
Kumasuki cahaya putih yang berada didepanku. Mama pun ikut menuntunku, mengemggam erat jari jemariku. Samar samar dapat kulihat raut wajah Mama yang nampak sedih. Mungkin ia tidak menyangka aku akan begitu cepat menyusulnya.
Sekilas rasa rindu mengerumuni segala pikiranku. Aku tidak sempat mengungkapkan perasaanku kepada Mas Dirga, sungguh Malang nasibku. Mungkinkah ini takdir yang memang harus kujalani.
Ya allah, kalau emang sudah takdir hamba untuk terpisah darinya hamba ikhlas, tapi jikalau ini ujian hamba mohon berikan hamba kesempatan untuk menyelesaikannya.
Didalam hati aku mengucapkan harapanku yang terdalam. Bagaimana mungkin aku akan sanggup pergi meninggalkan Mas Dirga...
Tep!
Langkahku terhenti, Mama langsung menoleh kearahku. Begitu air mataku menetes Mama langsung memelukku, mendekapku begitu erat.
"Adel.... ". Mama memanggil namaku dengan suara yang begitu sendu.
"Ma... huhu.... Adel... Adel....mau ketemu sama Mas Dirga, Adel Cinta Mas Dirga Ma... Huhuhuhuu... ". Aku meraung ditengah keheningan tempat aku dan Mama berada. Suaraku seakan terpantul kesegala arah dan kembali padaku.
Mama tetap memelukku dan perlahan ia melepas pelukannya, menatap setiap inci wajahku. Mengelus lembut puncuk rambutku, seraya berkata...
"Kamu udah besar ya sayang, Mama pasti bakal lebih rindu kamu lagi... ".
DHEG!!!!!!
"UGH!!!! ".
Tubuhku seakan terhempas kuat. Dadaku menyesak, sekujur tubuhku terasa amat sakit. Semua tiba tiba menjadi gelap, aku tidak dapat melihat apapun. Ketika aku membuka kedua mataku.
Deg!!!!!
Sinar lampu yang masuk kedalam mataku begitu silau, pendengarku sangat tidak stabil, pandangan mataku juga masih buram buram. Namun samar samar aku mendengar suara. Suara yang sungguh membuatku sadar sepenuhnya.
"Adel... huhuhu... jangan tinggalin Mas, Mas mohon sayang, jangan bikin mas sendirian lagi... cubby... mas belum manggil kamu wubby sampai saat ini... mas juga belum bilang kalau mas sangat sangat mencintai kamu sejak pertama kali kamu nunjukin Mas Bintang.... wubby sayang jangan tinggalkan Mas... Mas gak mau kamu merhatiin mas pas udah jadi bintang...".
Benar dia mencium keningku. Ia menggenggam jari jemariku begitu erat. Ia membasahi wajahku dengan air matanya yang bercucuran deras.
----------
Beberapa saat kemudian Dokter dibantu oleh para suster melepas semua alat bantu Adel. Aku hanya dapat berdiri disamping Adel yang seputih kapas, tak bernapas. Melihat ia kini hanya berbalutkan kain putih dan siap dibawa keruang jenazah.
Aku tidak sanggup kehilangannya, aku meraung. Mengingat masa kami dahulu. Tak peduli lagi dengan apapun, aku hanya ingin istri kembali. Aku sangat merindukan senyuman manismu itu adel...
"Ma-mas... ".
DHEG!!!!
Suara ini?!
Spontan aku melihat wajah Adel. Apa aku bermimpi? apa aku berhalusinasi?. Adel, dia terbangun, ia menatapku.
"Adel?! ".
"Adel?! Sayang kamu bangun!!! ". Aku mencium kening Adel dan kembali menatap wajahnya. Memastikan ini adalah hal nyata.
"Iya, Mas... ".
Dokter yang tadinya ingin pergi langsung melihat keadaan Adel, Ia tersenyum lega dan bahagia.
"Pak, Buk Adel sudah melewati masa kritisnya. Dan ini sungguh kejadian yang luar biasa... mungkin ini adalah keajaiban karna harapan kalian yang begitu kuat".
Aku tersenyum begitupun dengan Adel.
__ADS_1
Setelah itu Adel dipindahkan ke ruang biasa, dengan alat bantu biasa. Impus. Hanya itu, tak ada lagi yang membahayakan.
"Mas... ".
"Hmmm....". Aku menjawab adel sambil mengelus elus punggung tangannya yang tidak diimpus.
"Aku mencintaimu... ".
Dheg!!!
Langsung aku tidak bisa berkata apapun, tanganku yang tadinya mengelus tangan Adel spontan berhenti, tubuhku seakan membeku, mataku menatap kosong kearah Adel.
Apa aku tidak salah dengar?.
"Mas?... ".
"Ka-kamu??? Apa Mas gak salah dengar??? ".
Adel mengangkat tangannya dan menempatkannya di pipi kiriku, dengan senyuman yang begitu teduh ia mengucapkan kalimat itu sekali lagi.
"Aku sangat mencintaimu Mas, Aku bersyukur sudah menjadi istrimu".
Grep!
Aku memeluk Adel. Air mataku hampir saja jatuh. Aku begitu bahagia, akhirnya cintaku terbalaskan.
"Mas juga mencintaimu, sangat sangat mencintaimu Adel, sangat... ".
Adel menangis dalam pelukanku, di sela sela tangisannya aku dapat mendengar suara tawanya. Ini adalah tangisan kebahagiaan. Bukan tangisan yang biasa kudengar. Tangisan yang membuat hatiku tentram dan hangat.
**********
"Jadi kita langsung ke Indonesia Mas? ".
"Iya dong sayang, emang kamu mau kita nikah jarak jauh? ". Ledek Dirga sambil mencolek dagu tirus milik Adel.
Blush!
"Eg!!! ".
Seketika Dirga dapat melihat wajah Adel yang memerah seperti kepiting rebus.
"A-adel sih B aja, Mas kali yang gak tahan kalok gak ada Adel". Jawabnya terbata bata tanpa sedikitpun melihat wajah Dirga.
Cup!
Hah!!!!
Satu kecupan singkat mendarat dibibir manis Adel. Tentu saja Adel langsung terdiam membeku bagai patung.
"Itu kamu tau... ". Dirga menyeringai sekaligus menunjukkan senyuman cowok nakal selepas mengecup bibir Adel.
"A-a-a... apa apaan sih... ma-mas sok... aghh!!!". Mulut Adel udah gak bisa sinkrin lagi dengan otaknya. Dan akhirnya kesal sendiri.
"Hahahahahah... Oke nih kita langsung ke Bandara, sampek indo langsung malam pertama.. Hehehe... ". Ucapku santai sambil merangkul Adel yang tengah memerah disampingku.
"What!!!! ". Lagi lagi ia melihatku dengan wajah yang bikin aku ingin tertawa terbahak bahak.
"Kenapa kamu ga mau?? ".
__ADS_1
"kjsbgerhfgksllos.. @#¢\=× <÷ <^!!!!". Adel kembali memerah dan kali ini kedua bibirnya manyun kedepan. Ia segera berjalan cepat cepat meninggalkanku, kulihat ia salah tingkah dan ngomong ngomong sendiri. Hahahaha... sungguh lucu pikirku. Maunya sih aju lanjut aja ngerjain Adel, tapi sayang aku terlalu lembut dan gak akan tega. Bueekkkk, mual aku!
Grep!
"Sayang~~~". Aku berlari kearah Adel, memanggilnya dengan manja dan langsung memeluknya dari belakang, sehingga langkahnya pun terhenti. Aku mengurungnya dalam dekapanku dan kubenamkan wajahku kedalam tengkuknya.
"Ma-mas!!! ". Adel seperti ingin melepas pelukanku dari tubuhnya, ia memutar tubuhnya kekanan dan kekiri.
"Mas becanda kok tadi jadi kamu jangan kuatir ya... ". Tambahku lagi.
Adel pun berhenti bergerak, ia menunduk. Kemudia ia memeluk kedua lenganku yang tengah memeluknya. Kemudian ia berkata...
"Maaf ya mas, Adel cuma terkejut aja". Ucapnya polos dengan suara nya begitu lucu. Jujur itu sangat imut. Aku ingin sekali mencubit kedua pipinya yang tembem itu, tapi sayangnya saat ini kami sedang berada di momen yang tidak pas.
"Iya, Mas paham kok".
Kemudian kami langsung berangkat ke Bandara. Singkat cerita kami pun sampai di Jakarta. Mas Dirga yang masing ngantuk ngantuk terlihat seperti bayi. Kali ini aku tidak akan memungkiri apapun lagi, wajah yang terlihat dingin memang nampak sangat menawan dan mempesona tapi wajahnya yang baru bangun tidur apalagi kalau rambutnya berantakan. Fix udah kayak babyface oppa oppa korea tau!!!
"Whoaammm... Cubby masing ngantuk ". Rengeknya sambil mendekatkan diri ke tubuhku. Padahal ini ditempat umum dan liat betapa manjanya bayi besar ini.
"Mas entar juga bakal sampek rumah jugak, tahan ya... ".
"Heh!!! Tapi nanti dikelonin ya".
What!!!!! Apa Mas Dirga emang semanja ini. Ini... ini... kayak bukan mas deh!!
"Mas??? ".
"Mas enggak demam kan?". Tanyaku heran.
Benar saja, Mas dirga langsung menatap kepadaku tanpa berkata sepatah kata apapun. Kemudian ia berdiri tegak dan menyisir rambutnya kebelakang menggunakannya jari tangannya. beneran kayak oppa oppa korea beneran masku ini.
"Kamu gak sukak? ". Nada bicara Mas terkesan cuek dan judes. Kayaknya mas Dirga marah nih.
"Iiiih... Bukan gitu lo Mas, Mas hari ini terlalu imut tauk, Jantung Adel gak berenti berenti nih dag dig dug serr... ". Jawabku sambil menarik kedua pipi Mas yang sangat mulus itu.
Mas dirga menatap kedua mataku disaat aku mencubit kedua pipinya. Aku dapat merasakan hembusan napasnya yang lembut dan tatapan tajam yang terpancar dikedua bola matanya. Karena grogi aku melepas kedua tanganku itu dari pipi Mas, namun ia menahannya dan meletakkan kedua tanganku di pipinya. Tatapan matanya yang tak lepas dari diriku sungguh membuatku gemetar, grogian, nervous.
"Cubby". Satu kata terucap dari mulutnya diikuti senyuman yang mengingatkan ku pada kenangan manisku ketika kecil.
*Cubby... kalo kamu manggil kakak hubby, jadi kakak bakal manggil kamu 'Cubby'. Soalnya kamu itu tembeb terus imut.
Ucapnya sambil tersenyum dan mencubit kedua pipiku*.
"Hu-bby!".
Ia tersenyum sambil memejamkan kedua matanya.
"Ia cubby...".
____________
Hai readers!!!!
Nah, buat yang khawatir can i love him tamat, tenang aja belum tamat kok. Emang masih ada lanjutannya. bukan karena habis ide atau apapun, kan Author juga pingin yang menegangkan gitu hehehe...
jad jangan lupa like, komen, juga gabung ke grup okey..... serta di favoritkan untuk readers baru...
see youu
__ADS_1