
Cklek.
"Adel ayo masuk".
"Iya Mas".
Mas dirga masuk diluan aku mengikutinya dari belakang. Dari pintu depan langsung nampak ruang tamu yang mewah. Lampu lampu ruangan sangat Indah bergelantungan diatasku. Dibelakang kursi sofa terdapat sembuah piano bewarna putih dan disampingnya ada beberap kursi santai. Ruang tamu langsung berhadapan dengan taman yang asri. Terdapat kolam ikan koi yang diatasnya dibangun jembatan. Diujung jembatan nampak sebuah area santai outdoor yang elegan namun simple dengan menggunakan kayu jati dan dihiasi lampu kelap kelip bewarna putih.
Mas dirga menaiki tangga yang seperti nya akan mengarah ke kamar nya. Jantungku berdegup kencang memburu.
Gue bakal tidur sama Mas dirga ....
Pikiran liar menghantuiku. Aku sering mendengar istilah malam pertama. Dan apa malam ini akan menjadi malam pertamaku. Aku sangat amat sangat belum siap. Mas dirga masih tetap berjalan didepanku menuju ke ujung lorong. Aneh, padahal Mas dirga bisa buat kamarnya di samping tangga biar gak jauh, tapi kenapa malah bikin diujung lorong yang lebih gelap.
Cklek
Uwoo... mas dirga udah buka pintunya!!!!!
"Del, ayo masuk kamu gak ngantuk? ".
"I-iya mas".
Ragu ragu aku melangkahkan kaki untuk masuk kekamar Mas dirga yang sekarang berstatus sebagai suamiku. Penerangan dikamar cukup minim. Kuperhatikan dari empat bola lampu hanya satu yang hidup.
Tek.
Mas dirga menghidupkan semua lampu kamarnya sehingga rungan ini menjadi sangat terang dan setiap sudut kamarnya terlihat jelas.
Kondisi kamar mas dirga berbeda dengan saat kami tinggalkan tadi pagi. Spreinya dan sarung bantal diganti dengan warna krim yang motif butiran salju. Selimut yang tadinya bewarna merah kini juga diganti dengan warna abu abu. Lilin dan lampu kelap kelip sudah tidak ada lagi dikamar Mas dirga, sekarang kamarnya terlihat lebih elegan dan menenangkan.
"Saya mandi diluan atau kamu? ".
Deg!
Jawab apa aku?
"Adel aja diluan mas... ". Aku langsung berlari kecil kearah kamar mandi yang ada didalam kamar Mas dirga.
Langkahku terhenti. Aku perlahan memutar kepalaku sambil cengengesan.
"Mas, Baju ganti adel udah habis. Tadi lupa nyuruh bik ina nganter... he... he... ".
"Itu tadi udah Mas belik". Mas dirga menujuk kearah meja disamping pintu kamar mandi. Terdapat beberapa tas yang didalamnya sudah pasti baju untukku.
Jangan bilang CD gue!!!!
Aku langsung memeriksa isi tas tas itu. Mataku terbelalak ketika melihat tas ke empat yang kuperiksa. Sepasang pakaian dalam bewarna merah maroon dengan brokat yang cantik. Wajahku memerah dan gak bergerak. Malu rasanya. Namun pakaian dalam ini terlalu seksi.
Ma-masak mas belik kayak gini.
"Kenapa del, kok diam? ". Mas dirga yang nampak khawatir berjalan menghampiriku.
__ADS_1
"Stop mas stop!!! ".
Tanganku melambai lambai cepat. Tanpa kusadari bra yang dari tadi kupegang masih berada ditanganku. Wajahku memanas menahan malu. Mas dirga hanya menatapku heran.
"Bukan saya yang beli, tadi kak sello yang beliin buat kamu ".
"I -iya om, kalok gitu adel mandi dulu ya om". Aku langsung berlari masuk kedalam kamar mandi membawa semua tas yang didalamnya adalah pakaianku sendiri.
Yaelah aku manggil mas dirga om lagi. susah bener dah!!!
Adel memulai ritual mandinya. Yang pasti menggunakan sabun dan shampoo milik dirga. Ia berusaha keras untuk enggak kepikiran soal branya tadi. Ia mengusap wajahnya berkali kali dengan sabun. Kemudia ia menyalakan shower yang menyirami dirinya yang penuh busa.
10 menit berlalu adel selesai mandi. Ia teringat hadiah yang diberikan kak dewa saat diresepsi tadi siang.
"MAS....". Teriak adel dari dalam kamar mandi.
"Iya ada apa? ".
"Ambilin tas kecilku yang diatas meja".
"Yang warna hitam? ".
"Iya mas".
Aku membuka pintu kamar mandi sedikit dan mengulurkan tanganku ke Mas dirga.
"Makasih... ".
"Hmmm... ". Tentu aja aku bingung mau jawab apa. Aku udah siao mandi tapi masih ada hal yang ingin kulakukan didalam.
"Ya udah, saya mandi dibawah aja".
"Eh, iya mas. Ga pa pa kan? ".
"Iya gak papa kok".
Aku menutup pintunya kembali dan merogoh isi tasku.
Aku mengambil sebuah kotak yang diberikan kak dewa padaku saat diresepsi tadi.
----------
Adel membuka isi kotak itu. Sepucuk surat. Poto. dan juga cincin.
Sedikit terdiam. Raut wajah adel berubah sekilas ia mengingat hal yang tidak seharusnya ia ingat.
Kak dewa....
Adel membuka isi surat itu.
Untuk adel,
__ADS_1
Maaf. Aku ingin menyatakan perasaanku sekali lagi, meski aku tau kamu gak akan pernah bisa jadi milikku. Aku sangat... sangat mencintaimu adel, gak bakal ada yangbisa gantiin kamu dihatiku. Sebenarnya cincin ini mau aku kasi waktu kita dipantai. Aku gak tau kalo kamu udah mau nikah. Aku telat. Tapi gimana pun aku tau kalo kamu Cinta sama aku. Aku tau itu. Adel aku bakal nunggu kamu. Aku gak peduli aku jadi yang kedua. tapi aku yakin kamu gakkan bisa bahagia sama om itu, karena kamu gak Cinta sma dia.
Dewata.
Tak terbendung lagi. Air mata adel menetes ia menangis tersedu sedu. Pikirannya bercampur aduk. Benar ia tak bisa membohongi perasaanya sendiri. Jauh dilubuk hatinya ia masih mencintai Dewa, namun ia ingin melawan dan selalu berusaha melupakan. Hatinya sangat sakit.
*Jangan tunggu aku kak, aku udah jadi istri mas dirga. Maaf kak.
"Sakit.... sakit... Kenapa harus kaya gini? Tuhan kenapa gak bisa adil*".
Udah lebih satu jam adel diam dikamar mandi. Dirga yang menunggu diluar merasa khawatir dan mau membuka pintu. Dia terkejut samar samar mendengar suara isak tangis.
"Adel? kamu nangis? ".
Dirga mundur perlahan berjalan kebelakang dan terduduk di atas tempat tidur.
Dirga mengusap kasar wajahnya berulang kali. Dia termenung. Perasaan senang yang sejak kemarin ia rasakan sirna seketika.
Semenderita itu kamu menikah denganku? Apa lagi yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa nerima pernikahan ini.
Cklek.
Adel keluar dari kamar mandi. Matanya masih terlihat sembab.
"Loh, mas kok belum tidur? ". Adel memaksakan dirinya untuk tersenyum yang. membuat dirga tambah kesal pada dirinya sendiri.
"...".
"Kamu tidur disini aja malam ini, saya tidur di kamar sebelah. Nanti kalo kamar untuk kamu udah beres kamu bisa tidur disana".
Dirga pergi keluar dari kamarnya. Wajahnya yang nampak kesal sama sekali tidak tertutupi. Adel terkejut akan sikap dirga yang tiba tiba berubah.
"Mas dirga kenapa? ".
Adel yang ditinggal sendirian, masih heran dan menutup pintu. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang beraroma tubuh dirga. Pandangan mata adel penuh pertanyaan. Bukan tentang dirga yang bersikap dingin kembali padanya. Namun tentang hatinya yang bertentangan dengan pemikirannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Kini adel sudah terlelap. Dirga masuk kedalam kamarnya yang kini ditempati adel. Mata adel lebih sembab dari saat ia keluar dari kamar mandi tadi. Adel menggenggam sepucuk surat ditangan kanannya.
Dirga perlahan mengambil surat itu dari tangan adel. Terkejut bukan main. Amarahnya semakin menjadi jadi ketika membaca isi surat itu. Ingin rasanya ia menggebuki Dewa saat ini juga. Namun dirga masuh berusaha sabar. Dia tidak ingin mendengar adel akan membela dewa didepannya lagi. Hingga dirga memilih untuk keluar dari tempat adel. Masuk kesalah satu kamar yang selalu ia kunci. Ia mengambil poto yang terletak diatas laci.
"Bunda... Apa harus sesakit sini. Kenapa adel gak ingat? ".
__________
Heloww... hari ini author ngebut ngetiknya. mumpung gadak kerjaan. hehehe....
Apa ya maksudnya si dirga??? klian penasaran makanya jangan lupa ya difavoritkan, like and comment.
__ADS_1
🥰🥰😘😘😘