Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 6


__ADS_3

"Adel bisakah kamu mencintaiku". Gumamku sedikit geli. Aku bukan anak remaja lagi yang sedang dimabuk oleh cinta. Pikirku.


Mataku mulai tertutup sayu. Rasa ngantuk mulai menggerayangi tubuhku. Ku hembuskan napasku mencoba untuk merilekskan pikiran yang sedari khawatir.


"*Dirga... ".


"Kalo nanti kamu udah gede mau nikah sama cewe yang gimana? ".


"Hem... Dirga mau yang kayak Bunda". Senyuman melengkung yang terpancar di bibir manis anak kecil itu.


"Wah... Janji ya awas aja kalo gak kayak Bunda". Wanita itu menggendong dan menimang anak yang masih berusia balita itu.


----------


"Dirga... Kamu jaga ayah ya... ".


"...". Mengangguk


"Bunda udah mau jadi Bintang... ".


"Kenapa bunda mau jadi Bintang... hiks... ".


"Supaya bunda makin cantik... ". Senyuman yang menenangkan hati. Namun masih tersisa kekecewaan dimata wanita yang masih termasuk muda itu.


"Bunda... ".


"Bun... da pa-pamit du-dulu ya... ". Air mata mengalir dari pelipis mata yang menyucur dipipi yang putih pasi.


Tiiit...


Suara monitor menggema ditemani raungan anak kecil yang memeluk urat wanita yang bukan lain adakah Ibunya sendiri diruangan rawat wanita muda beranak satu itu*.


----------


Deg!!!


"BUNDA!!!! ". Aku terbangun. Jam masih menunjukkan pukul 2 pagi.


Aku mengusap kasar wajahku. Terasa ada banyak bulir keringat di sekitaran dahi dan tengkuk ku. Sebentar kututup mataku dan beranjak dari tempat tidur melangkah kearah balkon. Masih mengenakan baju kantor yang berantakan. Aku menatap Bintang Bintang yang bertebaran dilangit malam.


"Cantik". Gumamku pelan


"Bun... bunda makin cantik aja sekarang ya".


Kutatap lekat setiap Bintang yang bergantian kelap kelip. Kembali mengingat masa dimana aku masih polos dan setiap malam menatap Bintang sebelum tidur. Berpikir bunda sedang memperhatikan ku dengan isyarat kelap kelip bintang yang jauh diatas langit.


"Bun kayaknya baru kemarin aku kecil. Gak nyangka aja sekarang aku udah mau nikah... hihi... ". Sedikit tertawa geli.


"Tapi apa dia bisa mencintaiku gak bun? ".


Aku sendiri merasa geli dengan gumamanku. Seperti bukan aku saja. Jujur meski aku selalu dikelilingi berbagai macam wanita cantik dan seksi namun belum ada yang bisa membuatku berpikir keras hanya untuk mengucapkan 'hai'.


Tidak ada yang bisa membuatku segelisah ini. Meskipun aku harus bertindak sedikit egois untuk memilikinya.


**********


Pagi pun tiba mataku sembab karena setelah terbangun semalam aku jadi melanjutkan pekerjaan yang seharusnya kuselesaikan lusa. Kantong mataku memang tidak terlalu besar hanya saja cukup untuk memperlihatkan aku yang kurang tidur belakangan ini.


Ntah kenapa belakangan ini aku sangat sering mimpi ketemu sama Ibuku yang selalu kupanggil 'Bunda' .


Cklek


Aku masuk kekamar mandi yang tersedia di kamarku. Membuka baju helai demi helai. Mengatur air agar tidak terlalu dingin kemudian menghidupkan shower. 15 menit kemudian aku selesai mandi. keluar dari kamar mandi dan masuk keruangan khusus.


Barang barang tertata rapi didalam ruangan itu mulai dari setelan jas, dasi, jam tangan, sepatu dan lainnya.


Setelah kurasa penampilan ku oke. Aku pun keluar dari kamar menuju meja makan untuk sarapan.


"Bik sarapannya apa? ". Aku bertanya pada sosok wanita yang sudah memiliki kerutan kerutan diwajahnya yang sudah menua.


"Ini den. Bibik bikin nasi goreng udang".


"Favorit nih bik. Makasih ya bik".


Bik Siti menyajikan nasi goreng yang salah satu menu kesukaanku. Dihadapan ku tercium aroma rempah rempah yang familiar dari nasi goreng itu. Mataku langsung tertuju pada udang yang masih terlihat segar tercampur dengan nasi yang digoreng dengan telur beserta kawan kawannya.


Ehmmm...


Aku melahap semua nasi goreng itu. Setelah selesai sarapan aku langsung berangkat ke kantor.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 Wib. Memang aku ini sering bangun kesiangan dan berangkat sesuka hati. Itupun kalo emang lagi senggang dan gak sibuk.


Baru aku sampai di parkiran kantor aku mendengar dering telepon dari kantongku.


Adel


Aku dengan cepat mengangkat telpon itu dan berusaha mengatur napas agar terdengar normal


"Halo... ". Suara itu terdengar lembut dan sedikit ada nada kesal.


"Iya ada apa? ".

__ADS_1


"Om tadi adel dapat telpon dari tukang bajunya".


"Tukang baju? ".


"Tukang dari mana del? ".


"Ish, Tukang baju nikahan kita lo Om! ". Gadis itu mendengus kesal diakhir kalimatnya.


"Dia bilang nikahan kita".


"Oo iya... kalok gitu nanti siang kita ke butiknya ya".


"Iya".


"Ya udah da-".


Tut... tut... tut...


Telpon ditutup sebelum aku menyelesaikan kalimatku.


"Maklum ajalah masih anak anak". Gumamku menguatkan diri.


**********


"Adel saya lagi dijalan kerumah kamu. Siap siap ya".


"Apa Om udah dijalan. Inikan baru jam 12 belum lewat jam makan siang juga".


"Iya saya tau. Tapi karyawan butik nyuruh kita datang sekarang ".


Tak apalah cuma kebohongan kecil. Itu hanya akal akalanku agar bisa makan siang bareng Adel.


"I... iya Om adel siap siap".


Tut... tut... tut...


Aku tersenyum bangga dan geli. Terlalu tua untuk berbohong seperti ini.


Aku mulai melihat rumah besar dengan pagar menjulang tinggi kira kira 2 meter lebih. Satpam membuka pintu dengan ramah.


Aku segera memarkirkan mobilku tapi tepat didepan pintu rumah Adel. Agar tidak perlu berjalan ke parkiran yang terletak sedikit jauh kearah barat.


Tok... tok... tok...


"Adel".


Cklek.


"Ayo Om jalan".


Gadis itu berjalan melewati ku dan langsung masuk ke mobil. Cuek.


"Langsung kebutik aja kan".


"Kan emang cuma mau kesitu om". Jawabnya tanpa melirik ku sedikit pun.


Ada rasa sesak didadaku. Namun aku juga merasa senang bisa dekat dengannya.


"Om kita parkir di situ aja disebrang". Perintah Adel sambil mengangkat jari telunjuknya.


"Hmm".


Aku membiarkan adel keluar dari mobil dan berjalan duluan.


Apa yang kuharapkan?


"Om nunggu apa lagi sih? Ayo masuk". Gerutu gadis itu setelah membalikan badan yang membuat rasa kecewaku sedikit menghilang.


Aku hanya sedikit mempercepat langkah. Bersikap cool dan dewasa.


Cling...


"Selamat datang di toko butik kami. silahkan dilihat". Sambut pegawai yang ada di meja kasir.


Tak berapa detik ada karyawan yang tidak asing mendatangi kami.


"Pak Dirga dan Buk adel ?". Tanya dengan suara yang lembut dan sopan


"Iya". jawabku


"Oh, silahkan ikuti saya. Gaun pilihan untuk buk adel sudah ditata rapi di bagian sebelah sana".


Pegawai wanita itu mengarahkan kami ke bagian baju pengantin yang akan dipakai adel nanti dipernikahan kami.


Sewaktu melewati gaun kebaya putih itu satu persatu mataku tertuju pada satu gaun. Lama aku memandanginya membayangkan Adel memakai baju itu. Pasti akan terlihat begitu menawan.


"Apa Bapak suka model yang ini? ".


Sontak khayalanku buyar.


"Tidak tidak".

__ADS_1


Aku segera melihat kearah adel yang sibuk dengan gagetnya.


" Adel kamu pilih aja mana gaun yang kamu suka".


Adel mengangguk.


Pastilah dia gak akan sadar sama keinginanku. Dia pun lasti malas harus memilih gaun untuk pernikahan sepihak ini.


"Kak saya pilih yang ini... ini... sama yang ini".


Salah satu gaun yang dipilih adel adalah gaun yang kutatapi tadi. Bibirku melengkung kecil menyembunyikan kan rasa senangku.


Adel mencoba satu persatu gaun yang dipilihnya didalam ruang ganti. Dia tidak keluar untuk meminta pendapatku. Pastilah.


Aku oun tidak tau baju mana yang dia pilih tau tau gaunnya sudah dibungkus oleh pegawai yang menjaga kasir.


Setelah beres giliranku untuk memilih setelan jas untuk pernikahan nanti. Kulihat hampir semua warna setelan jas yang berjejer rapi bewarna putih polos. Namun ada satu yang terlihat berbeda. Terlihat lebih berwibawa dan keren.


"Bungkus satu yang ini".


"Eh, Om gak coba dulu? ".


"Gak usah semua baju cocok dibadan saya". Ucapku sedikit sombong dengan senyuman tipis yang sungging.


"Oo... Iya iya". Adel kelihatan sama sekali tidak tertarik menurutku.


"Mbak dibungkus aja ini".


Akhirnya masalah gaun pengantin selesai. Sekarang udah jam makan siang. Aku akan menjalnkn rencanaku untuk mengajak Adel lunch.


"Del makan dulu yok".


"Eh.. Gini om".


"Udah saya yang traktir. Ada restoran Bagus didekat sini".


"...".


"Kata orang dessertnya enak banget".


"Beneran om?! ".


"Iya".


"I-ikut deh Om. Lagian dirumah juga cuma ada Bik Ina".


"Ya udah yuk".


**********


"Pilih apa ini. Bahasanya kok bahasa planet semua ?".


"Del mau makan apa? ".


"Eh... e.. e.. Beef Burgu-guig-burguig-non".


"Minumannya apa nona? ".


"Lemon tea aja".


"Aku malas baca menunya. Bisa bisa bola mataku muter lagi".


Hmm... nggak enak juga kalo harus diem diem an kayak gini.


"Om... ".


"Mmm".


"Om kenapa mau nikah sama saya... ".


Deg!!


__________


Hai readers... nih kira kira beginilah bajunya sidirga buat nikahan nanti.



Dan kalok untu Adel...


.


.


.


.


Nanti ya waktu nikahan 😋😋


Selamat menikmati ya readers thankq 😘

__ADS_1


__ADS_2