Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 32


__ADS_3

"Hihihi.... ".


Usai menelpon mas Dirga Aku berdiri di depan kaca yang menghadap langsung kearah jalan raya yang lumayan sepi. Jam menunjukkan pukul 11.30 malam di Jepang.


Langit malam di Jepang berbeda dengan langit malam di Indonesia. Bintang disini lebih banyak dan lebih terang.


Apa mas Dirga udah tidur, ya?


Sejenak aku kembali memikirkan dia. Ditengah suasana sunyi di Kota, aku semakin tertelan oleh alam pikiranku. Seakan ikut tersedot ke dalam kenangan kenangan yang manis tentangnya.


Rasanya terasa semakin sepi. Tidak mengetahui apapun dan tidak mengenal siapapun. Benar benar hanya merasa sendirian.


Malam itu aku menyadari sesuatu dari diriku telah menghilang. Begitu sepinya tinggal dirumah ini tanpa kehadiran dirinya. Ia yang selalu mengelus lembut keningku saat aku melakukan hal yang baik dan dia yang memelukku begitu erat dan hangat dikala aku mulai membenci dunia.


Sudahlah hanya tinggal 2 tahun lagi untuk lulus kuliah.


udah deh...


Tidur aja, besok masih banyak lagi yang mau dikerjain.


Berusaha untuk mengelabuhi diri sendiri dan membuyarkan segala lamunan kosong. Mencoba untuk tetap tegar dan fokus. Fokus untuk tidur karena besok bakal jadi hari yang melelahkan, hehehehe....


Adel membaringkan dirinya ditempat tidur kemudian menarik selimut hingga menutupi bagian lehernya. Perlahan mulai terlelap masuk kedalam dunia mimpi.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang, sayang?".


Dari kejauhan terdengar suara yang familiar nan lembut. Suara itu perlahan semakin jelas. Sosok itu membuatku terdiam kaku dan tak mengedipkan mata ditengah tengah ruangan yang cukup akrab denganku.


"Sayang,gimana keaadaan kamu, baik kan?? ".


Dheg!!!!


"Mama!!! Kok Mama bisa ada disini? ". Ucapku dengan nada penuh keheranan.


Mama kemudian menarikku dan menatap dalam dalam kedalam diriku. Ia mengecup keningku dengan begitu lembut dan kemudian memelukku dengan begitu erat. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya serta aroma khas bayi yang lembut dari tubuhnya. Hanya Mama yang punya aroma setenang ini.


Masih dengan memelukku. Mama mengelus bagian belakang kepalaku seraya berkata.


"Sekarang...Dia pasti udah genggam tangan kamu dengan begitu erat, kan! ".


Pernyataan atau pertanyaan. Kebingungan mulai melandaku. Apa maksud perkataan Mama??. Siapa yang bisa menerjemahkan kan kalimatnitu untukku. Iya Mamaku ngomong pake bahasa Indonesia kok, tapi tetap saja aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan Mama.

__ADS_1


Mama melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipiku. Wajahnya dapat kulihat begitu jelas. Wajah tang selalu kurindukan, kehangatan yang selalu ku rindukan. Kedua mata hitam pekat itu menatapku. Sorot matanya yang seakan mengatakan.


"*kamu sudah besar, nak".


"Selama ini kamu baik baik aja, kan*".


Senang sekaligus khawatir. Tergambar. begitu jelas dikedua matanya. Sentuhan lembutnya semakin membawaku tertelan kedalam arus suasana itu. Pandangan mataku tiba tiba menge-blur, kukira aku akan segera terbangun dari tidurku dan meninggalkan momen ini begitu saja. Namun, tanpa sadar bulir-bulir kecil bewarna transparan mengalir keluar dari pelipis mataku. Mengalir membasahi kedua pipiku. Aku menangis. Benar aku menangis.


Ini Mamaku...


Melihat aku menangis, Mama kembali memelukku dengan erat. Begitupun aku yang membalas pelukannya jauh lebih erat.


"Ush... ush.. ush... udah jangan nangis... ". Bisikan kecil yang terdengar amat akrab ditelingaku mengingatkan ketika aku masih kecil. Sosok mama yang dengan lembut dan sabarnya menenangkan aku yang menangis ketika terluka kecil ataupun saat keinginanku tidak dituruti.


Pelukanku semakin erat. Aku tidak mau melepaskannya bahkan sedetikpun. Aku meraung dan menangis tersedu sedu. Betapa bahagianya diriku saat ini.


*Apa ini mimpi??? Tapi kenapa terasa amat nyata???


Kalaupun ini mimpi biarkan aku tetap terlelap dalam tidurku, menikmati setiap momen ketika aku bersama dengan Mama*.


Beberapa lama berlalu. Aku mengelap air mataku dibantu oleh Mama. Setiap sentuhannya amat berarti bagiku. Rasa sesak ketika menahan rindu sedikit terbayarkan.


"Dia pasti udah jagain kamu, jadi percaya samanya jangan mikir yang aneh aneh... ". Ucap Mama sambil mengusap sisa air mataku.


Sejenak aku terdiam. Dengn suara yang agak serak aku mengatakan.


"Dia itu siapa, Ma? ".


"Dia itu... ".


Tiba tiba sekelebat cahaya putih mengelilingiku, seakan melahap dan menghisapku memaksa masuk kedalam caha ya putih itu.Perlahan Mama seakan semakin menjauh, suaranya hanya terdengar samar samar kemudian menghilang. Ada satu yang diucapkan Mama diakhir kalimatnya, namun aku sama sekali tidak bisa mendengar satu kata itu.


SRAK!!!!


"MA...!!! ".


Napasku terengah engah seprti baru saja selesai lari marathon, keringatku bercucur deras hingga membuat bajuku lembab. Aku segera menyesuaikan cahaya renyam yang masuk kedalam mataku. Kemudian aku segera mengambil handphone yang terletak terbalik disamping bantalku.


Jam menunjukku pukul delapan pagi. Pikiranku masih kacau, masih tecampur antara mimpi dan juga kenyataan. Aku sekejap terdiam kaku, menatap ke arah jendela kamar yang cukup besar yang tertutup gorden bewarna abu abu. Cahaya mentari yang mencoba mengintip kedalam kamarku, cukup memberikan kesan yang tenang.


Masih dalam posisi terduduk di tempat tidur, aku memeluk diriku sendiri. Kembali merasakan kehangatan Mama yang terasa amat nyata, air mataku menetes kembali membasahi kedua pipiku. Aku mengusap air mataku dan tersenyum.

__ADS_1


"Ma... kayaknya aku tau deh siapa 'Dia'".


Kemudian aku beranjak dari tempat tidur dan segera menuju ku kamar mandi, yang tentu saja aku segera melakukan ritual seperti biasa, mandi, gosok gigi, dan yang lainnya. Setelah itu aku mengambil baju yang masih tersusun rapi didalam koper. Bersiap siap untuk belanja ke pasar untuk persediaan makanan selama satu minggu.


Semalam setelah selesai telponan Mas dirga langsung ngirimin aku uang yang bikin mataku melotot. Rp10jt, hanya untuk belanja hari ini. Apa gak kebanyakan coba?


Kutolak pun ga ada artinya, jadi kuterima saja. Nanti kalo gak habis kan bisa kutabung untuk jadi simpanan, Hehehe...


*Oke rumah gini aja dulu, yang pertama itu urusan makan,


Bahkan kalo dibilang buat diberesin aku gak tau mau beresin apa, palingan cuman nyusun pakain ke lemari, nyiapin alat mandi dan peralatan masak didapur doang*...


"Oke kalok kaya gitu, bikin list belanja dulu deh... ".


Aku membuka layar handphone dan kemudian membuka Note.Kuketik saja semua kebutuhan yang kuperlukan untuk dibeli, mulai dari peralatan mandi, peralatan dapur juga list makanan sehat yang dibutuhkan untuk dikirim juga sama Mas dirga.


Mas dirga sangat khawatir karena semalam kubilang aku hanya makan mie instan yang kubawa dari Indonesia. Hihi... lucu juga liat mas dirga ngomel dikit semalem...


Tring!


Mas dirga!!


Aku langsung membuka handphone namun aku kecewa ketika melihat nama yang tertera bukan Mas Dirga melainkan nomor yang tidak dikenal.


+62***-****-****


Tunggu aku disana


"Ha??? tunggu?? siapa?? ".


"Ah palingan nomor nyasar... ".


Aku menghiraukan pesan singkat yang pengirimnya tidak diketahui. Aku tidak tahu pesan itu akan membuat hidupku yang mulai menentram menjadi semakin rumit dan ruwet.


_________


Hai readers...


Maaf telat ya...


Heh... entah kenapa kayaknya ceritanya makin sulit dipikirin, kadang terbengong berjam jam cuman buat nentuin awal dari cerita..

__ADS_1


Jadi jangan lupa like, komen, dan juga favoritkan bagi yang belum favorit dan komen dibawah pendapat kalian tentang adel dan dirga okey....


See you next episod... 🥰😘😘😘😘


__ADS_2