Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 8


__ADS_3

"Bun... Dia udah jawab pertanyaan dirga". Gumamku yang hampir meneteskan airmata.


Kenapa aku jadi sesedih ini. Sebesar apa aku mencintai adel???


Dirga menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Adel. Perasaan gundah gulana menghantuinya. Bingung tak paham dengan perasaan gelisah dan sesak didadanya.


**********


"AAAAHH...!!! ".


BRAK


BRUK


Barang barang adel berserakan dilantai. Kamarnya seperti kapal pecah. Peralatan make up sudah bercecer dilantai tak beraturan. Ia melihat dirinya didepan cermin. Berantakan. Rambut acak acakan, matanya sembab karena terlalu lama menangis.


Siapa itu?


Adel berjalan kearah meja yang terdapat laci dibawahnya. Didalam laci itu tersimpan Foto dirinya, Papa dan juga Mamanya. Memeluk adel dengan erat dengan senyuman bhagiabyng terpancar dari wajah mereka.


"Ma... Pa... Adel gak bisa kayak gini. Adel gak sanggup.. hiks... hiks... ".


Air bening bercucuran deras melewati pipi mulunya yang chubby.


"Kenapa kalian harus secepat ini ninggalin adel ?".


"Sekarang adel jadi sendirian gadak lagi yang bisa nemenin adel. hiks... Ma... Adel kepingin ketemu mama, pingin peluk mama... tapi sekarang mama udah gak disini lagi bareng Adel... hiks.. hiks... ".


Ting!


K. Dewa


Del, tadi kamu kemana pas kakak datang kok gadak dirumah?


Me


Eh, tadi jalan keluar sebentar kak ada perlu


Ring... ring...


Hpku berdering. Ragu rasanya untuk mengangkat telpon. Tapi kak dewa pasti bisa ngerti keadaanku sekarang.


Tit.


"Halo del, kamu kenapa belakangan ini kok jarang keliatan? ".


"A-adel lagi sibuk kak". Suaraku masih sedikit bergetar. Aku langsung menggigit bibir bawahku agar bisa menahan getaran suaraku.


"Del kamu nangis? ".


"Hehe iya kak. Habis nonton drakor sedih". Ucap ku berusaha membohongi kak dewa.


"Udahlah kamu gak usah sik bohong gitu. Kakak tau kalok kamu itu gak sukak drakor ya".


"Ini beneran lo kak. Rekomendasinya reva".


"Del kalok ada masalah kamu cerita aja jangan dipendam sendiri. Gini aja deh kakak datang kerumah kamu ya".


"Sekarang kak?! ".


"Iya".


"Ja-jangan kak aku udah ngantuk banget pengen bobok".


Aduh... jangan sampek kaj dewa beneran datang sekarang.


"Tapi-".


"Besok aja kak. Lagian ini da malam banget besok adel ada kelas".


"Ya udah. Besok kakak jemput kamu ya".


"Iya kak".


"Da... ".


"Dadah".


Tut... tut...


Akhirnya kak dewa menutup telponnya dan enggak jadi datang kerumahku. Alhamdulillah. Sekarang aku cuma lagi pingin sendiri. Terlebih aku gak mau dia ngeliat aku berantakan kayak gini. Aku gak mau ada orang lain yang tau kesedihanku, biarlah aku sendiri yang merasakannya. Aku hanya mau mereka tau kalo aku selalu happy aja gak perlu tau kalok sebenarnya aku itu lemah dan rapuh.


Kutatapi sekeliling kamarku yang udah hancur berantakan. Aku berjalan ke tempat tidur dan membaringkan tubuh lemahku diatas ranjang yang empuk. Kubiarkan air mataku menetes dengan sendirinya. Melepas kan semua beban yang selama ini kubiarkan.


Menikah?


Kurang dari satu bulan lagi aku akan menikah dengan orang yang asing. Aku harus melupakan cintaku orang yang kusayangi kak dewa. Aku masih belum ngasi tau kak dewa tentang pernikahanku dengan Om dirga.

__ADS_1


"Kak dewa... hiks... hiks... ".


Sakit rasanya harus melupakan orang yang kita cintai. Apalagi Cinta ini bukan Cinta monyet yang baru tumbuh sehari dua hari. Cinta ini 10 tahun berkembang. Aku gak berani nyatain perasaanku sama kak dewa secara dia ganteng dan banyak cewek yang lebih cantik yang suka sama dia. Dan inilah akhir dari kisah cintaku, hangus dan aku harus rela untuk menjadi milik orang lain. Orang yang tidak kukenal dan asing.


Aku selalu cemas dan gelisah membayangkan hidup sama orang yang kita sama sekali gak cinta malahan aku benci dama dia karena setuju nikah sama aku yang jelas jelas gak suka sama dia.


Tok


Tok


Tok


"Non, gak mau makan dulu, udah seharian gak makan kan".


Cklek.


"Bik... ". Bibirku bergetar dan langsung memeluk Bik Ina yang membawa beberapa snack ditangannya.


"Non... ". Aku tersentak bik Ina membalas pelukanku. Ia menepuk nepuk punggungku dan mengelus lembut puncuk kepalaku.


Tangisan ku tak terbendung. Aku tak peduli suara tangisan ku memenuhi tiap sudut rumah ini. Terlalu sakit terlalu perih. Aku sudah tak tahan.


"HUWA..... ".


"Non pasti beratkan. Non harus kuat, harus bisa".


"Tapi... tapi bik Adel gak sanggup. Adel benci hidup adel. kenapa harus adel yang ditinggal? kenapa adek gak bisa sama orang yang adel Cinta? ".


"Non, mungkin ini waktu yang tepat untuk bibik cerita sama non adel".


Aku langsung menatap wajah bik ina dengan serius.


"Apa bik? ".


"Sebenarnya... Tuan tau kalo non udah punya orang yang non adel sayangi. Tuan juga sering termenung sendirian di taman belakang. Tuan juga sering cerita sama bibik. Tuan sebenarnya gak mau jodohin adel sama pak dirga-".


"Tapi papa tetap jodohin adel bik".


"Iya. Tuan gak bisa ninggalin adel sendirian. makanya tuan jodohin Adel sama pak dirga. Itupun tuan udah tau resikonya. Tapi tuan bilang dia cuma bisa percaya sama pak dirga".


"Kenapa papa sepercaya itu sama om dirga bik".


"Ehm... ".


"Bik kenapa bibik diam".


Bik Ina pergi dengan langkah yang cukup cepat menuruni anak tangga dan masuk kekamarnya. Tak lama bik Ina keluar dari kamarnya dengan membawa sepucuk surat ditangannya.


"Ini non". Bik Ina memberikan surat itu kepadaku. Amplopnya berwarna putih polos dibagian luarnya tertulis 'untuk putriku adel'.


"Surat dari papa bik? ". Tanyaku pada bik Ina. aku bingung kenapa baru sekarang bik Ina ngasih surat ini sama ku. dan kenapa surat ini bisa ada? Apa papa udah nyiapin sejak lama?


"Iya non, tapi surat nya jangan dibuka sekarang non! ".


"Kenapa bik?".


"Tuan berpesan suratnya dibuka waktu non udah menikah sama pak dirga".


"...".


"Non istirahat dulu ya. udah malam". Bik Ina mengantarkanku sampai diatas tempat tidur. Dia sedikit terkejut saat masuk kedalam kamarku.


Bik Ina mengelus lembut puncuk kepalaku sampai aku tertidur.


----------


"*Adel".


"Mama!! ".


"Ini dimana ma? ".


"Kamu harus kuat ya nak. Semua demi kebaikan kamu".


"Maksud mama? ".


"Liat dia udah nunggu kamu sana ikuti dia".


Kulihat ada seorang pria yang berdiri membelakangi cahaya yang sangat terang. Membuatku tidak bisa melihat wajahnya.


"Itu siapa ma? ".


"Kamu ikuti dia. Pasti dia akan bikin kamu selalu tersenyum".


"???". Aku semakin bingung.


Aku mendatangi pria itu dan dia langsung mengulurkan tangannya padaku. Saat aku ingin menerima uluran tangannya. Tiba tiba semua. menjadi gelap dan*...

__ADS_1


----------


Brak!!.


Hosh... hosh


Rasanya keringat bercucuran deras disekujur tubuhku.


Apa maksudnya ini?


Ting!


K. Dewa


Del kk datang jam delapan ya


Adek langsung melihat jam wekernya yang menunjukkan pukul 07.30


"Gawat!!! Masih sempat mandi gak ini. Udalah mandi badan aja".


Aku langsung bergegas masuk kekamar mandi, setelah itu aku memilih baju yang gak ribrt dipake. Celana lee. Baju kaos pink dan tas kecil yang pas pasan untuk buku mata pelajaranku hari ini.


"Siip udah siap ".


Tin...tin...


Kudengar suara klakson dari luar gerbang rumahku. Disana ada motor ninja berwarna hitam berhenti. Aku segera turun dari kamarku dan langsung membuka pintu rumah. Ternyata kak dewa baru aja mau ngetok pintu rumahku. Aku tersenyum melihat wajahnya yang cukup kaget.


"Ngagetun aja ".


"Hehe... Gak bermaksud kak".


"Kuylah".


"Iya".


Akupun mengikuti Kak dewa dibelakangnya. Hari inipun dia terlihat sangat keren. Kak dewa memakai baju kaos warna putih dan jaket lee warna biru tua. Celananya lee warna hitam. Rambut Kak dewa sedikit berantakan karena dia make helm.


Kak dewa memanaskan motornya beberapa detik. kemudian menyuruhku naik.


"Naik del".


"Iya kak".


Meski aku suka sama kak dewa tapi aku udah gak terlalu canggung untuk naik di keretanya. Karena bukan sekali dua kali aku naik di jok belakang keretanya ini.


*********


Ckit.


Motor kak dewa berhenti tepat diparkiran kampus. Aku turun dari motornya dan menunggu Kak dewa membereskan tempat parkirnya itu.


"Dah kamu masuk jam berapa? ".


"Hem.. jam setengah sembilan kak".


"Setengah sembilan. Noh udah jam berapa! ". Ucap kak dirga sambil memperlihatkan jam yang ada di pergelangan tangan kirinya.


"What? Udah jam sembilan!!".


"Kak adel masuk kelas dulu ya".


Begitu aku balik badan kan dewa menarik tanganku.


Deg!


"A-ada apa kak? ".


"Nanti kalo udah kelar. Temenin kakak ya".


"Kemana kak? ".


"Udah ntar kamu juga bakal tau kok". Kak dewa mengacak acak rambutku. Wajahku langsung terasa panas.


"I-iya kak". Aku langsung memalingkan wajahku dan berlari ke arah fakultasku yang gak jauh dari tempat parkir".


Deg


Deg


Deg


----------


Nih bagini bajunya si adel. Imut gak??


__ADS_1


__ADS_2