Cinta Bernoda Darah

Cinta Bernoda Darah
Pertengkaran Pertama 1


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu begitu cepat, kedai yang dulu terlihat ramai kini menjadi sepi setiap hari tak ada pengunjung sama sekali. Setiap hari Aslan hanya termenung meratapi kedai nya yang setiap hari selalu rugi. 


Kue-kue yang dia buat setiap hari harus selalu di buang di tempat sampah, setiap hari kedai itu harus tutup lebih awal dan buka lebih awal untuk memancing pelanggan kembali datang tapi nyata nya kedai itu tak menarik satu orang pun yang ada di sana.


Promosi selalu di lakukan bahkan memberikan kue gratis pun banyak yang menolak untuk mencobanya. Aslan putus asa tabungannya harus terkuras ketika setiap hari rugi yang mereka dapatkan bukan keuntungan yang mereka raih saat ini.


Aslan terpaku melihat nasibnya yang akan terancam tutup saat ini, semakin dia mempertahankan kedai maka semakin membuatnya rugi besar saat ini. Aslan menatap ke depan orang yang berlalu lalang di sana tak ada sedikitpun yang mencoba untuk masuk. Jangankan masuk liriknya saja sepertinya tidak.


" Sayang kamu baik baik saja?" Cevdav menatap suaminya yang terpaku termenung.


Aslan menghela nafasnya mencoba tersenyum meskipun sulit. " Sayang kau sudah makan?" 


" Aslan kau baik-baik saja?" Cevdav masih bertanya dengan hati hati. Dia tahu saat ini suaminya sangat terpuruk melihat kedai penghasilannya yang sepi tak ada keuntungan sedikit pun.


" Aku baik jangan khawatirkan aku…" Dia mencoba tersenyum meskipun Cevdav tahu bahwa senyum itu mungkin palsu.


Hati mana yang tak terluka jika melihat kedai tempat mereka mencari uang harus terpaksa ditutup karena sepi.


" Sayang apa ada yang salah dengan kedai kita ini? Aku rasa kemarin semua nya baik baik saja tapi sekarang secara tiba tiba tak ada pengunjung yang datang."


" Aku tak tahu Cev!" Terdengar suara yang begitu putus asa.


" Apa kamu membuat kesalahan pada kue yang kau buat?" Aslan langsung menatap tajam kearah istrinya saat itu.


" Maksudmu aku sengaja melakukan kesalahan yang membuat kedai ku akhirnya sepi seperti sekarang!" Nadanya langsung berubah.

__ADS_1


" Tidak! Bukan seperti itu maksud ku-"


" Lalu seperti apa?" Aslan langsung berdiri dan langsung masuk ke dalam kedainya dengan emosinya.


Cevdav menelan kalimat nya sendiri dia tak tahu harus bicara seperti apalagi. Dia tahu saat ini suaminya memang sedang terguncang tapi apa yang ditanyakan adalah hal yang wajar bahkan dia bertanya tak berniat untuk menuduh sang suami. 


Dia hanya melihat suaminya yang sedang berada di dalam kedai dengan beberapa orang yang ada di sana. Mereka sedang berbicara yang tak bisa didengar oleh Cevdav saat ini. Dia tahu hati suaminya saat ini terpukul tapi tak ada yang bisa dilakukan oleh dirinya.


" Aslan sepertinya kedai kita memang harus tutup! Kedai kecil itu kalah dengan restoran mahal mahal sekarang…" Malam ini Aslan dan sang Ibu nya berada di dalam rumah dengan membicarakan hal yang begitu penting.


" Jika kedai kita tutup kita tak bisa mencari sumber uang lagi Ibu."


" Tapi ini sudah berapa minggu tak membuahkan hasil apa yang kau lakukan saat ini. Promosi sudah kamu lakukan nak tapi tetap saja kedai kita sepi. Jika kita tak menutupnya segara tabunganmu akan menipis…" Ibu nya juga tampak putus asa.


" Aku akan mencari investor Bu! Jika perlu aku akan meminjam uang agar kedai kita tetap buka Bu."


" Jika kamu meminjam uang kita akan kesulitan mengembalikannya Aslan, kita sedang berada di titik yang tak baik sekarang, keuangan kita juga menipis. Jika kita tetap buka maka uang kita akan habis sia-sia…" Nasihat Ibu nya hanya membuat Aslan terdiam.


" Sayang, Ibu, kalian bisa memakai uang ku! Aku tak masalah jika uang ku juga dipakai untuk modal kedai kita…" Timpal Cevdav yang dari tadi mendengarkan apa yang dikatakan oleh kedua orang tersebut.


" Tidak perlu! Aku bisa mencari orang yang akan menanamkan modal nya untuk kedai kita…" Tolaknya dengan sinis.


" Aslan tak masalah jika uangku kau pakai dulu untuk modal usaha kita."


" Tapi aku yang masalah jika memakai uangmu…" Katanya dengan tegas.

__ADS_1


" Uangku juga uangmu Sayang! Dari pada kamu harus bersusah payah mencari orang untuk menanam modal lebih baik kau pakai dulu uang ku, aku sungguh tak masalah jika uangku kau pakai dulu…" Bujuknya dengan pelan.


" Apa yang dikatakan Cevdav benar Aslan, sebaiknya kamu menerima tawaran istrimu. Sebaiknya uang keluarga yang kamu pakai daripada harus meminjam uang kepada orang lain…" Sang Ibu memberikan komentar tentang apa yang saat ini sedang mereka debatkan.


" Tidak Ibu! Itu bukan uangku tapi uang Cevdav dari keluarganya."


" Milikku juga milikmu Aslan kenapa kau harus berkata seperti itu!" Cevdav tak menyangka suaminya masih bertahan dengan amarahnya yang dari tadi di kedai.


" Apa aku salah bicara Cev? Uang yang aku berikan tak akan sebanyak itu. Aku tahu bahwa yang akan kau berikan tak akan kecil tapi akan besar jadi aku tak yakin jika itu uang yang aku berikan padamu tapi itu uang yang diberikan keluarga mu…" Ujarnya dengan sinis bahkan Aslan tak menatap ke arah Cevdav saat ini.


" Aslan apa yang kau katakan nak?" Sang Ibu juga terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh putranya saat ini.


" Ibu apa yang aku katakan benar bukan? Aku tak mungkin bisa memberikan uang sebanyak itu, aku yakin dia memiliki uang yang cukup banyak untuk menutup kerugian kita tapi aku tak ingin menerima uang dari nya karena itu bukan prinsipku menerima uang dari wanita…" Dia menolaknya dengan tegas.


" Aslan aku bukan wanita lain aku istrimu jadi aku berhak membantumu jika kamu dalam kesulitan."


" Kau memang istriku tapi aku tak mau menerima uang sepersepun dari keluargamu itu. Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri tanpa meminta bantuan kepadamu atau kepada keluargamu itu. Aku ingin berdiri seperti sahabatmu yang bisa mandiri tanpa bantuan orang tuanya."


" Sahabat? Kenapa ucapanmu melebar kemana-mana?" Cevdav bingung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


" Aslan!" Panggil sang Ibu yang semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putranya.


" Ibu maafkan aku tapi aku tak akan mau menerima uang dari Cevdav meskipun hanya sedikit. Seharusnya aku yang memberikan modal kepada istriku bukan malah aku yang diberikan modal olehnya. Aku lebih baik mencari orang lain dibanding harga diriku dilukai…" Aslan segera pergi meninggalkan mereka berdua yang terpaku mendengar perkataan Aslan.


Apa aku salah ingin membantu suamiku yang saat ini dalam kesulitan? Kenapa sekarang dia malah marah kepadaku seperti itu. Melukai harga dirinya kenapa dia berkata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2