Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 36


__ADS_3

Hai readers too...


Salam sapa pindah diatas


Author punya novel terbaru yesss


Judulnya : BECAUSE ITS YOU


Jadi reders bukan karna novel ini juga author jadi lama up, tapi memang karena kehabisan ide... jadi baca yaaa...


____________


Siapa yang tidak kecewa melihat pasangannya berpelukan mesra ditempat yang bahkan ia tidak tau itu dimana. Kalaupun itu hanya sekedar salah paham seharusnya ada kabar sebelumnya. Siapa yang bisa percaya jika semua sudah terjadi begitu saja?!


Dirga berdiri kaku menatap foto yang ada didalam fotonya. Pengirimnya tentu saja Dewa. Saat itu ekspresi Adel nampak sangat terkejut sedangkan Dewa menenggelamkan wajahnya dipundak Adel. Dirga tidak sebodoh yang Dewa bayangkan. Tentu saja Dirga tidak akan membiarkan istri manisnya itu bebas tanpa pengawasan darinya di Jepang.


Lagian mana mungkin Dirga percaya hanya dari sebuah foto yang jelas jelas diambil dengan timing yang pas oleh suruhan Dewa.


Tapi tetap saja Dirga kecewa pada Adel yang tidak memberikan kabar apapun padanya. Meski sebenarnya Dirga tau kalau Adel benar benar tidak memperdulikan Dewa yang setiap hari mengikutinya disana.


Tiriririring...


"Halo Tuan".


"Bagaimana keadaan Adel sekarang? ". Dirga langsung mengangkat telpon dari salah satu suruhannya.


"Seharian ini Nyonya Adel sama sekali tidak keluar apartemen, petugas pembersih apartemennya juga tidak diizinkan masuk, Tuan".


Dheg!!!


Rasa khawatir membuat Dirga amat resah. Semalaman ia tidak mengangkat telepon dari Adel.


"Kenapa si Adel merajuk? ". Celetuknya.


Seorang pria yang dengan santainya ngomong dengan pose tengah duduk santai disofa kantor Dirga sambil memakan buah apel yang tersedia disana juga sambil menggoyang goyangkan kakinya tampak sedang meledek Dirga.


"...". Dirga diam tak mau meladeni Haga.


"Makanya gak usah sok ngetes lu, si Adel beneran sama Dewa baru lu tau! ". Tambahnya lagi enteng.


Grrr....


"Berisik amat sih lu!! ". Dirga mulai memanas, tentu saja ia merasa seperti sedang dipermalukan.


"Dir, kenapa sih lu ngejar ngejar si Adel. Toh masih banyak juga cewe cantik diluar sana malah lebih cantik lagi dari Ad–".


BUK!!!


Tinjuan manis mendarat tepat dipipi kanan Haga. Tentu saja tinjuan itu akan sedikit merusak aset kebanggaan nya itu.


"APAAN SIH LO!!! ". Bentak Haga yang sudah jatuh tersungkur dilantai.


"Kalo lo ngomong lagi, detik ini juga lo bakal jatuh miskin! ". Ancam Dirga dengan tatapan sadis tidak kenal ampun.


"Gilak... Ni anak Cinta mati amat sama si Adel". Gumam Haga didalam hatinya.

__ADS_1


Haga terkejut bukan main untuk pertama kalinya sohib nya sejak zaman onta ini menatapnya begitu tajam. Dirga nampak benar benar emosi dan Haga yakin Adel begitu berarti untuk Dirga dan semua ancaman nya barusan bukanlah main main.


"So-sorry, becandaan gua kelewatan". Haga yang tergeletak dilantai mengangkat tangan menyerah. Daripada ia digebukin habis habisan sama Dirga mending ia langsung minta maaf. Memang bukan maksud Haga untuk membuat Dirga tersinggung.


"Sorry gua juga kelepasan... ". Dirga pun langsung mengatur napas dan segera menenangkan diri.


"Dir, gua gak nyangka lo sesayang itu sama Adel". Ucap Haga sambil menepuk pundak Dirga sembari tersenyum salut.


Tanpa sepatah katapun Dirga ikut tersenyum, senyuman yang cukup membuat Haga mengerti seberapa besar Dirga mencintai Adel.


"Dia penyelamat gua". Ucap Dirga sambil menatap telapak tangan kanannya.


"Hahahah... mau lu lebay, lebay ajalah... asal lu gak jadi bikin gua misqueen". Balas Haga sambil memutar bola matanya.


"Hahahaha... sorry sorry, gue kelepasan tadi".


Dirga merangkul Haga sambil menepuk nepuk pundak sohibnya itu. Namun nampaknya Haga sedikit kesal dan tidak menghiraukan Dirga.


"Lu kalo gak jawab juga, beneran jadi miskin nih! ". Ancam Dirga sambil menepuk pipi Haga yang langsung tersenyum maksa pada dirga.


"Iya iya! ". Jawabnya malas.


Dirga langsung mengajak Haga makan siang bareng. Sewaktu baru sampai didepan pintu restoran tiba tiba handphone Dirga berdering.


Tiririririring....


"Halo Pa? ".


"Dirga sekarang juga kamu pulang! ". Nada bicara Ayah dirga terdengar sedang marah. Ada hal apa yang bikin Ayahnya marah.


Ada apa lagi sih? Palingan tentang si nenek sihir itu. Setiap hari ada aja yang mesti dibicarakan.


"Ga, gua pulang dulu yah, ada urusan penting". Ucapku seraya meninggalkan Haga yang terbengong didepan pintu resto itu.


"Yah... jadi lu gak jadi neraktir nih! ".


"Sorry, kapan kapan ajalah! ".


Aku segera masuk kedalam mobil dan tancap gas pulang kerumah Ayah. Syukurnya jalanan tidak terlalu padat jadi aku lumayan cepat sampai ke rumah Ayah.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum ".


Ckelek.


Seorang wanita yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua membukakan pintu rumah Ayah. Sepertinya dia adalah pembantu baru lagi. Seperti biasa gak ada pembantu yang bisa bertahan lebih dari 2 bulan dirumah ini, sejak ada Tante itu. Maaf aku gak bakal mau manggil dia Ibu kalau bukan karena terpaksa.


"Silahkan masuk Den, Tuan udah nunggu daritadi di ruang tamu".


Ibuk itu mempersilakankan aku masuk dengan begitu sopan. Ia terus menunduk dan sama sekali tidak berani melihat wajahku.


"Iya, bik".


"Yah, ini Dirga". Sapaku pada Ayah.

__ADS_1


Kulihat Ayah duduk diatas sofa yang dibuat khusus untukku dengan tangan terlipat rapi didadanya serta posisi tubuh yang amat tegang. Ditambah lagi nenek sihir yang duduk disamping Ayah dengan angkuhnya menaikkan dagu dan menatapku sinis.


Apa lagi coba yang dia adukan ke Ayah?!


"Duduk". Ucap Ayah singkat tanpa menatapku yang sudah dari tadi berdiri dihadapannya.


Set!!


BYAR...!!!! Bagai tersambar petir di siang bolong plus diwaktu langit lagi cerah cerahnya.


"Apa maksudnya ini Dirga?! ".


Ayah melemparkan foto foto Adel yang sama dengan dikirim Dewa padaku. Kenapa ada foto ini ditangan Ayah ? Bagaimana mungkin Dewa bisa mengirim ini ke Ayah?


"Itu–". Belum sempat menjelaskan Ayah langsung memotong ucapanku.


"Jadi ini kerjaan istri kamu diluar sana?!!! Katanya kuliah tapi kenyataan malah selingkuh!!!!! ".


BRAK!!!


Mendengar perkataan Ayah aku tidak bisa diam, spontan aku menggebrak meja dan membentak Ayah.


"Ayah jangan asal tuduh!!! Adel bukan wanita yang seperti itu, Dirga kenal Adel, Yah!!!! ".


"Yakin?!!! ". Tanya Ayah Dirga.


"Terus kenapa bisa ada foto dia sama laki laki lain Dirga, Adel udah mencoreng nama baik keluarga kita. Ini gak bisa dibiarkan!!!!! ".


"Kalau sampai ini terdengar sama keluarga kita yang lain, mau ditarok dimana muka Ayah!!! ".


Aku terdiam. Aku mengerti kemana arah pembicaraan Ayah, hanya aku masih tidak menyangka kenapa Ayah sampai berpikir untuk melakukan itu.


"Ini urusanku. Ayah gak bisa ikut campur seenaknya. Ini rumah tangga ku Yah!!! ". Balasku.


"Kamu–".


"Tolong Yah, cukup ayah menggantikan tempat Bunda, jangan bikin Dirga kehilangan harapan Dirga lagi Yah". Aku memelas berusaha Ayah dapat menerima permintaanku.


"Dirga, Semua demi keluarga kita nak".


"Yah!!! Aku bisa selesain masalahku sendiri. Ayah gak usah terlalu ikut campur... tolong! ".


Kulihat si Nenek sihir itu tersenyum puas merasa senang. Akhirnya ia bisa menyaksikan aku berdebat dengan Ayah. Namun sekarang udah lain ceritanya. Aku tidak akan diam lagi jika hidupku terus diatur seperti bidak catur. Sekarang aku sudah punya hakku sendiri. Jika aku tidak suka maka aku bisa melenyapkannya, hanya Bunda tidak pernah mengajarkan ku untuk mencelakai orang lain. Cukup bertindak namun tetap dijalan yang lurus.


"Dirga pulang, Assalamualaikum ".


Tap!! Tap!! Tap!!


"DIRGA!!! ".


Aku tidak memperdulikan Ayah lagi. Emosiku sudah memuncak, lebih baik aku pergi daripada aku beradu tinju dengan Ayah. Dan sudah pasti itulah yang diinginkan nenek sihir itu.


___________


Like, komen and favorit kan yaaa....

__ADS_1


__ADS_2