
Akhirnya aku duduk disamping pria yang nampak menyeramkan dengan tatapan tajam ketika aku mengambil kursi disampingnya.
Tak lama setelah aku duduk tiba tiba seorang mahasiswa lain menggebrak pintu yang membuat seluruh mahasiswa didalam kelas terkejut temasuk dosen yang baru mau mulai menjelaskan pasal kepindahanku yang tentunya dengan bahasa Jepang.
BRAK!!!
"Maaf... saya terlambat!!!!".
Ha!!!!!!
"Cepat silahkan masuk, hari ini saya masih kasi kamu kelonggaran ". Ucap sensei tegas seraya langsung memerintah orang tersebut untuk masuk.
Dengan agak malu dan penuh keringat lelaki itu masuk dan mengambil tempat duduk yang berada agak jauh di sebelah kananku. Aku melongo menatapnya. Ia pun balik menatapku dan tersenyum.
----------
Terasa berat memang belajar menggunakan bahasa yang gak pernah didengar. Masih banyak masalah yang kudapatkan untuk mengerti penjelasan setiap dosen. Bahkan aku tidak cukup pandai berbicara dengan anak lain disini. Mereka nampak berbeda. Rasanya aku tidak terlalu dipedulikan. Mereka hanya mengurusi diri mereka masing masing.
"Heh... Ya udalah, namanya juga merantau. Gak mungkin enak kan! ".
"Hei... ".
Dheg!!!
Aku langsung mendongak dan menatap terkejut kearahnya.
"How are you?kenapa pesanku gak dibalas? ".
"K-kak De-wa? ".
"Iya... ".
"Kamu ngampus disini jugak".
"Kakak kok? ".
Dewa memainkan jarinya dan mengusap rambutnya kebelakang. Membuat alis tebalnya terlihat begitu jelas.
"Kakak udah seminggu disini... ".
"Kenapa? ".
"Kamu juga kabur kan, Del. Kalok di Indonesia kita gak bakal bisa berhubungan... makanya aku ngikutin kamu disi—".
PLAK!!!
Tamparan keras berhasil didapatkan Dewa dengan mulus. Anak lain yang masih tinggal didalam kelas memperhatikan Adel yang baru saja menampar dewa.
"Kakak jangan sembarangan ngomong! ".
Adel mengangkat jari telunjuk nya. Dan mengarahkan tepat kewajah Dewa.
"Mau ini di Jepang ataupun di Negara lain, aku gak bakal mau sama kakak! ".
"Aku duluan! ".
Adel langsung bergegas pergi meninggalkan Dewa yang masih shock mendapat tamparan dari adel.
Tak habis sampai disitu Dewa langsung tersadar dan segera mengejar adel yang sudah keluar dari kelas. Dewa sengaja menjaga jarak agar dapat mengetahui dimana Adel tinggal.
Benar. Dewa sudah berubah. Semenjak Adel nampak begitu bahagia bersama dengan Dirga, Dewa memutuskan. Apapun yang terjadi Adel pasti akan kembali lagi ke pelukannya. Dewa sangat yakin Adel pasti tidak akan meninggalkannya. Adel pasti masih sangat sangat mencintainya.
Dewa dibutakan oleh obsesi untuk memiliki adel, yang tanpa sepengetahuannya Adel sudah membuka hati kepada Dirga.
**********
"Hah?!... Kenapa Kak Dewa bisa ada disini? ".
"Pesan? ".
Dheg!!!
Adel mengingat pesan asing yang diterimanya kemarin. Ia sengaja tidak peduli karena mikir itu cuman pesan nyasar doang, tapi ternyata pesan itu adalah pesan dari pria yang pernah membuatnya bimbang dalam memilih pilihan ayahnya.
"Kenapa Kak Dewa jadi gini?... ".
Adel bergegas secepat mungkin kembali ke apartemennya. Sesampainya di apartemen Ia langsung terduduk disofa dan melongo. Bukan bimbang yang terpintas dipikirannya. Namun Adel merasa ada yang beda dari gelagat Dewa.
Ting!
Masku
Gimana kabar kamu?
Wohh.. Massku ngechat!!!!
Me
__ADS_1
Alhamdulillah baik Mas... kalok mas??
Masku
Alhamdulillah Baik... tpi belakangan ini ada banyak banget kerjaan jadi sering begadang.
Me
Ih... Mas, jangan sering begadang dong...
Tiririririirng...
"Eh telpon!! ".
Adel segera mengangkat telpon dari Masnya yang jauh dibelahan bumi bagian seberang.
"Ha-halo Mas... ".
"Halo".
Dheg!!!
Apa ini? Kenapa ada sesuatu yang seakan menggelitik tubuhku. Mulutku menjadi kaku. Tangan ku berkeringat. Aku benar benar grogi ketika mendengar suara Mas Dirga. Kenapa ini? Benar sih udah lama aku gak dengar suara Masku, tapi perasaan apa ini. Perasaan ini gak asing buatku, aku pernah merasakannya ketika berada didekat orang yang kurasa nyaman.
"Adel? ".
"E-e... Iya Mas... Adel baru pulang kampus. Ini baru aja mau masak nasi goreng".
Bohong lagi. Nasi aja belum dimasak.
"Nasi goreng? ".
"Iya Mas".
"Baru pulang kuliah? ".
"Iya mas".
"Hm... ".
Waduh... apaan nih kok rada serem.
"Kapan kamu masak nasinya? ".
Bingo. Mas jangan jangan kamu ada cctv ya dari Indonesia langsung kesini. Pantesan aja mas ngotot nyuruh aku tinggal di apartemen pilihannya.
Haha... Adel gak tau. Karena ucapannya itu seorang pria yang telah menahan rindu sekuat tenaga jauh disana berhasil dibuatnya baper bahkan sekarang wajah dirga lebih merah dari tomat. Cukup dengan satu kata berhasil membuat Dirga semakin klepek klepek sama Adel.
Lucu melihat mereka. Yang satu terlalu peka dengan perasaan sendiri dan tidak pandai mengekspresikannya sedangkan yang satu lagi masih gak nyadar akan perasaan yang kian berkembang didalam hatinya.
"Iya, jangan marahlah... kamu ini galak amat. Ya udah kamu masak aja dulu baru siap itu makan... dah ya Mas matiin".
"Eeh!!!! Mas jangan dimatiin dong!!! Mas ini aneh deh... Biarin aja telponnya hidup. Kan bisa sambil adel masak sambil kita ngobrol ".
"I-iya... ya udah Mas temenen. Kasian kamu pasti masih belum punyak teman ya disana... hahaha... ".
Deg!
*Temen?
Ada sih Mas. Tapi adel gak bisa cerita, adel gak mau bikin mas khawatir*.
"Hahaha... Mas tau aja sih, makanya sering sering nelpon adel, jangan cuman di chat doang ".
"Hahaha... maaf sayang. Mas kan udah bilang kalok mas banyak kerjaan".
"Egh!!! I-iya mas... ".
"Ya udah, kapan masaknya ini... ?".
"Eh.. iya ya Mas. Adel hampir aja lupa".
Aku meletakkan handphone di kantong bajuku. Dan mulai mengambil nasi instan yang tinggal dipanaskan di microwave. Kurang lebih 3 menitanlah.
"Del, kamu gak kesusahan kan disana? ".
Dheg!!
Mas kenapa suaramu begitu lembut. Tolong jangan terlalu mengkhawatirkan ku. Bisa bisa aku semakin kesepian disini.
"Enggak kok Mas".
Maaf mas, aku gak bisa ngomong yang sebenaranya.
"Orang-orang disini ramah semua kok Mas. Lagian aku juga udah sering latihan dirumah... ".
"...".
__ADS_1
"Mas, Kok diam? ".
"Ya udah kalok gitu... lanjut gih masaknya".
"Okey Mas".
Prang prang!!!
Oke sekarang aku masak selayaknya koki internasional yang udah profesional. Nasi yang tengah ku oseng oseng bertebaran didepan mataku sampai berserakan entah kemana mana. Selanjutnya aku menambahkan kecap, garam, penyedap atau masako. Dengan teliti dan takaran yang mudah mudahan pas aku memasukkan bumbunya kedalam wajan. Dan Ta-da, akhirnya nasi goreng spesial buatanku selesai.
"Gimana udah siap? ". Terdengar nada suara Mas dirga agak sedikit meledek.
Gimana gak mau ngejek coba. Mas dirga terus terusan nanyak keadaanku karena keributan yang kubuat saat memasak.
"Udah Mas... ini detik detik pencicipan rasanya".
Deg... deg...deg...
Hap!
Satu sendok besar yang dipenuhi nasi goreng buatanku masuk memenuhi rongga mulutku. Dan saat aku mengunyah untuk pertama kalinya...
BYAR!!!!
Bagai tersambar petir. Rasa asin dan pedas yang tidak karuan begitu menyiksa indera perasaku.
"Ohogh... ohohg!!!!".
"Adel?!!! ".
"Air... air....!!! ". Jeritku histeris sambil segera mengambil air mineral didalam kulkas.
Glek... glek... glek...
"Adel? Kamu kenapa? ".
"Hosh... E-e... itu mas... nasi gorengnya gak enak... huhuhu... ". Rengekku kepada Mas Dirga.
"HAHAHAHAHAHAHAHA..... ".
!!!!!
"Mas kok ketawa sih?!!! ".
"Hahaha... Maaf maaf, ya udah apa mas suruh aja bik siti kesana? ".
"Eh!!! enggak enggak!!! ".
"Adel bisa masak kok, tadi itu cuman percobaan doang... gini gini adel dulu sering bantuin Mama masak buat Papa".
"Hahaha... iya iya Nyonya besar. Cepet sana belajar masak, jangan sampai kamu makan yang instan mulu... ".
"Iya~~". Sahutku enteng.
"Kalok mas tau kamu makan instan lagi dan gak masak, mas langsung jemput kamu buat balik ke Indonesia ".
Penekanan itu terdengar amat jelas ditelingaku. Mas Dirga benar benar marah namun ia tidak terlalu memperlihatkan nya.
"Iya mas, nanti kalok ada apa apa, adel nanyak bik siti atau bik ina ya... ".
"Iya,... kalok gitu kamu istirahat dulu, jangan makan mie... Besok beli sarapan yang sehat".
"Iya Mas, good night".
"Good night... ".
Pip.
Obrolan kami selesai. Sedikit rasa sepi dihatiku terobati. Hari ini ada banyak hal baik yang terjadi begitupun hal buruk. Kak Dewa tak bisa lepas dari pikiranku. Aku takut hal buruk akan datang padaku dan membuat semua menjadi hancur.
Ada banyak pertanyaan didalam pikiranku saling sahut sahutan. Kenapa Kak Dewa ada disini? kenapa dia seakan berbeda? apa yabg harus kulakukan sekarang jika ia terus terusan datang padaku?
Sungguh, saat ini aku amat teramat bingung.
_____________
Hai readers...
jangan lupa ya di like, komen and klik favorit biar kalian gak ketinggalan kisah mereka berdua ini.
Nah author mau jawab sedikit permasalah diantara pembaca.
kalok adel itu manggil orang tuanya Mama sama papa. Kalo dirga ayah sama bunda. Jadi kalok misalnya mereka ngomong tentang orang tuanya ya pakek panggilan masing masing.
sekian, semoga gak pusing lagi bedainnya
heheheh...
__ADS_1
see youu🥰🥰😘😘