Cinta Bernoda Darah

Cinta Bernoda Darah
Hawa Dingin 1


__ADS_3

Pov Author 


Hari semakin mendung tiada kata yang pantas menggambar perasaan kedua insan yang saling diam seribu bahasa. Mereka seperti orang asing yang tak ingin saling bicara, mereka seperti orang yang sedang bermusuhan.


Meskipun hati mereka saat ini sedang sama sama terluka oleh keadaan tapi mereka sama sama mempertahankan ego mereka yang tak ingin saling menyapa satu sama lain.


Aslan memandang istrinya dengan tatapan rindu tapi setiap dia bicara nyatanya selalu gagal seperti malam kemarin, dia yang ingin memperbaiki masalah dengan sang istri malah gagal tak karuan mereka malah bertengkar hebat. Aslan hanya diam dia tak ingin membuka suaranya sedikit pun.


Pagi yang selalu penuh dengan canda tawa kini menjadi dingin, suasana rumah sederhana itu menjadi panas karena sang penghuni hanya diam dan tak saling berbicara. Cevdav yang tak ingin sama sekali bicara hanya diam, karena setiap dia bicara akan percuma mereka akan hanya bertengkar dan bertengkar.


" Kalian masih bertengkar?" Sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu nya membuat pasangan itu hanya diam.


" Aslan kau masih tak menyadari kesalahanmu?" Sambungnya dengan menatap Putranya dengan rasa kecewa.


Dia yang mengatakan bahwa wanita yang selalu dengan kemewahan sekarang duduk di sana bertahan dengan kondisi yang seperti ini bukanlah hal yang mudah. Tapi sekarang mereka malah diam dan itu membuat semuanya akan merasa sedih.


" Cevdav maafkan Putra Ibu Nak!" 


" Ibu kami tak bertengkar, hanya saja tak ada yang perlu aku dan Aslan bicara. Kami baik-baik saja Ibu percayalah…" Cevdav tersenyum meskipun itu palsu.


" Benar apa yang dikatakan Cevdav Bu, kami tak bertengkar hanya kami sedang tak ada yang dibicarakan…" Aslan membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya.


" Kalian berdua berbohong bukan?" Sang Ibu menatap curiga kepada kedua orang itu. Karena mereka tak seperti biasanya.


" Tidak Ibu! Aslan sudah meminta maaf kepada ku semalam dan kami sudah baik-baik saja."


" Sayang aku berangkat dulu!" Aslan mencoba melarikan diri dari pertanyaan Ibu nya sendiri saat ini.


" Baiklah hati-hati…" Aslan mencium kening Cevdav agar sang Ibu percaya bahwa mereka baik baik saja. Meskipun sebenarnya mereka sedang tak baik saat ini.

__ADS_1


" Sayang bukankah kau ingin pergi kerumah Papa mu, maaf aku tak bisa mengantarmu…" Cevdav diam karena dia tak berencana datang ke sana.


" Ah iya.. tak masalah aku bisa pergu sendiri…" Cevdav mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya.


" Baiklah kau juga harus hati-hati."


Hubungan yang dari dulu harmonis penuh dengan cinta dan kehangatan kini menjadi dingin. Kehangatan itu sudah tak ada lagi hanya tatapan kecewa yang mereka saling pancarkan satu sama lain.


" Cevdav."


" Ibu kami baik-baik saja! Percayalah kami baik-baik saja. Memang kemarin kami sempat berdebat dan sekarang dia sudah menyadari kesalahannya dan sudah meminta maaf kepada ku…" Elaknya dengan cepat. Cevdav tak ingin mertua nya tahu bahwa mereka sedang dalam masalah saat ini.


" Sayang jangan tutupi masalah apapun kepada Ibu. Apa yang terjadi dengan kalian memang murni kesalahan dari Aslan."


" Tak apa Ibu! Kami sudah berbaikan. Aslan hanya terbawa emosi dia terlalu banyak pikiran dan mungkin ucapanku juga mungkin menyakiti hatinya jadi dia marah kepadaku waktu itu. Tapi sekarang kami sudah baikan jadi Ibu jangan khawatir…" Cevdav tersenyum meskipun dia terpaksa tersenyum.


" Baiklah…" Kedua wanita itu saling tersenyum dengan arti yang berbeda. 


\=\=\=\=


" Apa perkembangannya?" 


" Semuanya beres Bos. Tempatnya sepi karena aku mengatakan kepada orang yang lewat sana bahwa kedai nya kotor dan kami juga sudah membagikan uang kepada mereka agar menyebarkan berita ini…" Orang yang berbadan tegap dengan topi yang menutupi wajahnya mengatakan apa yang terjadi.


" Bagus. Lalu apa masih ada orang yang masuk ke sana?"


" Tidak ada Bos. Anda tenang saja kami sedang mengintainya dari kejauhan, kami pastikan kedai ini akan segera tutup."


Orang itu tersenyum senang mendengar rencananya untuk menutup kedai itu akhirnya akan berhasil juga. Dia tak menyangka bahwa rencananya akan segera berhasil saat ini.

__ADS_1


" Bagus, awasi terus jangan biarkan dia membuka kedai lagi, tutup segera kedai kecil itu agar mereka tak mendapatkan sumber keuangan sedikit pun…" Perintahnya.


" Biak Bos!" 


Dia tersenyum penuh kemenangan saat ini, rencana nya hanya satu langkah lagi akan berhasil. " Kau tak akan bisa berbuat apa-apa lagi setelah ini Aslan. Kesombonganmu yang akan menghancurkan milikmu sendiri…" Gumamnya dengan senang.


Kemenangan sepertinya ada di depan mata nya saat ini, dan itu membuat orang itu tertawa senang. Hari hari yang gelap kini berubah akan menjadi terang setelah rencananya akan berhasil.


" Aku tak sabar melihat kehancuranmu…" Katanya dengan tertawa senang. 


Sedangkan Cevdav entah pergi kemana langkah kakinya berjalan menyusuri jalanan dia tak tahu harus kemana, dia bimbang dia tak mungkin pergi ke rumah orang tuanya. Jika dia pergi kesana maka mereka akan tahu bahwa hatinya sedang terluka dan kecewa.


Langkahnya terus berjalan hingga dia menghentikan sebuah taksi. Dia hanya diam dengan menatap keluar jendela, dia memikirkan masalahnya yang semakin kesini malah membuatnya jauh dari sang suami. Matanya kini menangkap sosok yang dikenal dia masuk kedalam sebuah hotel. Jantungnya berdetak tak karuan tapi dia juga tak yakin dengan apa yang dilihat olehnya.


Mobil itu kini berhenti di sebuah perusahan besar di menatap dengan tak yakin apa dia harus turun atau tidak. Dia membuang nafasnya dengan kasar lalu dia menyakinkan hatinya untuk turun, dia butuh teman untuk menceritakan semuanya dan disinilah dia saat ini.


Cevdav yang sudah terbiasa datang kemari tak perlu bertanya, dia menekan tombol lift menuju ke sebuah ruangan dimana sahabatnya pasti berada.


Apa tadi benar Aslan? Tapi kenapa dia masuk ke sebuah hotel? Apa ada yang ditemui di sana. 


Hatinya bergejolak tak karuan saat ini, rasa penasaran itu membuat hatinya bergemuruh tak karuan saat ini. Tanda tanya besar seakan membuatnya bingung dan dia juga tak yakin jika itu suaminya. Dia keluar dengan pandangan yang kosong ruangan di sana sepi tak ada sang asisten ataupun sang sekretaris nya.


" Apa mungkin dia rapat?" Tanyanya dengan melangkah.


Dia mencari semua orang yang ada di sana tapi tak ada siapapun. Dia menghela nafasnya sebelum dia membuka pintu ruangan sahabatnya yang tertutup tersebut.


Ceklek!! 


Cevdav yang tanpa permisi kini masuk membuat orang dua yang berada di dalam terkejut bukan main.

__ADS_1


" Maaf aku tak tahu, aku mengganggu. Aku sebaiknya pergi."


" Cevdav! Hei kau mau kemana?" Sahabatnya itu kini malah mengejar Cevdav yang akan pergi.


__ADS_2