
"*Nanti kalo udah kelar. Temenin kakak ya".
"Kemana kak? ".
"Udah ntar kamu juga bakal tau kok". Kak dewa mengacak acak rambutku. Wajahku langsung terasa panas*.
----------
Sudah lebih 10 menit sejak kelas pertamaku selesai. Tapi aku masih bengong mengingat perkataan Kak dewa tadi pagi. Aku seperti melihat lampu hijau sekaligus lampu merah. Takut Kak dewa akan menembakku dan bingung aku harus bicara apa.
"Woi del! ". Sebuah tangan tepat menepuk bahu kananku. Lamunanku langsung buyar. Kulihat gadis yang selalu tampil feminim dan sangat cantik berdiri disampingku.
"Apaan sih va lu nganggetin gue tauk! ".
"Tau kan gimana gak enaknya dikagetin... huh". Reva tersenyum sinis dan memalingkan wajahnya dariku.
"Ya elah va, masih aja lu dendam sama gue".
"Ya iyalah". Sahutnya singkat.
Ya aku tau reva cuman pura pura ngambek. Dan gak lama reva senyum padaku. matanya langsung tertuju ke kedua mataku.
"Mata lu kenapa del? ".
"Ouh.. i-ini semalem gue nonton drakor sedih banget".
"Sejak kapan lo sukak drakor? ".
"E-em itu lo... ".
"Udalah gak usah ngeles. Ada masalah apa lagi? ".
"...".
"Om dirga? ".
Deg.
Tepat sasaran. Aku langsung mendongak menatap Reva. Mataku langsung buram ditutupi oleh air mataku yang langsung ingin terjun bebas. Saat itu aku ingin menumpahkan semua kesedihanku padanya. Aku yakin reva pasti bisa ngasi aku solusi.
"Del Ada apa? ". Reva nampak sangat cemas dengan keadaanku.
"Gi-Gini ceritanya".
Kamu menceritakan semuanya sama Reva. Tak ada yang tertinggal. Mulai dari pesan papa sebelum meninggal sampai Om dirga yang meremehkan ku. Rasa benci dan juga Rasa sakit harus melupakan Cinta pertamaku.
Hiks... hiks... hiks...
"Del kamu harus bisa kuat. Aku tau gak bakalan mudah buat nerima semuanya gitu aja. Tapi aku yakin papamu gak bakal bikin kamu jadi menderita. Dari dulu Om Hendra selalu ngelarang yang kamu kerjain kan. Tapi buktinya dia ngarahin kamu ke arah yang lebih bagus".
Aku mengangguk tanpa melihat Reva aku masih menetap di pelukannya yang hangat.
"Udah dong jangan nangis lagi".
"Stop dulu. Nanti sambung lagi dosen udah mau datang tuh".
"Huh... Apaan sih emang sinetron apa pake acara bersambung segala". Kali ini aku mendongakkan kepalaku dan mengelap air mata yang mengalir di pelipis mataku.
"Hahaha... makanya jangan sedih mulu! ".
"Iya iya".
"Noh dosen udah datang tuh". Ucap Reva sambil merapikan tempat duduknya yang dari tadi membelakangi meja dosen.
seorang pria yang sudah kelihatan cukup tua masuk kedalam kelas kami. Kepalanya yang botak licin menjadi perhatian anak anak dikelas.
"Oi del, kok pak lukman gak pakek wig".
"Mana gue tau? ". Aku menggelang heran sambil mengedikkan bahuku.
Kulihat beberapa siswa cekikikan sendiri. Ya termasuk aku sih. Secara ya pak lukman itu item terus pendek yang keliatan cuma kepalanya yang bersinar terang.
Lumayanlah buat hiburan dikit.
**********
Ting!
K. Dewa
__ADS_1
Del udah kelar?
Me
Udah kak.
K. Dewa
Kakak dah diparkiran nih. Cepetan panas soalnya
Me
Siip kak ππ
"Rev gue pulang bareng kak dewa ya". Aku pergi meninggalkan Reva yang masih sibuk membereskan barang barangnya sambil melambaikan tangan.
"iya ".
----------
Kulihat kak dewa gerah dibawah terik matahari. Wajahnya yang putih membuat pipinya merah merona.
"Kak sorry lama".
"Iya gpp. Yuk kita langsung pigi aja ".
Kak dewa langsung menyalakan sepeda motornya. Memanaskannya sebentar dan menyuruhku untuk naik kejok belakang.
"Naik".
"Iya kak".
Awalnya Kak dewa mengendarai motornya normal dan pada kecepatan rata rata. Namun karena dia melihat kendaraan lain yang semakin padat kak dewa menambah kecepatannya bahkan terlalu cepat. Dia menyalip semua mobil yang terlihat lambat didepannya. Aku sedikit gugup dibelakang. Aku memegang erat pundak Kak dewa.
"Kak kok ngebut amat?". Ucapku dengan suara yng cukup keras.
"Soalnya udah mau sore del takut gak sempat".
Aku ber 'o' riya sendiri dibelakang kak dewa. Melihat sekeliling yang terlihat asing. Dan membuatku terheran heran.
Setelah 30 menit berada diatas kereta kami pun sampai disebuah pantai yang terlihat sangat sunyi. Bahkan bisa dibilang hanya kami berdua yang ada disana.
"Pantai?? ". Ucapku heran
Sunset. Matahari yang mulai menenggelamkan dirinya kedalam tenang nya air laut. Warna senja terlihat lebih kontraks. Mataku tidak bisa berpaling dari keindahan yang sering ku lihat di televisi.
"Keren banget kak-".
Cup.
Kecupan singkat mendarat di pipi kiriku yang tak lain adalah perbuatan Kak dewa. Aku mendongak menatap lekat wajah kak dewa. Dia tersenyum padaku. Jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya. Darahky berdesir.
Deg
Deg
Deg
Kamu saling berpandangan ditemani langit senja yang menawan.
"Del, Kakak tau ini mendadak. Tapi kakak tau inilah waktu yang paling tepat".
Kak Dewa menatap kedua mataku dalam dalam. Sedikitpun dia tidak mengalihkan pandangannya. Kak dewa menarik dan menggemgam erat kedua tanganku.
"Aku sayang sama kamu del".
Jantungku berpacu jauh lebih cepat lagi. Tanganku mendadak dingin. Ada rasa bahagia namun rasa cemas lebih dulu menghantuiku.
Kak dewa mendekatkan wajahnya mengecup pipi kiriku untuk yang kedua kalinya, kemudian mencium pipi kanan, kening, dan terakhir mengecup lembut bibirku.
Aku hanya terbengong berusaha mencerna apa yang baru saja dilakukannya.
Kak dewa menarik pinggangku lebih dekat kedalam dekapannya. Dia menyentuh lembut pipi kananku kembali mendekatkan bibirnya. Mengecup bibirku pelan dan mulai menggigit bibir bawahku. Gigihan itu berubah jadi lumatan lumayan yang membuat darahlu semakin berdesir. Rasa ada sesuatu yang aneh yang bergejolak didalam perutku.
Semakin lama lumatan itunsemakin memanas. Kak dewa berusaha menjulurkan lidahnya kedalam mulutku. Namun aku langsung tersentak dan mendorong kak dewa.
"Adel? ". Dia menatapku penuh heran.
"Ma-maafkan kak. Adel gak bisa! ". Aku berlari sekencang kencangnya pergi meninggalkan Kak dewa sendirian di tepi pantai.
__ADS_1
"ADEL!!!! ".
Aku mendengar kak dewa meneriaki namaku namun aku berusah untuk tidak memperdulikannya. Aku langsung menyetop taksi yang lewat didepanku.
Air mata mengalir dikedua pipiku. Aku senang sekaligus sedih.
Kakak terlambat. Aku gak bisa bareng kakak.
Hiks hiks hiks...
Aku sekuat tenaga menahan isak tangis yang kembali memburuku.
**********
"Adel kenapa kamu pergi? ". Dewa bergumam sendiri setelah adel meninggalkannya di tepi pantai sendirian.
"Enggak... aku yakin kamu juga suka sama aku. Gak mungkin aku salah ".
Dewa menggaruk kepalanya acak acakan. Berjalan meninggalkan jejak hampa di pantai itu. Dewa memakai kembali helmnya dan langsung beranjak dari pantai yang kini terlihat semakin sunyi.
Brum....
Grrr.....
Apa apaan ini adel?
Mereka sama sekali tidak menyadari ada orang lain disana yang hadir tanpa diundang.
Benar itu dirga. Tangannya sudah mengepal begitu keras. Menahan luapan emosi melihat adegan mesra yang baru saja dilakukan adel dengan dewa. Meski adel pergi itu belum cukup untuk meredakan amarah dirga.
"Gue aja gak pernah sampe beneran cium adel! ". Geramnya didalam hati.
Dirga pun pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Mengambil handphone yang berada di di dalam sakunya.
"Halo , Pak bisa gak acara di percepat aja? ".
"Ehm... sebentar ya pak".
"O.. bisa pak bisa? ".
"Kapan pak? ".
"Minggu depan pak".
"Oke bagus. Kalo begitu udah bisa dibuat undangan nya dan mulai menata tempat ya pak"
"Siap pak".
Tut.
Telepon selesai. Dirga tersenyum seorang diri. Perbuatannya memang gegbah dan tidak bertanya pada adel. Tapi dia sama sekali tidak merasa bersalah.
"Maaf melakukan ini del, aku gak rela ada orang lain yang berusaha ngerebut kamu".
Dirga menstarter mobilnya dan pergi daribarea pantai menuju kerumah adel. Mengabarkan berita yang luat biasa untuk namun tidak untuk adel.
----------
Tok
Tok
Tok
__________
Hai para readers. Makasih banget yang udah like sama komennya ππ
Nah menurut kalian dirga itu sebenernya gimana sih... Author sendiri juga ngerasa kalo dirga labil banget. Dan gampang baper ya.
Hemss... but itu cuma sma adel doang Lo..
Nah jadi jangan lupa terus ikutin nih kisah mereka. Jangan lupa like, koment sama di favoritin ya readers sekalian.. Muachhπ₯°ππ
Nih ada bonus pemandangan nya. ππ
Kalo yang ini pas adel liat dari arah dia
__ADS_1
ππ