
Emosi menghancurkan semuanya dan itu membuat hari-hari kami seperti orang asing. Hari yang indah kini tertutup oleh kabut tebal yang entah sampai kapan kabut ini akan menghilang dari keluarga kami.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pov Aslan
Aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku akhir-akhir ini aku mudah marah dan tersinggung. Sejak kejadian malam itu di mana aku bertengkar dengan Cevdav kami bersikap seolah kami orang asing. Kami satu kamar tapi tak ada pembicaraan dia menghindariku beberapa hari ini.
" Aslan kau dan Cevdav bertengkar nak?" Aku menghela nafas ketika Ibu ku bertanya ketika kami berdua sedang berada di dapur.
" Apa terlihat Bu? Maaf jika Ibu mengkhawatirkan kami. Tapi dalam rumah tangga wajar bukan ketika sepasang suami istri saling bertengkar!"
" Apa yang kau katakan benar, setiap rumah tangga pasti akan mengalami badai tinggal kita menyikapinya seperti apa. Tapi jika kalian saling diam dan seperti orang asing seperti sekarang maka itu juga tak bagus untuk hubungan kalian berdua Nak. Di sini Cevdav hanya punya kita tapi kau malah mengabaikannya dia akan merasa sedih tak baik membuat istrimu bersedih seperti itu."
Aku terdiam mendengarkan Ibu berkata, aku sadar apa yang dikatakan Ibu benar. Cevdav berada di sini untuk ku tapi aku malah mendiamkan dia sampai sekarang. Aku baru ingat bahwa ini sudah tiga hari kami saling diam. Aku merenung ketika selesai bicara dengan Ibu.
Sekarang aku sadar bahwa aku memang salah, perkataanku terlalu kasar dan itu mungkin menyinggung melukai hati Istriku. Aku mengusap wajahku dengan kasar menatap cuaca malam yang cerah bertaburan bintang.
" Sayang aku ingin kita-"
" Tak ada yang perlu kita bicarakan Aslan! Aku lelah aku ingin istirahat…" Dia menghindariku.
Aku sadar dia begitu terluka karena aku memang sangat keterlaluan waktu itu. Aku sadar seharusnya aku tak membentaknya atau meninggikan suara ku, aku salah.
__ADS_1
" Sebentar saja aku ingin kita bicara meluruskan masalah kita…" Aku membujuknya agar dia mau duduk bersama untuk meluruskan kesalahpahaman ini.
Aku melihatnya membuang nafas tapi dia juga tak menolak. " Katakan ada apa?"
" Aku ingin meminta maaf! Aku sadar aku salah aku sudah melukaimu dengan membentak mu dan berkata yang tidak-tidak tentang keluargamu. Aku sungguh minta maaf…" Aku menatapnya dengan dia yang tak ingin menatapku.
Mungkin hatinya masih terluka dan itu membuatku begitu sakit melihat sosok istri yang tak ingin melihat aku sama sekali. Tapi aku sadar dia marah seperti ini karena memang aku yang memulai kesalahan ini dari awal.
" Dari kemarin bahkan tiga hari ini kau hanya diam dan tak pernah menganggapku ada, sekarang kenapa tiba tiba kau berubah pikiran untuk bicara dan meminta maaf? Apa kau sadar bahwa kau salah sekarang?"
" Ibu yang menasehati ku dan apa yang Ibu katakan benar aku memang salah. Seharusnya aku tak membentak kamu…" Dia tak menjawab pertanyaanku tapi aku melihatnya tersenyum sinis.
" Jadi Ibu yang bicara dengan mu lalu kau mengakui kesalahanmu?" Dia tersenyum kecut. " Jika Ibumu tak menasehatimu maka kau tak akan merenungkan kesalahanmu?"
" Aku hanya ingin membantumu tapi sayangnya kau malah berkata yang tidak-tidak tentang keluarga ku dan kau malah berkata yang bukan-bukan. Aku berharap kau sadar atas kesalahanmu sendiri bukan disadarkan oleh Ibumu…" Aku tak bisa berkata apa apa lagi. Dia kecewa dan aku sangat sadar dia begitu kecewa dengan ku.
" Aku minta maaf Sayang…" Aku mencium punggung tangannya.
" Aku akan memaafkanmu tapi kau harus menerima tawaran ku, pakailah uangku dulu untuk melanjutkan kedai kita…" Lagi lagi yang dibahas membuat ku menghela nafas. " Kau tak mau lagi?"
" Sayang bukannya aku tak ingin menerima bantuanmu! Aku senang kau ingin membantuku tapi aku tak pantas menerima uang itu. Modal yang aku ajukan mungkin besar-"
" Aku memiliki uang yang cukup untuk kamu memulai membuka kedai itu seperti awal lagi Aslan. Aku-"
" Aku tahu kau pasti memiliki uang sebanyak yang kau katakan barusan tapi maaf aku tak bisa menerimanya aku tak ingin keluargamu menganggap aku memanfaatkanmu…" Aku menolaknya karena aku sungguh tak ingin menerima bantuannya.
__ADS_1
Hinaan Papa mertua ku dulu masih terdengar jelas jika aku menerima nya apa yang akan aku terima lagi atas hinaan tersebut. Harga diriku akan hancur ketika dia tahu bahwa aku menerima uang dari istriku untuk membangun usaha ku yang saat ini hampir tutup.
" Aslan tak ada yang menganggap seperti itu. Bahkan Papa pernah menawari mu untuk membuka restoran kue yang kau inginkan jadi mereka akan menyambut senang jika mereka tahu bahwa kau menerima tawaran itu atau aku memberikan modal itu…" Dia menyakinkan ku sekali lagi.
" Tidak! Sekali aku berkata tidak maka tidak. Aku tak butuh bantuan siapapun untuk membangun kedai ku yang hampir bangkrut itu. Aku akan berusaha sendiri menjadi orang untuk menyokong semuanya…" Aku berdiri aku, kenapa dia tak mau mengerti apa yang aku ucapkan.
" Kau tak perlu repot mencarinya Sayang, biarkan aku yang menyokong nya. Jika kamu tak ingin aku memberikan cuma-cuma maka jadikan uang itu adalah pinjaman yang harus kau kembalikan setelah semuanya sukses."
" Tidak! Dalam bentuk apapun aku tak ingin menerima nya. Aku tak ingin melibatkan uang mu atau uang keluargamu dalam bisnis ku. Aku ingin mereka tahu bahwa aku juga bisa berdiri di atas kaki ku agar mereka bisa membanggakan diriku seperti dia membanggakan Kemal di depan rekan-rekan nya."
" Kemal.. Kemal.. Kemal…" Dia berdiri dengan mengulangi nama itu. " Kenapa sekarang kau merasa tersaingi dengan Kemal? Bahkan dia tak pernah sedikit pun merasa tersaingi ketika aku memilihmu."
Aku tersenyum getir ketika dia harus berulang kali membela nya. Laki laki mantan tunangannya yang disukai oleh keluarganya sedangkan aku laki laki yang dibenci oleh mereka. Mungkin benar aku menikah putrinya tapi restu mereka hanya terpaksa.
" Karena keluargamu tak pernah menganggapku ada! Bahkan yang selalu dianggap menantunya adalah Kemal bukan aku. Dia merestui kita karena terpaksa karena Kemal yang meminta mereka untuk merestui kita menikah."
" Aslan aku tak habis pikir dengan apa yang kau katakan barusan."
" Buka matamu dan lihatlah memang itu yang terjadi. Mereka tak pernah menganggapku ada, mereka tak pernah menganggap aku menantunya. Yang mereka puja hanya Kemal, Kemal dan Kemal apa kau tak sadar itu. Aku hanya orang asing yang secara tiba-tiba merebut Putrinya waktu itu."
" Kau…"
" Atau jangan-jangan yang membuat sepi kedai ku adalah salah satu dari mereka? Mereka yang membuat orang orang itu tak mau mampir ke tempat ku."
" Cukup Aslan!" Aku diam ketika dia membentakku. " Kali ini kau sudah keterlaluan…" Cevdav pergi dari kamar dan aku hanya melihatnya dengan rasa penyesalan telah mengatakan barusan.
__ADS_1