Can I Love Him

Can I Love Him
BAB 27


__ADS_3

Cit ... cit....


SRAK!!!


"Dirga bangun ini udah pagi!". Laura menarik selimut dirga yang masih terbungkus rapi ditubuhnya.


"Bun, 10 menit lagi lah... ".


"Gadak gadak, ayo bangun! ".


"5 menit deh Bun... Henymmm... ".


"DIRGA BANGUN CEPAT KALO ENGGAK BANGUN JUGA BUNDA LEMPAR KAMU KE DALAM KOLAM RENANG!!!!".


Dheg!!!!


Aku segera membuka mata dan masuk ke kamar mandi. Tentu saja bagi kalian itu hanya celoteh emak emak dipagi hari tapi beda dengan Bundaku yang satu ini. Pernah aku gak peduli pas diancam bakal dilempar ke kolam dan terus melanjutkan mimpi indahku. Dan beberapa saat kemudian Ayah mengangkatku dari tempat tidur dan melemparku kedalam kolam renang sedangkan ibu tersenyum sinis dibelakang Ayah.


Ser....


Ngingatnya aja udah bikin merinding. Ditambah lagi kolam kami berhadapan dengan taman belakang Tante Lisya. Ya kali dipagi hari yang cerah dan damai ini aku akan dipermalukan untuk yang kedua kalinya.


"Dah sana sarapan itu cepat, kamu lama banget sih dikamar mandi".


"Bunda, itu ritual supaya aku dapat cewek cantik ntar disekolah baruku".


Bug!!!


Bunda melemparkan timun yang akan dia potong kearahku. Tepat mengenai wajahku. Kenapa Bunda suka banget sih mukul muka ku. Ini aset negara tau gak sih Bun...


"Cewek cewek, bangun aja masih encesan gitu udah sibuk mikirin cewek".


Bunda meledekku sambil tersenyum sinis srakan meremehkanku. Heh... dirumah ini apa tidak ada yang menganggapku sudah besar. Ayolah aku bukan anak anak lagi.


Aku menyantap nasi goreng kesukaanku yang setiap pagi dimasak Bunda.


"Heh.. Kenyang... Okelah Bun, Aku berangkat dulu ya... ".


"Gak bareng Ayah aja? ".


"Enggak ah, nanti aku dikira manja lagi sama anak sekolah".


"Grrr....!!! ".


Egh!!!


"Enggak Bun, lagian sekolahku kan dekat dari sini... Aku mau naik sepeda aja".


"Hesh... Ya udah, hati hati dijalan ya... ".


"Iya Bun, Aku berangkat... Love u so much~~".

__ADS_1


Aku mengambil sepedaku yang terparkir di garasi mobil. Hmm... Enak juga sih kalo sekolah deket rumah kayak gini, aku gak mesti ribet buat ngurusin macet yang gak karuan.


"Hmmm... hmmm... hmm—!".


"Eh, dek kamu berangkat sekolah sendirian? ".


Aku melihat anak tetanggaku yang berjalan di trotoar dengan seragam SD seperti biasanya. Merah putih.


"He?? Hmmm... Adel kan udah gedek jadi gak perlu dianterin lagi".


Geh...! masih bocah udah songong aja...


"Gak mau kakak anter? ".


Sekejap aku membeku. Tatapan polos gadis kecil itu seakan menghisapku. Apakah sebahagia itu dia mendapat tawaranku?


"Bo-boleh? ". Suaranya gemetaran tapi bukan karena takut, Aku yakin dia terlalu senang mendapat tawaran untuk diantar ke sekolahnya.


"Bunda kamu mana? "


"Hmm... Mama gak bisa keluar lama lama... ".


Egh... kayanya aku salah ngomong ini.


"O-Ooo... Kalok gitu kamu selalu berangkat sendrian kesekolah? ".


"Kadang Mama nganter juga sih kalok lagi gak terlalu sakit, Papa juga kalok gak sibuk pasti bakalan nganter Adel kesekolah... ".


"Mau gak kalok kakak anterin kamu setiap hari? ".


"He..? ".


"Eee... gimana? ".


"Setiap hari...? ".


"Iya". Dirga tersenyum begitu hangat. Hingga ia tidak tau senyuman itu adalah sosok dari pahlawan bagi Adel kecil.


"Mau!!".


"Oke mulai besok kakak jemput ya... ".


"Iya kak... ".


Flashback Off


Dirga mengusap kasar wajahnya menatap langit langit kamar. Pikirannya hanya satu. Apa yang harus kulakukan? hanya itu, Ia terlalu bingung harus bagaimana bersikap pada adel. Bukannya mau mendiamkan adel hanya ia terlalu segan untuk berbicara kepada gadis muda yang ia paksa untuk menikahinya.


"*Besok... Mulai besok aku tidak akan melihatmu lagi... ".


"Mulai besok kau tidak perlu memaksakan diri lagi untuk tersenyum... adel*... ".

__ADS_1


Suara lirih itu menambah keheningan didalam kamarnya yang redup. Namun bukan berarti Dirga akan menyerah dengan perasaan yang sudah begitu lama ia tanam didalam jiwanya itu.


"Baiklah... aku tidak akan menyerah, aku berjanji akan ada disisimu meski kau tidak mengingatku! ".


-----------


Cit... cit... cit...


Malam berlalu begitu cepat hingga tanpa mereka sadari Mentari mulai naik dan menunjukkan sinarnya.


Kedua belahan jiwa yang masih belum terhubung ini membuka mata masing masing. Bangun dan beranjak dari mimpi mereka masing masing. Menatap hari dengan tujuan masing masing.


Hari ini ada yang sedikit berbeda dari Dirga. Kecewa pasti sangat jelas ia rasakan, namun hari ini dia seperti mencoba menghalau kemauannya sendiri. Benar. Adel akan pergi ke Jepang hari ini, meski itu hanya untuk kuliah namun masih belum pasti apakah dia akan kembali ke Indonesia atau apakah dia akan pulang untuk menemui dirga? Masih belum ada yang tau.


Dirga bersiap siap. Menuju kebawah untuk sarapan, kali ini ia sarapan lebih awal dan tidak menunggu adel turun. Ia tidak meminta secangkir kopi ataupun membaca koran pagi seperti biasanya.


Setelah selesai sarapan Dirga langsung mengambil tas kantornya dan berpesan kepada bik Siti pembantunya.


Setelah itu ia berangkat. Meski dari luar ia terlihat biasa saja tapi siapa yang tau isi hati orang lain. Bagai melepas sebagian dari dirinya, ia tau mereka masih bisa bertemu namun tetap saja tidak ada hal yang pasti untuk mempertemukan mereka. Jalan mereka saling bertolak belakang, mereka tidak bisa menjadi satu. Ataupun membagi diri menjadi dua. Mereka mempunyai jalan masing masing.


----------


Ah... mataku berat banget...


Pagi ini entah kenapa aku hanya ingin berdiam lebih lama didalam kamarku. Entah apa yang mengganjal didalam pikiranku hanya saja rasa sesak ini tidak bisa kutahan.


Memang benar aku hanya melarikan diri dari masalah masalah yang datang padaku. Aku sudah tidak tahan lagi.


Aku hanya terus membohongi dan menyiksa diriku sendiri. Aku tidak bisa seperti ini karena itu aku memutuskan untuk segera pergi, meski alasanku adalah untuk kuliah dan mendapat pelajaran yang lebih baik. Namun semua itu hanyalah tipu daya semata, Aku hanya mencoba untuk melarikan diri. Mencoba untuk bebas. Mencoba untuk melupakan semua hal yang menggangguku. Namun, kenapa aku menjadi gelisah seperti ini?


Adel menatap keluar jendela. Ia melihat Mentari begitu Indah memancarkan sinarnya langit juga sangat cerah. Harusnya hari ini adalah hari yang baik, hari ini akan menjadi hari terbaik. Harusnya begitu....


Namun sorot matanya begitu mendung hingga tetesan hujan turun membasahi pipinya. Air mata itu mengalir deras. Hatinya berteriak. Menjerit. Apakah ada yang bisa menariknya dan memeluknya saat ini? begitulah harapnya.


"Maafin adel pa... adel gak sanggup... ".


Rasa bersalah yang mulai menghantuinya semakin menggerogoti dirinya sendiri. Ia mulai bertanya-tanya apakah benar ini yang terbaik untuk dilakukannya? Apakah ini yang terbaik untuk kebahagiannya?


___________


Hai readers kalian rindu gak sama cerita mereka ini?????


Haduh dah lama banget author gak nulis. Pasti banyak yang kesel ya sama keterlambatan ini, apalagi yang udah lupa sama cerita sebelum nya....


Gpp kok lupa kan bisa dibaca lagi 😅


Segampang itukah?! Ya pasti enggak , karena itu saya selaku Author 'Can I Love Him' meminta maaf sebesar" atas keterlambatan yang keterlaluan ini.... 🙏🙏🙏🙏😓


So now...


Happy reading...

__ADS_1


💓💓💓


__ADS_2