
Malam yang biasanya ceria kini terlihat mendung dan gelap gelita, tiada bintang yang menemani malam ini. Hembusan angin malam yang biasanya tak mampu menembus kulit pada akhirnya malam ini menusuk kulit hingga ke tulang.
______
Pov Cevdav
Aku terpaku mendengar perkataan yang dilontarkan oleh suamiku sendiri, aku hanya berpikir bahwa ini semua hanya kesalahpahaman tapi nyatanya sampai malam ini dia masih marah padaku.
Aku tak bermaksud menuduhnya aku hanya bertanya tapi ternyata pertanyaan ku mungkin menyinggung hati kecil suamiku. Aku tahu dia sedang dalam keadaan tak baik tapi aku juga sama hal nya dengan nya.
Semenjak kedai itu sepi dia sering marah tak jelas padaku seakan dia melampiaskan semuanya kepada ku. Padahal aku juga tak ingin membuat kedai milik suami ku sepi. Aku menatap dia yang melamun di sisi ranjang dan dia bersandar dengan pandangan yang sulit diartikan.
Aku menghela nafas mencoba untuk tetap sabar kali ini. Aku harus bersikap apa juga tak tahu, karena sikapku selalu dianggap salah oleh suamiku saat ini.
" Aslan!" Dia terkejut ketika aku menggenggam tangan nya dan dia menatapku dengan tatapan yang dingin.
Untuk pertama kalinya dia menatapku dengan pandangan yang dingin, apa salahku terlalu fatal hingga tak ada kata maaf bagiku. Atau kesalahan ku tak bisa diterima olehnya saat ini.
" Kau masih marah padaku?" Aku bertanya dengan pelan dan hati hati. Mungkin saat ini dia sedang sensitif dan aku harus menyadari hal itu.
" Tidak…" Dia menjawab singkat dan tak ingin melihat ke arahku lagi.
" Sayang aku minta maaf jika pertanyaan ku tadi mungkin menyinggungmu tapi aku tak bermaksud apapun. Aku hanya bertanya agar kita tahu kesalahan kita yang membuat kedai kita sepi hanya itu tak lebih dari apapun…" Aku menjelaskan nya agar dia tahu bahwa aku memang tak berniat menuduh nya atau bermaksud yang mungkin dia pikirkan saat ini.
__ADS_1
" Kau tak perlu minta maaf Sayang, apa yang kau katakan tadi memang benar. Mungkin aku yang membuat kesalahan hingga kedai itu sepi…" Aku tahu itu bukan kata kata yang tulus darinya dia seakan menyindirku.
" Aku tahu kau bukan laki laki yang ceroboh! Aku minta maaf jika itu menyinggung hatimu…" Aku berusaha untuk tetap berada di bawahnya.
Dia tak berkata apa-apa lagi selain hanya diam dengan melamun lagi. " Aslan aku tak bermaksud untuk menyinggungmu, aku tak masalah jika kamu memakai uangku agar kedai kita tak tutup."
" Tidak perlu kau simpan saja uangmu itu, kau bisa gunakan untuk keperluanmu…" Dia tetap menolak nya meskipun kali ini hanya kita berdua di dalam kamar.
" Melihat kau maju dan sukses di kedai mu juga itu keperluan ku Sayang. Aku sungguh tak masalah kau memakainya dulu."
" Aku sudah katakan tidak maka tidak!" Aku diam karena nadanya tinggi dengan membentak. Genggaman tangan itu pun terlepas dengan kasar. " Kenapa kau memaksa sekali aku menggunakan uang itu heh? Apa kau ingin menjatuhkan aku di depan keluargamu."
Aku lagi lagi terpaku mendengar apa yang dituduhkan kepadaku. " Kenapa kau malah berpikir seperti itu Aslan? Aku tak ada niat sedikitpun untuk menjatuhkan mu di depan keluargaku…" Tentu saja aku mengelak karena aku memang ingin sekali membantu suamiku bukan malah ingin menjatuhkan nya saat ini.
" Aku hanya ingin membantu suamiku hanya itu! Apa aku salah membantu suamiku…" Aku masih terus berusaha untuk menyakinkan nya bahwa aku memang ingin membantunya bukan malah ingin menjatuhkan nya.
" Tapi bantuanmu itu malah akan membuat harga diriku jatuh. Orang kaya seperti kalian tak akan mengerti dengan harga diri yang diredakan."
" Aslan apa yang kau katakan? Dari tadi pembicaraan mu melebar kemana-mana dan kali ini kata kata mu sudah keterlaluan, kau juga secara tak langsung menghinaku…" Aku terpancing ya aku memang terpancing emosi saat ini.
" Disini aku hanya ingin menawarkan bantuan agar kau tak memiliki beban dan meringankan tanggung jawabmu. Tapi lihatlah kau dari tadi seakan tak melihat sisi positif yang aku tawarkan, kau hanya melihat bahwa kau bisa sendiri melakukannya dan tak menganggapku istrimu yang ingin membantumu…" Aku berkata dengan nada yang tinggi.
Aku lelah dari tadi pagi seakan apa yang aku lakukan salah dimatanya, apa yang ingin aku lakukan untuk membantunya malah di lihat sisi jeleknya.
__ADS_1
" Aku memang orang kaya tapi aku masih memiliki harga diri yang tinggi, aku memang terlahir dari orang kaya Aslan tapi apa aku bisa memilih aku dilahirkan oleh orang miskin atau tidak. Semuanya sama saja tak ada bedanya, kaya miskin sama saja bagiku…" Aku hanya menatap datar ke arah Aslan yang saat ini tengah diam membisu. Entah dia menyesal dengan perkataan ku atau tidak aku tak tahu.
" Aku hanya tak ingin keluargamu membedakan aku dengan Ke-"
" Cukup Aslan! Kau dari tadi membahas keluarga ku yang membedakan kau dengan Kemal. Padahal tak ada yang berkata seperti itu, apa yang kau pikirkan tentang keluarga ku tak masuk akal. Bahkan Kemal rela melepaskan aku demi kita menikah dan dia yang berhasil menyakinkan keluarga ku tapi lihatlah kau malah ingin bersaing dengan nya. Ada apa denganmu sekarang kenapa sekarang kamu malah seperti ini."
Sekarang aku tak mengerti dengan apa yang dia pikirkan dia ingin bersaing dengan Kemal orang yang membuat aku dan Aslan menikah. Apa dia pikir Kemal adalah ancaman terbesarnya padahal selama ini Kemal tak pernah berniat menemui ku atau menggoda ku. Dia yang berjanji akan melepaskan ku dan itu sudah dibuktikan olehnya.
" Jadi kau membela Kemal saat ini?" Dia bangun dari duduknya menatap ku dengan amarahnya.
" Aku bukan membela Kemal kenapa kau menganggap Kemal adalah ancaman bagimu. Selama kita menikah dia tak sedikit pun mendekatiku atau mencoba mengambil hati ku. Aku hanya mengingatkanmu bahwa Kemal lah orang yang berjasa di pernikahan kita dia ora-"
" Aku tahu dia orang yang berhasil membujuk kedua orang tuamu bukan? Dia yang selalu menolong kita, benar bukan? Tapi apa kau tahu karena semua keluargamu terutama Papa mu selalu membandingkan aku dengan nya? Apa kau tahu bahwa Papa mu membanggakan dia depan ku secara langsung."
" Apa yang kau katakan sebenarnya Aslan? Kau hanya memprovokasi agar kau tak mau disalahkan dalam hal ini bukan. Aku hanya ingin membantumu tapi kau malah melebar kemana mana. Jika niat ku membantu suamiku kau anggap salah aku minta maaf…" Aku kesal karena dia tak melihat sisi baik ku.
" Aku berkata apa yang aku-"
" Aku tak ingin berdebat dengan mu, aku lelah aku ingin istirahat…" aku langsung naik ke kasur dan merebahkan tubuhku aku lelah jika harus berdebat dengan nya.
Malam ini malam yang begitu kelabu, malam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan kami saling tidur tanpa berada di dalam dekapan hangatnya. Hatiku terluka karena emosinya dan aku yang sudah terpancing memilih diam seribu bahasa sekarang.
__ADS_1