
"Om-".
"Sssttt... jangan panggil saya om lagi. Saya sudah jadi suami kamu".
Blush.....!!!
Seketika wajah adel memerah mengingat apa yang dia ucapkan tadi pagi. Ia lansung memalingkan wajahnya dari tatapan om dirga. Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Ntah apa itu, ia pun tidak mengerti.
Namun detak jantung tiba tiba menciut, dan tiba tiba berdetak tak beraturan. Ingin rasanya ia pergi namun ia juga sudah memantapkan hatinya.
Seorang pria yang semalam ia cari cari dan kini ia tidak mengharapkan kedatangannya, berjalan dengan langkah yang lumayan cepat masuk lewat pintu depan yang sejajar dengan panggung pelaminan.
Kemudian ia naik keatas panggung pelaminan dan menyerahkan sebuket bunga Mawar.
"Del, selamat ya... selamat ya om semoga selalu bahagia". Dewa datang membawa sebuah kotak yang berukuran sedang dan ia berikan kepada adel. Dirga menatap tajam kearah dewa, Dewa pun balik menatap tajam dirga setelah itu pergi beranjak dari panggung pelaminan.
**********
Kulihat Om dirga memelototi Kak Dewa sampai ia pergi meninggalkan kami berdua. Saat ini entah apa yang kurasakan aku sama sekali tidak mengerti. Disatu sisi aku sudah yakin untuk memantapkan hati berada disisi Om dirga dan berharap bisa hidup bahagia sedangkan disisi yang lain aku masih tidak bisa melupakan Kak Dewa yang selalu berada disamping ku.
Air mataku seakan mau keluar. Terjun bebas. Namun dengan sekuat tenaga aku menahannya. Aku tidak bisa membiarkan airmataku menetes.
Deg!!!
Aku merasakan kehangatan yang mendekapku begitu erat. Salah satu tangan Om dirga mengelus lembut puncuk kepalaku.
Hangat... ini kayak pelukan mama, Ma... ini yang terbaik kan Ma... adel butuh mama sekarang.
Hiks... hiks...
"Om.. Maaf adel nangis... hik.. ". lirihku
"Gak pa pa. Kamu... ".
"...".
Kenapa om dirga diam? aku mohon sama diriku sendiri jangan nangis terus...
"Dirga!!! ".
Deg!!!
Aku terkejut tiba tiba ada suara seorang wanita yang meneriaki nama Om dirga. Aku mengusap air mataku yang masih berlinang deras. Wanita itu kini berdiri tepat didepan Om dirga. Raut wajahnya sangat menyeramkan. Paras wajahnya sangat cantik, tubuhnya langsing dan tinggi ditambah fashoinnya gak nanggung nanggung udah kaya model aja.
"Eloo!! ". Jari telunjuknya menunjuk tajam ke wajah Om dirga. Aku sangat takut. Bukan apa apa ya , Ini cewek datang tiba tiba mau apa pake acar teriak teriak segala, malu tauk.
Aduh... udah jadi bahan tontonan lagi. Gimana kalo ni cewek ngomong yang enggak enggak. Bisa hilang muka aku.... !!!
Aku mulai panas dingin. Aku merasa tertekan dengan kondisi ini.
"Kenapa lo gak ngundang gue pas akad Hah???!!!! ".
Toeng.....???
What???
"Tega Lo ya Dir, Kakak lo sendiri gak lo undang! ".
Kakak??? lah gue kira Om dirga anak tunggal.
Aku benar benar merasa malu pada diriku sendiri karena menilai orang hanya dari penampilannya. Kupikir wanita ini hanyalah salah satu dari sekian banyak wanita yang memuja Om dirga tapi ternyata dia adalah KAKAK IPARKU. ya ampun adel su'dzon mulu!
"Kak, udah diundang kok-".
"Gue baru tau semalam itupun haga yang ngasi tau! ".
Kakak iparku sangat berbeda dengan Om dirga. Dia sangat bawel dan penuh ekspresi gak kayak om dirga yang mukanya gitu gitu aja. Mau senang atau sedih gak keliatan. Kecuali kalo marah ya, jelas banget pasti makin dingin dan ngomong makin formal.
__ADS_1
"Loh?? Aku dah nyuruh haga jauh jauh hari kok Kak".
"Oooo... jauh jauh gue terbang dari London ke Indonesia demi elo tauk".
Tok!
Wanita itu menjitak kepala Om dirga cukup keras. Meski parasnya cantik ternyata dia cukup bar bar. Sedikit lucu.
"Sakit kak! Kak Willem mana? ". Om dirga mengusap ngusap kepalanya yang barusan ditokok.
"Gak bisa ikut gara gara mendadak kayak gini. Perusahaan nya gak bisa ditinggalkan, besok baru bisa datang".
"Sorry kak, lain kali aku ngasi tau sendiri ".
"Lain kali??? Lo mau nikah lagi emang?! ".
"YA ENGGAKLAH! ".
Deg!!!
"Udah lah, sana kakak makan aja banyak omel. Besok ada makan malam dirumah ayah".
"Mendadak mulu sih".
"Ayah ngasih taunya juga baru tadi pagi ".
"Terus gue pigi aja gitu??... Lo gak mau ngenalin bini lo dulu hah?! ". Wanita itu memelototi om dirga sangat tajam.
"Iya iya, Ribet amat sih entar dirumah juga bakalan kenalan".
"Kenalin Adelia adek ipar kakak".
"Awas awas... gak enak kali lo yang ngenalin ".
Wanita ini menepis tangan Om dirga yang mengarahkan tangannya padaku.
"I-iya kak, nama saya Adelia Rana Mahendra. Saya lebih suka manggil kakak aja". Aku tersenyum. Kak Sello juga ikut tersenyum.
"Ih gemes banget sich... Pipi kamu kok tembem amat.. " .
Ouuuhhhh... pipiku....
Kak sello habis habisan mencubit dan menguwel nguwel kedua pipi ku. Aku ngerasa kaya anak kecil saat ini. Masa sih piouku setembeb itu.
"Auh.. kak.. sa..it...". Ucapan ku sama sekali tidak jelas ntah kata apa yang keluar dari mulutku.
"Eeegggh... Imut!!!!! dah dulu deh, kakak mau makan dulu. Laper dari london cuma makab roti doang".
"Eh, iya kak. Dinikmati ya kak".
"Iya... tenang aja kalo kakak mah yang penting sikat aja terus... hahaha... ".
"Hahaha.... iya kak".
Kak sello pergi dan langsung ke meja makanan. Sedangkan Om dirga langsung menyandar ke sofa tempat duduk kami.
Om dirga takut sama kakaknya ya?
"Pipi kamu sakit gak? ". Pertanyaan dilontarkan om dirga tanpa melihat kearahku. Ia menutup matanya, seperti sangat kelelahan.
"Enggak kok Om, cuma tadi lumayan sakit sih dikit doang tapinya ".
"Beneran? ".
"Iya om... ".
"...".
__ADS_1
Kali ini Om dirga hanya menatapku tanpa berbicara sepatah katapun. Aku merasa makin canggung dan berusaha mencari topik pembicaraan.
"Itu kakak om? ".
"Sudah saya bilang jangan panggil Om lagi".
"Ja-jadi adel harus manggil apa? ".
"...". Om dirga menatap ku lagi. Tatapannya seakan menyuruhku untuk membuat panggilan sendiri.
"Ma-mas?? ".
"Egh... Hihihi... ". Om dirga tiba tiba tertawa kecil. Aku terkejut biasanya wajah Om dirga datar kaya papan tapi sekarang dia ketawa.
"Ko-Kok ketawa sih Om.. Ups!! ".
"Hahaha... lucu dengar kamu manggil saya mas. Tapi saya senang kok".
Sejak kapan Om dirga semanis ini??!! Apa yang salah sama mataku sih. Hari ini Om dirga beda banget dari biasanya.
"Adel?? ".
"Eh, iya Om.. ets".
"Hahah... lama lama juga bakal terbiasa".
"Iya.. ma-mas". Rasa sangat aneh memanggil Om dirga dengan sebutan mas.
"Berkas kamu udah beres? ".
Deg!
"Udah kok Om, lusa adel berangkat ".
Om dirga hanya diam tak bergeming. Ia memutuskan obrolan kami. Raut wajahnya kembali menjadi dingin dan datar. Apa dia marah? kalimat itu terus mengulang dikepalaku membuatku menjadi terbebani.
"Gr... daripada stress sendiri mending aku tanya langsung aja sama orangnya! " Gerutu adel didalam hatinya.
"Ma-mas... ". Suaraku menandakan keraguan yang amat sangat jelas.
"Iya? ". Om dirga yang sedari tadi menatap para tamu yang berdatangan kini menghadap kearahku.
"Mas marah ya kalo adel pigi ke Jepang".
"...".
Lagi lagi Om dirga diam tak berbicara atau menjawab. Namun ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tangan kanannya mengelus lembut puncuk kepalaku dan turun kekedua pipiku diikuti tangan kirinya. Lalu Om dirga menatap diriku lembut.
"Sayamalam. k marah. Kalo memang keputusan ini bikin kamu bahagia".
Hatiku sedikit lebih tenang. Namun ada keraguan yang mengangguku.
Kenapa aku jadi kaya gini?
**********
Akhirnya resepsi selesai tepat pukul 11 malam. Aku sangat lelah begitupun Om dirga, kami segera membereskan diri mengganti pakaian kami untuk kembali kerumah. Hari ini pertama kali aku akan masuk kerumah Om dirga sebagai istrinya dalam keadaan sadar.
"Adel ayo masuk".
__________
Hai readers... author bingung nih harus bikin panggilan dirga itu mas atau Om????
Kasi sarannya ya...
Oya untuk yang udah lama nunggu lanjutan nya maaf ya. soalnya makin banyak tugas dan author gak kuat kalo begadang mulu.. Hountoni gomennasai ne (Saya benar benar minta maaf ya).
__ADS_1
Author bakal lebih semngat lagi nulisnya untuk kalian. makanya ikutin terus ya cerita adel ma dirga. ya jgn lupa like dan comment... see you.. mmmuachh🥰😘😘😘