
FLASHBACK ON
"Kak, kakak sedih lagi ya? ".
Saat itu usia Adel masih sangat muda dan terlalu polos, diusianya yang belum genap enam tahun, ditemani seorang remaja laki laki, melihat bintang dari beranda kamar masing masing sambil menghibur diri.
"Hmm.. ". Dirga muda hanya mengangguk sambil tersenyum lembut sembari menatap mata Adel namun, sorot mata itu terlihat begitu kesepian. Tak seindah ketika dulu masih ada sosok Ibu yang selalu memarahi tingkah tingkah bodohnya.
Ditengah keheningan malam, tiba tiba pertanyaa konyol terlontar dari mulut Adel. Dengan wajah yang begitu polos ia bertanya kepada Dirga.
"Eng... Bundanya kakak kurang cantik ya hari ini? ".
"Ha....???!". Tentu saja Dirga langsung membelalakkan kedua matanya kearah Adel. Ingin tertawa sekaligus bertanya, membuat pikiran Dirga yang tadinya muram kini buyar dipenuhi pertanyaan konyol Adel.
"Wahahahaha... Adel... Kamu... kamu mau bikin kakak lompat tiba tiba dari sini ya? Hahahaha... Mungkin mungkin, kayanya Bunda lagi gak make up-an. Makanya kakak bete liat bintangnya... ". Jawab Dirga sambil terkekeh sendiri melihat kepolosan Adel.
"Hehe... ".
"Loh kok kamu telat ketawanya Del? ". Dirga mengusap air mata yang tersisa akibat cekikikannya tadi.
"Akhirnya Kakak ketawa juga, daritadi kakak kayak sedih banget soalnya... hihi... ".
Dheg!!
"Bocah ini". Sebut Dirga didalam hatinya .
"Makasih ya, Del". Malu malu Dirga mengucapkan terima kasih kepada Adel. Ia menggaruk kasar rambutnya kemudian menundukkan kepala.
"Kenapa kak?". Tanya Adel lagi polos.
"Intinya makasih okey". Tegas Dirga. Tentu saja meski Adel masih anak kecil, namun dimata Dirga dia seperti malaikat yang menemaninya.
Lagi lagi suasana hening, namun kali ini berbeda. Kedua insan muda itu saling bertukar senyum seraya menatap jutaan bintang yang saling memancar kan sinar terindahnya.
Mereka menghitung bintang-bintang diatas langit. Saling bercanda layaknya anak sebaya.
"Hubby".
Tiba tiba saja kata itu terucap dari bibir Adel, tangan nya terangkat dan jari telunjuknya mengarah ke Dirga. Tatapan mata polos itu lekat menatap Dirga, diikuti dengan senyuman ala ala bocil.
"???". Dirga menunjuk dirinya sendiri bingung.
"Iya!! ".
"Kamu manggil kakak Hubby??? Emang kamu tau artinya?? ".
"Tau dong ". Jawab Adel sambil menunjukkan senyum sombongnya.
"Kata Mama, kalok Adel udah nikah Adel boleh manggil suami Adel pakek panggilan Hubby".
Lagi Dirga tak bisa berkata apa apa, ia tercengang tak berkutik. Matanya tidak berkedip. Dalam pikirnya ia merasa bagaimana bisa anak kecil ini yang lebih dewasa dari dia sendiri.
__ADS_1
"Adel... kakak udah gak bisa ngomong apa apa lagi".
"Loh kok gitu?! ". Adel cemberut.
"Soalnya pembahasan kamu terlalu jauh, Bociiill!!! ".
"Heehhh...!!!! Adel udah gede tauk!!! ".
"HUH!! ".Adel mengernyit dahinya dan menyilangkan kedua tangannya beriringan dengan dengusan panjang napas berat yang keluar dari mulut Adel.
"Kalok gitu, kakak manggil kamu Cubby". Senyuman polos terukir diwajah Dirga.
"Cu-bby... KENAPA?!!! ". Mata Adel berapi api marah, mengingat pipi tembemnya yang tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya itu.
" Iya Cubby... kalo kamu manggil kakak hubby, jadi kakak bakal manggil kamu 'Cubby'. Soalnya kamu itu tembeb... ". Kalimat Dirga terhenti.
"Tuh kan, bawa bawa pipi Adel lagi!!! ".
Dirga menjulurkan tangannya yang cukup panjang, kearah Adel dari balkonnya. Memang balkon mereka sangat dekat bahkan Adel sering sekali main kekamar Dirga lewat balkon itu.
"Eh!!!! Jangan cubit pipiku!!! ". Teriak Adel, namun seketika ia diam membeku dan pandangan hanya tertuju pada pria yang ada didepannya.
"Dan juga sangat imut... ".
Elusan lembut yang menyentuh pipi tembem Adel mengingatkannya pada sosok yang kini telah menjadi bintang. Sentuhan itu amat lembut dan hangat, dan akan selalu. melindungi Adel.
FLASHBACK OFF
"Hu-bby!".
"Ia cubby...".
Mata Adel langsung berkaca kaca, memunculkan bulir bulir kecil yang siap meluncur membasahi pipi Adel.
"Kamu akhirnya ingat sayang... ". Ditengah keramaian orang yang berlalu lalang di bandara Adel menangis dipelukan Dirga.
Terimakasih... Tuhan, Tak kusangka Dia benar benar akan menjadi hubby-ku...
"Hiks... hiks.. hiks... hubby... hubby... hik". Adel seperti kembali menjadi Adel kecil yang sering menangis dipelukan Dirga.
"Hu-uh! ". Dirga mengangkat Adel dan menggendongnya seperti bayi kecil. Sedangkan asisten Dirga segera membawa koper koper mereka. Dan langsung masukkan barang kedalam mobil pribadi Dirga yang dibawa supirnya.
"Ush.. ush.. udah jangan nangis lagi ya sayang, nanti mas ikutan sedih lo... ".
Benar memang Adel segera berhenti menangis, namun kini dia bertingkah seperti balita. Iya memeluk erat lingkar leher Dirga, melingkarkan kakinya di pinggang Dirga dan membenamkan kepalanya dibahu Dirga. Sungguh manja.
Sebenarnya Dirga cukup malu karena seperti menggendong keponakannya, tapi liat siapa yang dia gendong. Wanita cantik yang ukuran tubuhnya sudah mantap. Bagaimana bisa Adel kehilangan akal sehatnya dan berperilaku seperti itu. Bahkan ketika didalam mobil Adel tak sedetikpun melepas pelukannya dari Dirga.
Dirga sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Adel dan melanjutkan mimpi Indah yang sempat terhenti ketika sampai di Indonesia.
------------------------
__ADS_1
Sesampainya dirumah Dirga langsung naik keatas dan berjalan kekamarnya.
"Wah... akhirnya sampai rumah juga ya, Del". Dirga langsung merebahkan dirinya diatas kasut berukuran king miliknya itu.
Tak ada sahutan.
"Loh, kok kamu berdiri aja, sini masuk".
Adel tetap diam didepan pintu kamar Dirga, ia nampak sangat enggan untuk masuk kedalam seperti ada kecemasan besar yang tersimpan didalam dirinya.
Melihat itu Dirga langsung berjalan kearah Adel, Adel hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Dirga segera membungkukkan badan mensejajarkan dirinya dengan tubuh Adel. Ia menatap lekat wajah istrinya itu. Tampak Adel sedang menahan isak tangis yang dalam.
"Adel, ada apa sayang? ". Kelembutan suara Dirga membuat Adel tidak dapat membendung air matanya lagi.
"MAAFIN ADEL MASS.... SELAMA INI ADEL SELALU KASAR SAMA MAS, ADEL GAK PERNAH MENGHARGAI SEMUA KEBAIKAN MAS SAMA ADEL, HUHU.... ADEL... ADEL... ". Ia meledak. Penyesalan selama ini lepas begitu saja dari bibirnya yang mungil.
"...". Dirga diam, tak bergeming.
Adel takut. Perlahan ia mulai mengangkat kepalanya. Terkejut bukan main, nampak sangat jelas butiran butiran air mata jatuh satu persatu membasahi pipi Dirga.
Hati Adel begitu tersayat. Pasti selama ini Dirga menahan rasa sakit itu seorang diri, semua penolakan kasar bahkan kata kata kejam dari mulut Adel sendiri,begitu melukai Dirga hingga tanpa sadar ia meneteskan air mata. Bukan air mata dikarenakan rasa sakitnya selama ini, namun air mata karena akhirnya wanita yang selama ini menolaknya berkali kali kini sungguh telah menjadi miliknya. Kini cinta terbalaskan, janji masa kecil itu kini telah terwujud.
"Hik...Adel,Mas sangat mencintaimu!!!".
Dirga memeluk Adel begitu erat, melepaskan segala rasa sepi yang setiap hari menyiksanya. Merasakan hangat tubuh Adel yang kini menerimanya.
"Adel juga sangat sangat mencintaimu Mas".
Kemudian, ciuman manis saling menyentuh kedua bibir insan itu. Seakan mengikrarkan perasaan mereka masing masing.
Dirga menarik Adel kedalam kamarnya, kemudian pintu itu terkunci rapat.
Blam.
Sinar bulan masuk melalui jendela seakan menyambut kedatang sosok baru didunia ini.
TAMAT
--------
Hai readers, akhirnya selesai juga kisah mereka dan berakhir bahagia. Jujur author gak mau bikin sedih lama lama sama cwrita mereka. Dan senang banget cerita pertama author udah selesaiii....
Alhamdulillah...
Makasih buat semua pembaca yang udah mengikuti cerita ini dari awal, menyemngati saya selalu supaya cepat up ...
Benar benar terima kasihh🥺🥺🥺🥺🥺
Dan Maaf, untuk keterlambatan yang sering sekali terjadi padahal dulu saya bilang bakal ngetik setiap hari,tapi memang ekspentasi gak bakal sesuai sama realita...so for the love readers...im so sooo... berterima kasih....
__ADS_1
Nantikan karya author yang selanjutnya...
See.... youu....