
"Om kenapa mau nikah sama saya... ".
Deg!!
Jariku yang sedari tadi pura pura sibuk men-scroll medsos digadget ku mendadak terhenti. Seperti ada aliran listrik yang menyengat diriku.
Kubuka kamus kamus tipuan yang ada dikepalaku hanya untuk menjawab pertanyaan pertama dari Adel setelah sekian lama.
Plis plis dirga encerin otak lu. Cepetan tu anak udah melototin lu daritadi.
"Om?! ".
Kutarik nafas dalam dalam untuk menstabilkan rasa grogiku. Dan bersikap super biasa aja tapi cool.
Aku menutup layar gadget ku dan segera menatap adel yang penuh tuntutan penjelasanku.
"Begini Adel. Saya udah janji sama Pak Hendra buat jagain kamu".
"Jagainkan bukan nikahin! ".Celetuk adel
Grr... Segitunya gak mau nikah sama ku?
"Jagain kamu maksudnya bukan sekedar jaga kayak yang kamu pikirkan, tapi jaga sekaligus selalu ada disisi kamu dalam ikatan pernikahan ". Balasku dengan sedikit penekanan dalam kata tertentu.
"Oh.. Iya om".
Kamu bikin saya ngomong panjang kali lebar cuman untuk ngejawab 'Oh' doang. Oh Lord!!!
Kuusahakan sikapku tetap santai dan cool. Menghilangkan rasa jengkel akibat Adel.
"Ini pesanan Tuan dan Nona".
----------
Pelayanan menghidangkan pesanan kami kulihat daging yang ada taburan wijen dan kuah kaldubyang menggoda membuat cairan dimulutku ingin tumpah.
"Udah kuduga oom ini sama sekali gadak niat buat nikahin aku. Yo bagus aku bisa bebas gak perlu mikirin perasaan dia! ".Geram Adel dalam hatinya sambil memegang pisau yang sudah tertancap di daging miliknya.
Adel mengoyak daging yang ada di garpunya dan makan dengan bar bar. Sengaja agar Om dirga ilfil padanya.
Tang... tung... tang... tung...
Kerucuhan terjadi di piring Adel. Dirga menatapi keliaran adel di mangkok hidangannya.
"Del del, kamu mau sengaja juga aku gak peduli. Aku senang kalo liat kamu bertingkah".
Para pengunjung restoran memandang Adel dengan risih. Aku cemas kalau kami jadi diusir dari tempat ini. Sebaiknya kukasi Adel hukuman.
**********
"Adel".
wehe akhirnya Om dirga manggil aku. Pasti dua dah kesel.
"Apa om? ".
"Makannya bisa tenang dikit? ".
"Maaf om saya gak pande makek piso ma garpu".
"Ya allah senang banget bikin oom ini malu~~".
Om dirga merebut peralatan makanku dan meletakkan nya tepat disampingnya. Kemudian Om dirga juga merebut mangkok milikku. Ia menyucuk potongan daging yng sedang di garpu miliknya.
"Om mau makan punya saya? ".
__ADS_1
"Enggak... ". Tangan Om adel mengarah mendekati mulutku
"Aaa~~~".
"Sayang buka mulutnya dong... ".
Egh... What. Masa om dirga beneran mikir aku gak pande makan pake piso sama garpu.
"Eh, Om adel bisa makan sendiri kok".
"Tapi tadi kamu bilang gak pande. Udah gak usah malu malu. Kamu kan CALON ISTRI SAYA". Perhatian para pengunjung terfokus pada kami berdua. Mereka seakan lagi menonton drama percintaan gratis.
"Om kan ma-". Mataku membulat. Melihat Om dirga meletakkan potongan daging tadi di ujung bibirnya.
Mendekat. mendekat. semakin dekat. Saat aku memalingkan wajahku. Om dirga memegangi pipiku dengan kedua tangannya. dan...
Cu~~~
Daging itu sudah melekat di bibirku beserta bibir Om dirga yang tidak lebih dari satu centi dari bibirku. Mataku seperti berkunang kunang. Om dirga tidak menutup matanya tapi dia menatap lekat kedua mataku. Malu sungguh malu. Aku tidak mau lebih dipermalukan lagi dan akhirnya aku membuka mulut ku dan membiarkan Om dirga memasukkan daging yang sudah lama berdiam diantara mukut kami. Terasa bibirnyabyang sedikit menyentuh bibirku. Segera kudorong Om dirga. Menahan malu dan dengan cepat mengunyah daging yang ada dimulutku.
"Second kiss ku.. hu...hu... ".
Kulihat seringai oenuh kemenangan yang terpancar dari wajah Om dirga. Dia menjilat sisa saus yang berada di bibirnya.
"Enakkan... ". Senyuman maut dia tunjukkan padaku. Pasti banyak wanita yang luluh dan bersimpuh dikakinya jia mendapat senyuman itu. Tapi aku berbeda... Aku tidak akan menjadi seperti yang dia mau. Aku tidak rela dipermalukan.
"Om enak kok". Kubalas dengan senyumanku yang tak kalah mematikan. Samar samar terlihat aliran listrik yang menyengat dari mata kami berdua.
"Udah siap makan langsung balik aja ya OM!!". suaraku lebih kuat dan lebih ditekan di akhir kalimat.
"Kamu emosi?? ". Ucap Om dirga pelan
"Hah, ngapain saya emosi OM lagian OM KAN CUMA NYUAPIN ADEL! ".
"Heh, bocah".
"Saya bilang kamu itu terlalu kekanak kanakan dan gak bisa bersikap dewasa. Gimana sih kamu ini dididik. Kamu bertingkah kayak bocah yang gak dibeliin permen. Dan lagi kamu itu apa gak bisa jaga harga diri kmu sedikit. Ini didepan umum lho-".
BRAKK!!!
Adel membanting keras meja makannya dan lagi lagi membuat pengunjung ngerasa risih.
"Om gak bakalan ngerti perasaan saya". Ucap Adel pelan dan segera berlari keluar dari restoran. Melewati kerumunan orang yang berlalu lalang menikmati langit yang begitu cerah.
"ADEL!!! ". Teriak seorang pria dari balik kerumunna orang yang berlalu lalang tadi. Aku menyelip nyelip berusah dengan gesit agar pria itu tidak menemukanku.
**********
"Aduh aku salah ngomong apa? ".
"Kan cuma nasihatin dia dikit".
Dirga mengusap kasar wajahnya yang dipenuhi rasa kekhawatiran. Segera ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju rumah adel.
Dirga tidak lagi menunggu gerbang terbuka lebar dan keluar dari mobilnya. Berlari ke pintu rumh Adel.
TOK... TOK... TOK...
Kriet...
Perlahan pintu itu terbuka tapi bukan Adel yang keluar melainkan pembantu nya yang sudah cukup menua. Buk Ina.
"Adel ada bik? ".
"Ada pak dikamarnya".
__ADS_1
"Gimana keadaannya? ".
"Tadi waktu pulang langsung masuk kamar pak pintunya juga dibanting keras keras".
"Ya udah saya kekamarnya aja dulu".
"I-iya pak". Bik ina terlihat ragu mengantarku ke pintu kamar adel.
Dari luar kudengar beberapa barang yang dilempar kesana kemari. Suara isak tangis dan juga yang terakhir suara lirih yang tidak bisa ketangkap dengan jelas.
"Pintunya gak dikunci kok pak kayak biasa". Ucap bik Ina kemudian pergi meninggalkan seorang diri didepan pintu kamar adel.
Cklek.
Aku membuka pintu Adel perlahan. Sedikit terlihat kamar adel yang hancur berantakan. Selimut sudah tidak lagi ditempat tidur. Make up yang biasa nya tertata rapi di meja riasnya kini berserakan tak tau arah dilantai.
Tersungkur seorang gadis yang terlihat sangat rapuh didekat jendela kamarnya. Menenggelamkan kepalanya dalam kedua pahanya. Menangis tersedu sedu sendirian.
"Adel... ".
Sontak gadis itu berdiri dan menatap wajahku penuh kemarahan.
"Ngapain im kesini?! ".
"Adel saya gak bermaksud-".
"Mending Om pulang sekarang".
"Adel... ".
"PULANG ".
"Adel dengar dulu penjelasan saya".
"Om tolong om. Cukup bikin hidup Adel berubah 360 derajat. Cukup om adel udah gadak siap siap lagi Om. Jangan bikin adel makin putus asa".
"Ade-".
"ADEL GAK CINTA ATAU SAYANG SAMA OM. Jadi om gak usah terlalu ngurusin hidup adel. Om mau sama om cuma biar bikin papa tenang disana. Jangan bikin adel makin gak terima Om".
Deg!!!
"Om tolong om pulang aja. Biarin adel sendiri".
"Jangan temui adel sampe hari pernikahan nanti".
Aku melangkah mundur satu langkah dn langsung membalikkan badan. Pergi dengan perasaan yang bercampur aduk. Aku masuk kedalam mobil dan tidak langsung pergi. Aku terdiam. Mengulang kata yang membuatku tk bisa berkata apa apa.
"ADEL GAK CINTA ATAU SAYANG SAMA OM".
BUK!!!
Aku memukuk setiur mobil dengan perasaan kesal dan hampa.
"Bun... Dia udah jawab pertanyaan dirga". Gumamku yang hampir meneteskan airmata.
Kenapa aku jadi sesedih ini. Sebesar apa aku mencintai adel???
__________
Hai readers.... Kenapa sih dirga busa secibta itu sama adel. Padahal dia tau jels adel pun terpaksa nikah sma dia.
Hemss... Baca terus aja ya para readers sekalian. Jangan lupa like and comment.
Nih ada gambar bonus makanannya si Adel pas di resto.🤤🤤🤤
__ADS_1
Hey readers... maaf ya masi banyak typo jugak, 😅😅