal sebentar lagi pesta akan selesai dan besok masih ada resepsi tapi sepertinya para tamu tamuku ini sangat tidak sabar untuk melihat pengantin mungilku yang imut.


Sabar dirga 2 jam lagi kelar kok.


Mereka terus menyalami kami. Pegal rasanya. Sekarang hal yang paling menyiksa adalah ketika aku membayangkan tempat tidur yang empuk. Tapi sepertinya aku akan tidur di sofa, karena adel pasti tidak akan mau tidur seranjang denganku.


Jalankan seranjang sekamar aja dia ogah!.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, mulailah para tamu berhenti berdatangan dan tamu yang didalam pun kembali kerumah mereka masing masing. Aku dan adel bersandar di bangku pelaminan yang dari tadi kami duduki. Gerah. Aku ingin segera mandi dan tidur.


Adel berdiri duluan daripada aku. Kulihat di kesusahan berjalan karena gaunnya yang terlalu kembang.


Aku mengangkat kan bagian bawah gaunnya agar Adel tidak merasa berat atau susah untuk bergerak.

__ADS_1


"Eh!!! Om ngapain? ".


"Kamu jalan aja, ini biar saya pegangin ".


Dengan canggung adel berbalik dan berjalan ke ruangan istirahat yang di fasilitasi lengkap dengan tempat tidur.


Begitu sampai diruang istirahat adel langsung duduk di pinggiran kasur. Aku tau pasti adel canggung buat rebahan disana.


"Del kalo mau rebahan, rebahan aja saya mau ganti baju dulu dikamar mandi".


Setelah mengambil sepasang pakaian aku langsung masuk kedalam kamar mandi. Sengaja aku berlama lama didalam biar adel bisa santai dulu buat rebahan.


Cklek.


"Del, sana kamu ganti ba-".


"Lah kok tidur. Pasti capek banget ya". Gumamku.


Adel sudah terlelap diatas kasur dengan gaun kebayanya yang masih belum diganti. Aku ingin membangunkannya tapi tidak tega. Adel tidur sangat pulas dan juga wajahnya sangat imut waktu tidur. Bibirnya beberapa kali manyun membuatku gemas ingin menciumnya, tapi kutahan takut adel terbangun saat kucium.


Tunggu aja gak ya. Tapi gedungnya udah may di beresin buat besok.


"Del... Adel... ".


Ku goyangkan perlahan tubuh adel. Dia menggeliat membuat roknya sedikit tersingkap yang memperlihatkan area pahanya yang begitu mulus. Aku menelan berat cairan yang ada dimulutku.


Oh lord!! biarpun istri gue gak bakal berani buat nyentuh adel.


"Adel... adel.. bangun kita udah mau pulang ini". Kugoyangkan tubuh adel lebih kuat dari yang tadi dan akhirnya adel membuka matanya yang masih picing picing.


"Hemmm.. iya om".


"Ganti baju sana biar kita pulang ".


"Iya om... mana baju adel? ".


"Itu diatas meja".


"Gantiin om".


Buset ni anak ngigo ya. Masa nyuruh gue yang gantiin bajunya dia!!!.


"Adel kamu ganti baju sendiri ya. Saya masih mau masukin barang kedalam mobil. Soalnya ayah om udah balik diluan tadi".


"Adel malas bangun Om. Bantu napa sih adel capek banget Om".


Adel memanyunkan bibirnya dan mulai nampak kesal padaku. Daripada dia nanti berontak mending aku ikuti aja kemauannya.


"Ya udah. Kalok gitu... Ini kamu yang nyuruh saya ya... ".


Gadak pilihan lain. Ya udalah.


_____________


Hai readers...


Akhirnya mereka nikah juga ya. Meski gak serimantis yang kalian bayangkan.


Itu gimana cobak masak cowok gantiin baju cewek biarpun udah halal tapikan.... Mengundang gituu...


So.. readers sekalian sehidup sebumi apa yang bakalan terjadi kalo si Dirga beneran gantiin baju adel ya.. hmmm πŸ€”πŸ€”πŸ€”You know lah kan 🀭🀭


Jadi ikutin terus ya kisah mereka berdua jangan sampai ketinggalan okeyh..


Jangan lupa like πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘


And comments πŸ’¬πŸ’¬πŸ’¬πŸ’¬πŸ’¬

__ADS_1


okeyyy mmuachh😘😘😘


__ADS_2