
Cinta memang tak harus memiliki, melihatnya bahagia juga kebahagian bagi ku. Tapi aku ingin memiliki cinta itu meskipun itu tak mungkin.
\=\=\=\=\=\=
Pov Kemal
Aku diam seribu bahasa bagaikan patung tak bersuara di sana. Bahkan untuk menatap sahabat yang ada di depan ku saja aku enggan. Sekarang aku sadar apa yang dikatakan tadi adalah kebenaran, aku seharusnya tak ikut campur dalam urusan keluarga mereka.
Aku sekarang menyesal telah ikut campur, aku menyesal berada di sini. Jika tadi aku tak ada di sini mungkin situasi nya tak akan seperti ini. Kata kata Cevdav tadi masih terdengar jelas di telingaku.
Kau siapa? Kau tak berhak ikut campur kau hanya orang luar yang tak berhak ikut campur.
Perkataannya sungguh menusuk ke hatiku tepat ke jantung ku. Dadaku terasa sesak saat ini, hatiku begitu sakit mendengar kata kata itu yang keluar secara langsung dari mulut wanita itu. Wanita yang aku cintai tapi kami berlindung dengan kata 'sahabat' tapi sepertinya kata kata itu tak membuat dia tahu bahwa aku melakukan itu demi dirinya.
Aku menghela nafas berat menatap ke arah nya sebentar. " Pa.. Ma.. aku sebaiknya pergi dulu.. aku ada urusan yang harus aku kerjakan!" Aku lebih baik menghindar untuk sekarang.
" Kemal terima kasih karena sudah membawa Cevdav kesini…" Aku hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh laki laki tua yang sudah aku sebagai Papa ku sendiri.
" Itu sudah tugas ku membawa sahabat ku pulang jika ada masalah, tapi sepertinya Cevdav tak menerima hal itu Pa. Tak masalah…" Aku melirik nya dengan ekor mata ku. Aku tahu dia juga menatapku tapi aku mencoba untuk tak melihat ke arahnya saat ini.
" Kemal-"
__ADS_1
" Tak apa Ma.. aku harus pergi ada pekerjaan yang harus aku kerjakan…" Aku langsung memotong apa yang ingin dikatakan aku tak peduli jika saat ini dia tengah menatapku.
Aku langsung melangkah dengan cepat meninggal semuanya di sana, aku tak ingin melihat kebelakang karena ini terlalu sakit untuk aku ingat.
" Kemal tunggu… Kemal… hentikan langkahmu…" Aku yang mendengar ada yang memanggil ku dan yang mengejarku aku tetap terus melangkah karena aku tahu siapa itu.
" Kemal tunggu aku.. kita harus bicara…" Aku tak peduli aku tetap berjalan meskipun Cevdav terus mengejarku.
" Kemal…" Dia berhasil menangkap pergelangan tangan ku hingga membuat ku berhenti.
Aku tetap diam meskipun aku sudah berhenti, ras kecewa dan terluka di katakan bahwa aku bukan siapa-siapa membuat ku begitu sakit.
" Kemal maafkan aku.. aku tahu aku salah tapi aku tak bermaksud berkata seperti itu…" Mata kami bertatapan tapi aku tetap diam. Dia yang sudah berdiri di depan ku membuat ku gelisah.
Matanya berkaca kaca membuat hati ini bagaikan hancur berkeping-keping. Melihatnya sedih menangis karena orang lain saja membuat ku sakit sekarang dia menangis karenaku, sebenarnya aku tak berniat membuatnya menangis tapi kata-katanya sungguh menyinggung ku.
" Tak ada yang perlu kita bicarakan Cev dan tak ada yang perlu aku maafkan atau kau meminta maaf apa yang kau katakan tadi memang benar. Seharusnya aku tak ikut campur aku hanya orang asing dan orang lain di keluarga kalian."
" Tidak! Jangan bicara seperti itu. Kamu adalah sahabat ku yang sudah aku anggap kakak sendiri, jadi jangan bicara seperti itu. Aku hanya merasa terlalu emosi…" Kali ini air matanya mengalir deras bagaikan hujan yang begitu lebat.
Dia menangis karena ku atau menangis karena masalahnya bersama sang suaminya. " Cevdav hentikan air matamu, jangan menangis lagi. Please…" Aku menyerah aku juga gusar melihat air kesedihan itu.
" Kau tak ingin memaafkan ku.. hiks.. hiks…" Aku tak tahan melihatnya menangis, aku kalah dan aku tak akan pernah menang jika melihat air mata kesedihan ini.
__ADS_1
Aku memeluknya dengan perasaan yang kacau, dia menangis dalam pelukanku. Tubuhnya bergetar aku tahu dia sedih, masalahnya terlalu banyak. Aku mengelus punggungnya agar dia bisa lebih tenang.
" Sudah please jangan menangis, aku memaafkanmu…" Nyatanya aku tetap kalah aku tak bisa melawan hatiku yang terluka. Aku sakit melihat air mata kesedihannya. " Jangan jadikan aku sahabat yang paling brengse* membiarkan mu menangis seperti ini."
" Kau memaafkan ku bukan? Kau tak akan menjauhi ku?"
" Tidak! Aku tidak akan melakukannya. Seorang kakak tak mungkin bisa menjauhi adiknya…" Aku menggunakan kata 'kakak beradik untuk tetap berada disini. Meskipun hatiku tetap ingin lebih dari sekedar itu.
" Terima kasih!" Dia memeluk dengan erat seakan kami memang kakak beradik yang sekarang memberikan kekuatan penuh ketika salah satu dari kami merasakan kesedihan.
Aku sudah sepakat untuk melepaskannya, merelakan dia bahagia dengan laki laki lain. Bahkan aku sudah berkompromi dengan hati ku. Tapi nyatanya sekarang aku masih memikirkan nya masih mengharapkan nya untuk menjadi milikku meskipun itu mustahil.
Cinta memang terkadang butuh pengorbanan butuh kesiapan mental untuk melepaskannya tapi apalah daya ku jika hati ini masih terpaku dengan satu nama, masih mencintai wanita yang sama dari dulu. Bersembunyi dari kata 'sahabat' sebenarnya menyakitkan karena dia tak pernah tahu apa yang aku rasakan.
Tuhan kenapa engkau terlalu kejam kepadaku, dari dulu engkau selalu tahu bahwa aku sangat mencintainya, menyayanginya lebih dari apapun. Kemarin seakan semua harapanku engkau kabulkan, membiarkan hati ini berlabuh kepadanya. Setelah engkau melambungkan hati ku sekarang engkau menjatuhkan nya hingga ke dasar.
Hanya engkau yang bisa membolak-balikan perasaan ini, hanya engkau yang bisa meremukan hati ini dengan takdir dan aku tak bisa berbuat apa apa ketika takdir telah berkata, ketika Tuhan tak menyatukan kami dengan ikatan cinta.
" Aku melepaskan nya tapi aku masih berharap cintanya, apa aku egois jika aku masih berharap akan cintanya…" Aku tahu cintanya tak kan untuk ku, aku sadar itu tak akan pernah terjadi.
Aku berpikir bahwa jika aku melihatnya bahagia maka aku akan bahagia tapi tidak, melihat dia bahagia dengan laki laki lain malah membuat hatiku hancur, melihatnya tersenyum untuk laki laki lain membuat dunia ku seakan runtuh seketika. Tapi melihatnya tersakiti oleh laki laki lain malah membuat ku tambah hancur. Air matanya adalah kelemahan ku, air mata nya adalah sesak untuk ku.
Tuhan apa aku salah jika aku berharap bahwa dia tetap menjadi milikku, entah sekarang ataupun besok. Aku selalu berharap bahwa engkau tetap menyatukan kami dalam ikatan cinta meskipun aku sendiri tak yakin dengan takdir yang akan kembali menyatukan kami berdua.
__ADS_1